Dari kolega

Suratkabar Harian Surabaya Post, 4 Juli 1995

KANO KECIL ASHADI SIREGAR

Oleh Masmimar Mangiang

Kemarin, 3 Juli, Drs Ashadi Siregar, genap 50 tahun. Tokoh pendidik jurnalistik dan pengamat pers yang kritis, sekaligus dikenal sebagai novelis Cintaku di Kampus Biru ini, di hari ulang tahunnya justru “menghilang” mengikuti seminar sehari di salah satu universitas di Yogyakarta. Ia memang tak pernah menganggap hari ulang tahunnya sebagai sesuatu yang istimewa. Berikut ini sosok Ashadi Siregar digambarkan oleh Masmimar Mangiang – wartawan yang kini Pemimpin Redaksi Harian Ekonomi Neraca, juga staf pengajar F1SIP UI. (Redaksi)

TAKHAYUL atau bukan, percaya atau tidak itu, bukanlah soal. Yang terjadi, angka 13 pernah membawa sial bagi Ashadi Siregar. Mingguan Sendi yang dia terbitkan bersama beberapa aktivis pers mahasiswa di Yogyakarta pada 1971 silam, ditutup penguasa setelah 13 kali terbit. Edisi nomor 13 itu membawa Bung Ashadi, Pemimpin Redaksi Sendi, ke Pengadil-an Negeri Yogyakarta.

Adalah editorial tentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang menjadi pencetus perka­ra ini. Di sidang pengadilan diperta­nyakan, siapa penulis tajuk tersebut, Ashadi dengan rambut gondrong sepundak pada masa itu, mempergunakan haknya untuk tidak menjawab dan mengatakan, itu menjadi tanggungjawab dia sebagai pemimpin redaksi. Manakala pemeriksaan selesai, semuanya berlalu dan ia tinggal sebagai catatan sejarah. Selain dari pelarangan terbit untuk Sendi, vonis bagi Ashadi adalah hukum-an percoban satu tahun penjara.

Vonis ini memang tak pernah membawa Ashadi ke bui. Tapi kasus Sendi tcrcatat sebagai kasus pembredelan pers yang pertama yang dilakukan Orde Baru. Ironisnya, ia terjadi pada masa angin kebebasan pers mulai a­gak berembus setelah mengalami ma­sa sulit pada masa Orla. Sendi mati sekitar tiga tahun setelah beberapa surat kabar yang diberangus Orla rnendapatban hak hidupnya kembali.

Mingguan ini dibredel di masa pers Indonesia baru mulai sedikit agak leluasa berbicara tentang restrukturi­sasi politik dan penyelenggaraan pe­milihan umum, korupsi serta penyalahgunaan kekuasaan. Hanya saja pa­da masa seperti itu pula pembelaan terhadap Sendi yang dimatikan ini, sedikit sekali diperdengarkan.

Proses Degradasi

Entah karena kasus Sendi atau bukan, entah karena pengadilan itu atau tidak – itu bukanlah soal – berbagai aspek dalam peri-kehidupan pers dan profesi kewartawanan bagi Ashadi masuk di tempat yang paling banyak diperhatikan dalam pemikirannya dan menjadi aktivitas yang cukup banyak dia kerjakan dalam mengisi ha­ri-harinya kemudian.

Kasus Sendi adalah kasus yang timbul hampir seperempat abad yang silam. Kasus ini adalah kasus penca­butan hak hidup institusi pers. Untuk hal mendapatkan hak hidup atau ke­hilangan hak hidup, dalam rentang waktu dari kasus Sendi hingga hari ini, pers Indonesia tidak pernah men­catat adanya kemajuan.

Walau ada surprise yang agak “menghibur” yang diberikan PTUN Jakarta dengan memenangkan guga­tan karyawan majalah Tempo terha­dap Menteri Penerangan – atas pembatalan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) Tempo – soal ini belum membuahkan kegembiraan. Ia belum selesai, karena masih harus menunggu proses peradilan selanjutnya.

