Kisah sebuah Novel

Kisah sebuah Novel

Sebuah novel berusia belasan tahun. Awal penulisan tahun 1990-an, saya merasa tertolong oleh laptop Toshiba keluaran pertama, file tersimpan di harddisk. Saya menulis dengan penuh semangat. Laptop dibawa kemana-mana, karena juga  sedang laris memberi ceramah di sana sini. Mungkin sudah 100 page, akibat kepanasan di mobil,  laptop rusak, seluruh file dalam harddisk tidak dapat di-retrieve.  Tidak ada yang lebih menghancurkan hati penulis selain kehilangan babon naskah.

Beruntung sebagian besar file ada yang sempat diprint.  Tetapi untuk beberapa lama, hard-copy hanya dapat dipandang-pandang. Seluruh semangat menulis serasa mati.

Kemudian keluar mesin scanner. Juga software untuk convert file jpg dari scanner ke format word. Maka kembali file tersimpan di komputer.Bagai paranoia, file disimpan di beberapa komputer, juga di flashdisk. Tetapi tetap tidak tergerak untuk menulis. Seluruh daya seperti lumpuh, segenap gagasan hilang di masa lalu.

Teknologi sangat membantu dalam kerja. Tetapi juga membunuh kreativitas, saat dia bikin ulah,  dapat membuat putus asa. Betapa berbedanya dengan masa-masa masih menggunakan mesin ketik manual. Suara tik-tak, dering batas margin, dan hempasan membalik karet landasan ketik, semua seperti menggugah otak. Tidak pernah membunuh, tidak pernah mematikan semangat berkobar.

Atau bukan karena teknologi, tetapi karena kemandegan diri. Saya ingat tahun-tahun 1960-an, saat mesin ketik masih langka. Saat saya belum punya mesin ketik, harus menumpang mengetik di sana-sini. Saya ingat sering mengetik cerpen di sebuah kantor koran terbesar di Yogyakarta. Sebelumnya di kantor itu kami, mahasiswa dari jurusan Publisistik Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada ditugasi praktek kerja kewartawanan. Mungkin karena mesin ketik tergolong barang mahal, saya pernah diminta oleh penjaga kantor untuk menghentikan mengetik, dan diminta meninggalkan ruang redaksi.  Rupanya saking asyik menulis, saya tidak sadar ruangan sudah kosong. Redaktur terakhir meninggalkan kantor rupanya menyuruh penjaga untuk mengusir saya, karena ruang redaksi harus dikunci. Saya tetap ingat sang redaktur, dan dia tentu tidak ingat saya, sebab saya hanya salah satu mahasiswa yang silih berganti praktek kerja di kantor itu.

Saya banyak menulis cerpen di masa itu. Honornya lumayan, apalagi jika menulis di koran Gala terbitan Bandung yang dipimpin Abdullah Harahap (https://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_Harahap). Koran itu tidak pernah menunda mengirim poswesel setiap cerpen saya dimuat. Tetapi biasanya teman-teman sangat rajin “mengintai” di kios koran, begitu mengetahui ada cerpen saya yang dimuat, sudah siap-siap untuk minta ditraktir. Biasanya kami makan lotek rame-rame di warung di kerindangan pohon beringin di depan Habiranda samping Pagelaran, tempat kami kuliah, bagian kraton Yogya yang dipinjamkan pada UGM. Sehingga honor menguap begitu saja. Baru setelah saya menulis novel saya pertama (saya tidak punya arsip/dokumentasi, judulnya lupa, tahun 1968?) dimuat bersambung di Majalah Mayapada yang dipimpin oleh Matu Mona (https://id.wikipedia.org/wiki/Matu_Mona) honornya dibayar di muka sekaligus, langsung saya membeli mesin ketik portabel merek Hermes.  Begitulah rupanya kalau pengarang memimpin penerbitan sangat memperhatikan honor penulis. Berbeda dengan beberapa koran mingguan, tega tidak mengirim honor cerpen saja. Ditagih pun, ndablek.

Dari mesin ketik itulah lahir rangkaian novel saya, mulai dari trilogi yang dimuat di harian Kompas tahun 1970-an, sampai terakhir novel Sunyi Nirmala tahun 1980-an. Setiap kali memandang mesin ketik, saya ingat terhentinya proses yang sedang berlangsung di benak, akibat tidak boleh mengetik di kantor koran itu. Karenanya saat saya memimpin  suatu pelatihan kewartawanan tahun 1980-an di suatu lembaga, kegiatan di sana dilengkapi belasan mesin ketik. Dan lembaga buka 24 jam tanpa ikut hari libur, kapan saja ada yang mau mengetik dapat  datang ke tempat itu.

Banyak sudah wartawan yang terproses melalui mesin-mesin ketik itu, menempuh karirnya sampai ke era teknologi komputer. Belakangan lembaga itu juga menyesuaikan diri, dilengkapi dengan komputer untuk pelatihan. Tetapi prinsipnya tetap sama, ruang komputer harus terbuka 24 jam, tugas penjaga kantor adalah menjaga agar pintu tetap terbuka, bukan untuk menguncinya.

Apakah wartawan yang dilatih dengan dukungan komputer sama kuat spiritnya dengan yang menggunakan seniornya yang dihibur dengan suara ketak-ketik mesin manual, tidak perlu dibahas disini. Saya hanya ingin bercerita, bahwa mesin komputer pernah mematahkan hati saya. Tetapi teknologi juga yang memungkinkan saya melanjutkan menyelesaikan novel saya.

Novel yang mulai ditulis tahun 1990-an, telah melintasi waktu sampai era reformasi sekarang. Tetapi novel itu hanya mengambil latar sampai tahun 1960-an, dalam rentang pendek dari Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) ke awal Orde Baru tahun 1966. Novel berlatar kehidupan orang Batak. Saya tidak berpretensi menyampaikan nilai kebatakan, tetapi saya membayangkan perlunya anak cucu saya berusaha mengenali diri mereka yang Batak. Saya juga membayangkan banyak keluarga perantau seperti saya. Akankah anak-anak mereka  kehilangan kebatakannya? Karenanya saya merasa perlu bergegas, menyelesaikan penulisan novel itu.

Beberapa minggu yang lalu novel itu rampung.  Lalu finishing untuk memperbaiki di sana sini. Keburukan dengan komputer adalah, seorang pengarang tidak pernah puas dengan karyanya, saking mudahnya delete, cut, move,  paste, suatu kemewahan yang tidak ada pada pada mesin ketik manual. Dengan mesin ketik, tulisan harus “menjadi”, kalaupun perlu koreksi, hanya yang dapat ditip-ex. Dengan komputer, kalau dituruti, karangan tidak akan pernah selesai. Dalam dunia non-fiksi, yang menghentikan adalah deadline. Sedang untuk fiksi, hanya pengarang menentukan kapan dianggap selesai. Maka kemudian saya memutuskan tidak perlu lagi menjenguk naskah itu, yaitu pada tanggal 1 Oktober 2016. Ini Gestok saya!

Naskah saya kirim pada teman yang bekerja di penerbitan. Bagi saya sudah selesai. Berikutnya urusan penerbit untuk menentukan apakah novel itu layak disampaikan pada pembaca, atau hanya disimpan di laci.

Ashadi Siregar

Iklan