Soedarpo Sastrosatomo Suatu Biografi 1920 – 2001 Bertumbuh Melawan Arus

Soedarpo Sastrosatomo  Suatu biografi 1920-2001 BERTUMBUH MELAWAN ARUS Oleh: H. Rosihan Anwar Diterbitkan oleh: PUSAT DOKUMENTASI POLITIK GUNTUR 49  Pusdok Guntur 49 Foto Cover diambil dari koleksi foto pribadi:  Mien Soedarpo Foto-foto diambil dari koleksi foto pribadi: Mien Soedarpo Ibu Sanninah alm Dr Sapoean Sastrosatomo Soebadio Sastrosatomo aim Sanjoto Sastromihardjo Idham Ari Wibisono Jack Abbott alm Yayasan Soedjatmoko Pusdok GUNTUR 49 Desain & Tata Letak;  PDP Guntur 49 Cetakan Pertama  Maret 2001 ISBN 979-8771-34-1 Penerbit: PDP Guntur 49 Jl. Guntur No. 49 Jakarta 12970 Indonesia Telp. 021-8303489 Fax. 021-8318658 E-mail: rbpdpg49@bit.net.id

Soedarpo Sastrosatomo Suatu biografi 1920-2001
BERTUMBUH MELAWAN ARUS
Oleh: H. Rosihan Anwar
Diterbitkan oleh: PUSAT DOKUMENTASI POLITIK GUNTUR 49
Pusdok Guntur 49 
Foto Cover diambil dari koleksi foto pribadi: Mien Soedarpo
Foto-foto diambil dari koleksi foto pribadi:
Mien Soedarpo, Ibu Sanninah alm, Dr Sapoean Sastrosatomo, Soebadio Sastrosatomo aim, Sanjoto Sastromihardjo, Idham, Ari Wibisono, Jack Abbott alm, Yayasan Soedjatmoko, Pusdok GUNTUR 49
Desain & Tata Letak; PDP Guntur 49
Cetakan Pertama Maret 2001
ISBN 979-8771-34-1
Penerbit:
PDP Guntur 49 Jl. Guntur No. 49 Jakarta 12970 Indonesia Telp. 021-8303489 Fax. 021-8318658
E-mail: rbpdpg49@bit.net.id

Disampaikan pada acara peluncuran buku SOEDARPO SASTROSATOMO: SUATU BIOGRAFI 1920 – 2001 BERTUMBUH MELAWAN ARUS, Pusat Dokumentasi Politik Guntur 49, Jakarta Maret 2001

Dari Membaca Soedarpo Sastrosatomo Suatu Biografi 1920 – 2001 Bertumbuh Melawan Arus

Oleh ASHADI SIREGAR

Manakala seorang bernama Soedarpo Sastrosatomo menuliskan atau menyampaikan kepada publik gagasan, komentar atau pendapatnya tentang suatu fenomena, itu berarti dia melahirkan suatu wacana. Kalau Soedarpo menulis tentang dirinya, atau menceritakan kepada orang lain untuk dituliskan sebagai otobiografi, berarti fenomena kehadirannya dipandang layak sebagai suatu wacana. Atau kedirian Soedarpo dituliskan oleh peneliti sebagai biografi, yaitu wacana yang lahir dari hasil rekonstruksi berlandaskan metodologi sejarah (historiografi). Yang mana pun jenisnya, setiap teks yang dilahirkan dimaksudkan agar dapat menjadi wacana yang akan ikut berkompetisi dengan berbagai wacana lainnya di ruang publik.