Riwayat macam apakah riwayat kebebasan pers di Indonesia? Jawab­annya sudah sangat jelas bagi banyak orang. Para wartawan sangat paham dan punya pengalaman yang tak sedikit tentang imbauan langsung dan imbauan via telepon untuk berita (kenyataan sosial) yang tak boleh diberitakan. Para penerbit tentu punya pula catatan, berapa penerbitan pers yang mati karena bangkrut, dan berapa lagi yang lenyap karena dilarang terbit. Para pembaca pun tak keku­rangan pengalaman dalam hal kehilangan media yang disukainya sewak­tu-waktu.

Ashadi pernah menulis, “Dari tahun ke tahun sebenarnya terjadi pro­ses degradasi institusi pers. Jika pada masa awal republik, kemitraan pers dengan birokrasi dimulai dari hubungan antar individu sesamanya, ma­kin lama hubungan yang berlangsung semata-mata bersifat institusional. Berbagai macam regulasi dan ’treat­ment’ atas institusi pers menjadikan kemitraan bersifat tidak seimbang”.

Pers Indonesia mungkin memang ditakdirkan untuk selalu menghadapi berbagai masalah yang tak dapat di­katakan ringan. Belum setahun pembatalan SIUPP Tempo, DeTik, dan E­ditor berlalu sebagai persoalan yang mewakili masalah kebebasan pers, tiba-tiba suplai dan harga kertas menjadi masalah yang cukup serius bagi bisnis penerbitan. Ia membuat daftar persoalan kian panjang.

Makin panjang daftar persoalan ini, makin panjang pula catatan yang menggugat pemikiran orang seperti Asha­di. Kepeduliannya un­tuk persoal­an pers dan kewartawa­nan senan­tiasa hidup dan muncul sebagai tema berbagai tulisannya dan topik dalam ber­bagai cera­mah yang dia berikan.

Dia mengin­gatkan orang ketika menyaksi-kan nilai-­nilai mana­jemen dalam bisnis pers industri mu­lai menjadi dominan di atas nilai-nilai jurnalisme. Dia terganggu melihat warta-wan yang kemampuan teknis jurnalismenya sangat ala kadarnya dalam memeriksa persoal-an dan melayani masyarakatnya dengan infor-masi yang bernilai. Dia risau ketika menyaksi-kan mulai terganggunya moral profesi wartawan.

Hanya sedikit orang, baik sarjana ilmu komunikasi maupun wartawan itu sendiri, yang memberikan kepedu­lian pada masalah ini sampai pada taraf seperti itu. Di antara yang sedikit ini, ada sedikit lagi yang terikat pada persoalan itu begitu kuat, gelisah dan memper-soalkannya karena melihat perkem-bangannya dari waktu ke waktu. Ashadi Siregar adalah salah satunya. Obsesinya itu seakan men­dapat tempat di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerbitan Yogyakar­ta (LP3Y) yang kini dipimpin dan dikembangkannya bersama bebe-rapa kawannya yang sepemikiran.

LP3Y adalah lembaga yang menyeleng-garakan pendidikan jurnalisme, tak sebatas meningkatkan kemampuan teknis penghimpun-an bahan lapor­an dan penulisan, tapi mencoba me­mulai pelatihan itu pada penyadaran akan fungsi pers dan wartawan. Ba­rangkali LP3Y sendiri akan menam­pik jika dikatakan sudah mencoba ba­nyak berbuat untuk itu. Namun ada­lah kenyataan, lembaga ini mencoba memi-kirkan dan berbuat untuk investasi sumber daya manusia dalam dunia pers. Jika dikatakan tidak banyak yang mencoba melakukan hal yang sama – yang tidak pernah men­janjikan keuntungan material ini – a­gaknya tidaklah pula berkelebihan.

Kenapa upaya ini bisa hidup di lembaga tersebut, agaknya karena ia memang berangkat dari ide seperti itu sejak didirikan pada 1978 lalu. Tapi kenapa ide itu dapat terpelihara, itu adalah karena Ashadi.

Wartawan adalah sejarawan yang beraksi setiap saat. Dia bekerja menyingkap realitas masyara­katnya, untuk diketahui dan dihayati dengan pemikiran serta tindakan oleh masyara-katnya dalam mengisi peradaban.

Kalimat ini terlalu gagah dan agak som­bong di telinga orang yang melihat profesi jur­nalistik se­bagai pekerjaan yang hanya ”bertanya, mendengar, melihat, mencatat, dan menuliskan”.