Di balik suatu wacana, selamanya terkandung suatu dorongan kekuasaan. Tetapi dorongan ini perlu dibedakan sifatnya dari kekuasaan politik atau ekonomi. Suatu wacana pada dasarnya didorong oleh motif untuk mengambil posisi sebagai bagian dari suatu kebenaran. Wacana merupakan instrumen bagi makna kebenaran dalam kehidupan publik (public meaning). Kekuasaan kebenaran memiliki kodrat yang khas, yang memberi peluang bagi pertaruran wacana secara bebas. Begitulah, karena ruang publik pada dasarnya diisi dengan perebutan kekuasaaan kebenaran melalui pertarungan wacana yang dilahirkan oleh sumber-sumber kekuatan moral dan intelektual, bukan dari sumber-sumber kekuatan fisik (apalagi senjata) dan materil. Sebaliknya ciri dari kekuasaan fasis adalah peniadaan peluang untuk pertarungan wacana, dengan membunuh setiap potensi dalam masyarakat yang dapat melahirkan wacana yang dipandang sebagai tandingan dari monopoli wacana dari penguasa.

Setiap manusia pada dasarnya meninggalkan jejak, sekecil apapun, yang dapat menjadi wacana. Kebanyakan wacana ini berhenti sebatas fenomena diri, karenanya hanya menjadi kisah-kisah pribadi (human interest story). Sementara dari manusia lainnya wacana dirinya menjadi bagian integral dari suatu wacana fenomena sosial, karena person tersebut menjadi faktor signifikan dalam kehidupan publik. Sehingga dari wacana diri secara bertimbal balik dapat dijadikan titik tolak dalam mengenali wacana publik.

Buku Soedarpo Sastrosatomo Suatu Birografi 1920 – 200, Bertumbuh Melawan Arus, sebagaimana disebutkan merupakan suatu biografi. Sebagai biografi, merupakan tulisan seorang jurnalis senior yang ikut dalam dinamika dari berbagai fakta yang mendasari buku ini, jadi bukan merupakan suatu hasil penelitian seorang peneliti sejarah yang akan bertumpu pada metodologi. Keunikan buku ini karena ditulis oleh Rosihan Anwar, seorang senior yang kehadiran dirinya pun dalam peta fenomena Indonesia, sesungguhnya merupakan suatu wacana yang signifikan. Di dalam buku ini Rosihan menggunakan gaya bertutur dalam tiga cara, pertama dia sendiri bercerita tentang Soedarpo dan sekitarnya, menampilkan Soedarpo sendiri bercerita, atau orang lain bercerita tentang Soedarpo.

Rosihan dapat menceritakan sosok Soedarpo karena sangat mengenalnya, bahkan dalam tataran pergaulan yang intens. Melalui berbagai tulisannya, Rosihan bercerita dengan format “seseorang yang saya kenal” atas banyak tokoh yang disebut-sebut dalam percaturan dan perjalanan bangsa dan negara Indonesia. Maka Rosihan tidak perlu menulis otobiografinya sendiri, sebab kalau pembaca jeli, setiap kali ada tulisan tentang tokoh yang ditulisnya, dapat ditarik benang merah tentang riwayat Rosihan. Sehingga manakala ada peneliti sejarah yang ingin menulis biografi Rosihan, benang merah yang terkilas-kilas di berbagai tulisan tentang tokoh-tokoh yang ditulisnya, dapat dijadikan bahan baku yang sangat memadai.

Biografi dapat berupa rangkaian peristiwa yang dipandang signifikan. Signifikansi ini dapat bertolak dari kriteria subyektif penulisnya, sehingga pilihan peristiwa yang akan dijadikan informasi akan dibatasi oleh preferensi dari subyektivitas tersebut. Penulisan semacam ini kemungkinan hanya mengambil satu atau sebagian saja dari banyak faset kehidupan sang tokoh. Sehingga untuk menulis biografi seorang tokoh yang multi faset, diperlukan penulis-penulis dengan latar belakang berbeda untuk memperoleh multi subyektivitas. Dalam tradisi ilmu sosial, dengan mengganti preferensi subyektif dengan disiplin akademik spesifik, biasa disebut sebagai pendekatan multi disipliner.

Disiplin akademik untuk menulis biografi yang berpretensi untuk menangkap seluruh faset dari kehidupan seorang tokoh dengan sendirinya lebih sulit, sebab setiap faset kehidupan pada dasarnya memiliki tuntutan pendekatan dan referensi yang berbeda, tidak hanya bertolak dari preferensi subyektif. Karenanya perlu dipilah secara tajam antara preferensi subyektif dengan referensi obyektif. Untuk menuliskan biografi dengan disiplin akademik semacam ini kira-kira seperti pendekatan inter-disipliner dalam ilmu sosial. Dengan pendekatan ini seluruh faset dari suatu fenomena dapat dijelajahi dengan memberi tempat kepada setiap wacana yang terwujud dari masing-masing faset. Dapat dikiaskan dengan batu permata, kerja penulisan biografi adalah mengasah faset-faset kehidupan seorang tokoh sehingga permukaan “permata” fenomena akan memantulkan kilauan, dan dari konfigurasi “kilauan” inilah akan tertangkap makna atas fenomena tersebut.
Kehidupan manusia pada hakekatnya akan dilihat dalam faset dan fakta. Faset yaitu aspek-apek dalam dimensi ruang, mengungkapkan konfigurasi kehidupan. Fakta yaitu peristiwa-peristiwa dalam dimensi waktu, merupakan suatu rangkaian bersifat linear. Karenanya saat membaca biografi Soedarpo ini, langsung terpikir, apakah seluruh faset dan rangkaian kehidupan sang tokoh sudah terliputi, bukan hanya sisi-sisi yang kebetulan bersinggungan dengan penulisnya? Dengan kata lain, dapatkah Rosihan melepaskan preferensi subyektifnya atas faset dan fakta Soedarpo, sehingga dapat tertangkap wacana Soedarpo yang berasal dari kilauan permukaan fenomena kehidupannya?

Secara teknis buku biografi ini telah berhasil menampilkan sosok Soedarpo. Fakta-fakta kehidupan Soedarpo yang dituliskan dalam buku ini ada yang merupakan fakta dimana penulisnya juga berada, sehingga merupakan pengalaman otentik penulis, tetapi banyak pula yang merupakan hasil pengolahan referensial. Dari penulisan yang menggunakan acuan lainnya tersebut, fakta-fakta kehidupan Soedarpo dapat ditampilkan secara lengkap. Begitu pula dengan cara bertutur linear, dari masa kecil Soedarpo sampai sekarang, seluruh fakta kehidupan dapat terjaring. Faset-faset kehidupan diungkapkan dalam latar setiap tahapan kehidupan. Apalagi karena ditulis dengan gaya bertutur yang panoramik, pembaca terpikat dengan fakta-fakta yang dialami Soedarpo. Selain itu diketemukan pula keunikan penulisan buku ini, ada latar (setting) yang secara langsung melingkup Soedarpo, ada yang menyangkut ruang sosial yang lebih lama. Sehingga dalam membaca buku biografi ini, serasa berhadapan dengan pencerita yang hangat, mengenai manusia Soedarpo dan kawan-kawannya, atau manusia lain yang “menganggu” Soedarpo.

Walaupun demikian tetap akan mengusik pikiran, apa makna dari rangkaian cerita tentang Soedarpo ini. Rangkaian cerita tentang seseorang dapat berhenti hanya sebagai human interest story, yang memberikan sentuhan dari manusia ke manusia, untuk menumbuhkan apresiasi atas manusia. Atau dalam lingkup keluarga, hanya menumbuhkan kecintaan anak turunan pada kakek, dan generasi sebelumnya. Buku Soeharto Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya: Otobiografi seperti dipaparkan kepada G. Dwipayana dan Ramadhan K.H., kira-kira dimaksudkan semacam itu. Hanya saja buku Soeharto… dst itu bermula dan berhenti pada Soeharto, sebagai seorang kakek, dengan pretensi untuk menjadi sentrum dari anak cucunya.

Sedangkan cerita tentang Soedarpo sebagai seorang kakek, jauh lebih luas, dapat menumbuhkan apresiasi anak cucunya tidak hanya kepada Soedarpo sendiri, tetapi juga kepada saudara-saudara (horisontal) dan generasi sebelumnya (vertikal).
Tetapi wacana tentang Soedarpo tidak semata-mata bersumber dari human interest story yang berfungsi sebagai cerita pelipur bagi anak cucu. Pertama karena bukunya ini bukan sebuah otobiografi dengan proyeksi untuk menjadi wacana yang hanya akan berfungsi sebagai pengikat suatu satuan trah atau klan bagi anak cucunya secara geneologis. Kedua karena perjalanan hidupnya memiliki makna yang jauh lebih luas dari lingkup geneologis itu. Untuk itu buku ini dapat dipandang sebagai suatu teks yang dapat menjadi dasar dalam penciptaan wacana oleh pembacanya. Dengan kata lain, terlepas dari preferensi penulis melalui tema-tema yang dikandung dalam rangkaian cerita, pembaca dapat membangun sendiri wacana sesuai dengan preferensinya sendiri, dengan meciptakan makna atas diri Soedarpo sebagai suatu wacana.
Apa makna yang tertangkap dari wacana mengenai Soedarpo menurut Rosihan, menurut orang yang mengenalnya secara langsung, atau bahkan menurut Soedarpo sendiri, merupakan makna yang sama posisinya dari wacana yang dibangun siapa saja setelah Soedarpo menjadi teks yang disampaikan kepada publik. Rosihan sebagai penulis buku biografi menciptakan teks, dari sini sejak awal makna itu diwujudkan dalam wacana Soedarpo. Mungkin makna yang tertangkap pembaca sama seperti yang diciptakan oleh penulis biografi. Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk terciptanya wacana dan makna yang berbeda, yang memperkaya dengan nilai kehidupan di ruang publik. Dengan begitu wacana itu memiliki signifikansi dalam mengisi ruang budaya dalam diri pembacanya pada saat memproses suatu nilai.
***
Fakta-fakta kehidupan Soedarpo dengan cara konvensional dapat ditempatkan dalam kerangka besar negara (politik) dan bisnis (ekonomi). Pemaknaan atas fakta ini akan lebih mudah dilakukan jika wacana dilihat dalam suatu oposisi binari (“binary opposition”), suatu dikhotomi dari dualisme, seperti siang dengan malam, ideologi dengan kenyataan, penalaran dengan kekerasan, spirit dengan materi, dan seterusnya. Sedang mengenai kehidupan Soedarpo, dapat dijadikan pintu untuk mengenali sosialisme, saat dirinya berhadapan dengan realitas politik dan ekonomi.

Apakah bukan ambisi kelewat besar, menjadikan Soedarpo sebagai personafikasi dari suatu ideologi bernama sosialisme? Tidak ada yang terlalu besar atau terlalu kecil untuk mendapatkan suatu makna. Seorang pejuang ‘45 yang kemudian menjadi konglomerat sama signifikansinya dengan seorang pegawai kecil, sepanjang jejaknya memang membekaskan wacana yang mengandung suatu makna yang dapat dipelajari. Signifikansi tidak dilihat dari impak dari kehadiran, tetapi dari pemaknaan yang dapat dibuat atas suatu wacana.

Sebagai pembaca biografi Soedarpo, sebagaimana juga membaca buku biografi setiap tokoh, saya sudah memiliki preferensi, yaitu kecenderungan makna yang ingin saya temukan dari suatu wacana. Sementara wacana ini saya bangun dengan menggunakan fakta-fakta berupa pikiran, ucapan, tindakan dari sang tokoh. Membaca buku biografi pada dasarnya merupakan suatu “exersice” intelektual, dengan mencari, menguji ulang, mengasah suatu makna melalui wacana. Membaca buku “Soeharto Pikiran, Ucapan… dst” pada dasarnya adalah untuk mengenali ideologi fasisme “in praxis” melalui fenomena psiko-politik dari seorang pemimpin negara. Ideologi ini dapat dikenali signifikansinya saat mewujud melalui derivatnya berupa militerisme dan kekerasan dalam mengkounter realitas sosial.

Saya ingin menemukan sosialisme melalui perjalanan hidup Soedarpo. Dengan begitu Soedarpo harus dilihat sebagai suatu sosialisme “in praxis” dalam kerangka negara dan bisnis. Bagaimana sebenarnya sosialisme dalam latar kebangsaan dan negara Indonesia, dan dalam dunia bisnis kapitalisme? Dalam kilasan fakta kehidupan Soedarpo, sosialisme memiliki konteks ke dalam kehidupan politik selama revolusi, berupa anti fasisme dan pengutamaan nalar. Posisi sosialisme dalam politik dapat dilihat pada dikhotomi saat kekerasan dan militerisme berhadapan dengan nalar dan perundingan. Dengan demikian sosialisme mengajarkan budaya dalam kehidupan bernegara.

Melalui kisah-kisah keterlibatan Soedarpo dalam konteks revolusi setidaknya menunjukkan suatu wacana tandingan terhadap wacana yang dibangun selama bertahun-tahun Orde Baru, yaitu hegemoni makna politik mengenai kekuatan militer sebagai basis keberadaan negara RI di satu pihak, dan di pihak lain mengabaikan kekuatan kecerdasan dalam perundingan. Hegemoni makna politik semacam inilah telah melahirkan militerisme dan menumbuhkan budaya kekerasan. Riwayat Soedarpo selama revolusi dapat dijadikan pintu untuk melihat betapa tidak seimbangnya pemaknaan, sehingga diperlukan suatu upaya proses budaya untuk membangun wacana yang seimbang. Tidak ada urgensinya untuk mencari di antara dikhotomi kekuatan fisik dan kecerdasan, mana yang lebih unggul, sebab keduanya sama memiliki signfikansi dalam kehidupan bernegara.

Di luar konteks politik selama revolusi, agaknya tidak ada lagi yang dapat dijadikan sebagai wacana untuk mengenali sosialisme. Begitu pula manakala Soedarpo beralih dari dunia diplomasi ke dunia bisnis. Menghadapkan sosialisme dengan realitas kapitalisme tentunya akan melahirkan suatu wacana yang unik. Tetapi biografi Soedarpo tidak ke arah sana. Disini agaknya yang signifikan adalah spirit enterprenur. Bagaimana melihat makna Soedarpo dalam wacana bisnis ini? Kalaupun harus dicari pertaliannya, agaknya dari ideologi sosialisme sebagai landasan dalam membangun kesadaran untuk kehidupan berbangsa dan bernegara dengan kesiagaan dalam menghadapi kekuasaan rezim fasis. Lalu dari dorongan kebangsaan semacam ini lahir sikap enterprenur yang khas. Kekhasan itu antara lain dicerminkan dari keberhasilan untuk tidak masuk ke dalam agenda korporatisme negara yang menjadi ciri dari rezim fasisme. Upaya dari dunia bisnis untuk mengelak dari cengkeraman kekuasaan fasistis negara ini akan menjadi wacana yang sangat signifikan, di antara mudahnya berbagai asosiasi profesonal semacam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Kamar Dagang Indonesia (KADIN) masuk ke dalam korporatisme negara.

Dengan demikian dari perjalanan riwayat Soedarpo Sastrosatomo dapat diambil makna betapa berharga kemerdekaan yang dibangun melalui kecerdasan dan akal budi, sehingga cengkeraman kekuasaan tidak akan berhasil mematahkannya. Kekuatan sosialisme agaknya tidak melalui massa, melainkan dari keteguhan sikap dan rasionalitas dalam menghadapi realitas.

Iklan