Tapi bagi Ashadi itu bukanlah se­suatu yang sombong, karena hakikat kehadiran jurnalisme dan wartawan memang harus demikian. Jurnalisrne – setelah terlalu sering terpental-pental oleh kepentingan politik dan kepentingan bisnis – agaknya me­mang harus dikembalikan ke tempat semula. Ikhtiar yang dilakukan Ashadi dalam mengingatkan orang dan mencoba menegakkan martabat pers serta profesi kewartawanan itu terkadang bagaikan kano kecil yang dikayuh melawan arus. Tapi jika kano itu tidak ada, kita mungkin telah hanyut terlalu jauh.

Ashadi Siregar lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Dia tamat dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UGM, kemudian jadi pegawai negeri, mengajar di sana. Dia sudah menjadi “orang Yogya”. Bersama istri­nya, Helga Korda – lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia – dia punya dua anak laki-laki, Banua (13) dan Mesa (9). Keluarga ini tinggal di perumahan Minomartani, Yogyakarta bagian utara.

Di luar keluarganya, Ashadi sebe­narnya punya beberapa dunia. Du­nianya yang pertama (penomoran ini tidak menunjukkan urutan prioritas) adalah kampus. Sebagai doktorandus ilmu komunasi tidak pernah terde­ngar ada niat dia untuk menempuh pendidikan S2 atau keinginan untuk menjadi doktor. Dunianya yang kedua adalah jurnalisme. Dunia berikutnya adalah sastra. Novelnya, yang membuat namanya dikenal lebih luas ada­Iah Cintaku di Kampus Biru, Kuga­pai Cintamu, Terminal Cinta Terakhir, Frustrasi Puncak Gunung dan Jentera Lepas.

Rambutnya kini tak lagi gondrong seperti ketika dia bersama para seniman Yogya bergentayangan di Ma­lioboro. Rokok pun sudah ditinggal­kan. Bir? Sekali-kali, ala kadarnya. Perawakannya biasa saja. Tapi mung­kin lebih cocok kalau dia disebut kerempeng. Tubuhnya tak berlemak seperti orang yang berkelebihan menikmati berkat pembangunan. Cara berjalan-nya sama sekali tidak gagah. Kacamatanya tebal. Kalau berbicara aksen Siantarnya masih terdengar, tipis. Dia bisa kocak jika dia rasa enak untuk kocak, tapi bisa ketus, di mana perlu. Dia tidak pandai mengukur ni­lai kerja dirinya dengan duit. Mungkin anak pegawai negeri ini tidak barbakat dagang. Kalau itu kelemahan, itu mungkin takdir baginya. Jika itu kekuatan, sikap seperti itulah yang membuat, dia tak pernah menjual diri.

Kemarin, 3 Juli 1995, usia Bung Ashadi 50 tahun. Banyak orang, konon, pada usia setengah abad itu mencoba melihat ke belakang ke jalan yang pernah dia lalui. Jika Bung Ashadi juga melakukan itu, dia akan melihat hampir separo dari usianya yang dia jalani sebagai orang yang amat peduli dengan kehidupan pers dan dunia profesi kewartawanan.

Besok mungkin dia masih berada di jalan itu, dan pers Indonesia yang besok itu, boleh jadi pers Indonesia yang masih merisaukan alam pemikirannya. ***

Iklan
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

2 Komentar

  1. wah, bagus sekali tulisan Bang Mimar ya Bang.. salut 🙂

    Balas
  2. radjawali

     /  16 Oktober, 2010

    saya membaca jentera lepas ini waktu SD, novel itu pemberian ayah, gak tau dari mana, tp sepertinya tidak beli karena covernya terlepas, seingat saya cover nya gambar benang terlepas dari jentera, tapi saya google sekarang desain udah baru [1994], yg saya ingat ada mahasiswa [budiman?] dia suka naek vespa, dan ada kejadian tabrakan ..lainnya gak begitu inget, setiap ada kesempatan saya cari novel itu di gramedia, tp saya lom nemu2 juga terutama yang cover sama dengan awalnya,.. setiap ingat novel itu saya ingat almarhum ayah saya yang memberi novel itu karena saya suka baca,..saya sekarang 40tahun, saya merindukan masa lalu itu..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: