DARI KAMERAD

TESTIMONI

Oleh Ashadi Siregar

Ponsel saya berbunyi, panggilan masuk, tanpa nomor, tampilan private. Dari luar negeri atau menyembunyikan identitas? Seorang menyapa saya. Dari suaranya yang serak-serak kering, saya menyimpulkan dia selansia saya. Dan benar, sebab dia langsung menyebut nama saya tanpa embel-embel yang lazim: bang.

“Adi, sudah kubaca buku yang ditulis tentang kau, Penjaga Akal Sehat itu. Seingatku dulu otak kau méréng, bagaimana bisa menjaga akal sehat orang?” dia terbahak-bahak, lalu terbatuk-batuk.

Méréng? Menilik gaya bicaranya, orang dari seberang, Sumut, dan pastilah kenalan pada masa lalu saya. Buku yang dimaksudnya adalah Ashadi Siregar: Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru, terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Saya berusaha memeras ingatan, siapa orang ini? Karena saya masih diam, dia menukas:

“Halo, tak kau kenal aku?” katanya mendesak, seolah saya telmi (telat mikir).

Sinting atau sok akrab? Apakah saya sering ketemu dia, tapi dimana, dan dalam konteks apa?

“Aku ‘anu’…” (menyebut nama).

Saya tetap berusaha memeras ingatan. Tetapi nama itu tidak ada dalam benak saya. Kalaupun dia pakai videophone, belum tentu saya mengenalinya. Dari suaranya saja saya sudah bayangkan bahwa wajah tuanya pasti sulit saya kenali. Cuma simpul saya, karena dia sudah membaca buku yang belum beredar luas di pasar, tentunya dia ada Jakarta dan punya akses pada orang-orang yang mengurus penerbitan buku itu. Siapa kau pak tua? Saya penasaran.

“Kita satu angkatan, tahun 64 dulu di Pagelaran. Kau sospol aku hukum. Tapi kita kerap ketemu waktu belajar malam hari di Sitihinggil,” ujarnya.

Ya, saya ingat Sitihinggil, yaitu balai paseban kraton Yogyakarta yang dipinjam-pakaikan Sultan HB IX pada UGM. Dalam suasana keterbatasan daya listrik yang hanya 112 volt di Yogyakarta, mahasiswa yang di tempat kosnya remang-remang biasanya belajar ke Sitihinggil. Di tempat itu lampu listrik terang benderang. Kebanyakan anak luar Jawa, selain membaca, juga berdebat (lebih tepat bertengkar) dengan suara keras, membuat mahasiswa yang tekun membaca terganggu. Banyak kenalan saya, hampir semua mahasiswa dari seberang belajar di Sitihinggil.

“Kau tak ingat aku, tak apalah. Aku cuma kuliah satu tahun di situ. Tahun 66 aku diciduk.”

Ah, saya menarik napas dalam.

“Tahun 80-an aku baca novel kau Jentera Lepas. Aaah…, cerita kau ‘tu belum apa-apanya dibandingkan yang kami alami,” lanjutnya.

“Ya, ya, ya,” jawab saya. “Sebatas itulah imajinasiku. Tapi apa subyektivitasku itu cukup bernilai menurut kau?” kata saya meniru gaya bicaranya.

“Yaaa, lumayanlah. Calak-calak ganti asah…,” katanya dalam gaya Melayu Deli, “sebagai cerita yang dibuat orang yang tidak mengalami sendiri. Kau ‘kan beda sama Pram.”  Nadanya melecehkan.

“Terimakasihlah kalau begitu,” kata saya.

Tentu saja saya bukan padanan Pramudya Ananta Toer, seorang pengarang dan wartawan yang mengalami langsung seluruh bentuk penindasan kekuasaan negara, dari penjajah sampai pemerintahan sendiri. Saya tidak mengalami apapun, kecuali dunia sekolahan dan bacaan. Saya teringat teman-teman yang sering berkumpul malam hari di Sitihinggil. Belakangan, di antaranya saya tahu ada yang CGMI, organisasi mahasiswa yang diangggap sebagai onderbouw PKI. Gaya melecehkan seperti itu sering saya hadapi, yang memancing debat tarik urat leher. Tapi sekarang saya tidak berselera debat lagi. Capek.

“Tapi bukan soal novel  yang mau kubicarakan. Soal buku tentang kau itu. Dari tulisan-tulisan yang kubaca, tidak jelas bagiku, bagaimana sesungguhnya kau jadi penjaga akal sehat itu. Apa para penulis yang diminta menyumbang tulisan, memang membayangkan kau berguna sebagai penjaga akal sehat? Cuma judul saja barangkali? Tapi sudahlah. Karena ditujukan pada kau, tentunya testimoni. Sebagai testimoni, tentulah harus ada  subyektivitas yang bernilai disitu!”

“Maksud kau?” tanya saya.

“Testimoni adalah subyektivitas penulis tentang sesuatu, yaitu kau. Untuk itu si penulis harus punya imajinasi tentang sosok kau, dan dengan subyektivitasnya itulah kau direkanya jadi tulisan.”

“Kupikir seperti itu tulisan-tulisan di buku itu,” kata saya.

“Kau sendiri, sudah baca?” sergahnya.

“Eh, beberapa sudah, tapi baru baca cepat.“

Dia nyerocos. Ujarannya yang menggebu-gebu, sangat tidak teratur (maaf kamerad!). Jadi harus  saya susun ulang, begini:

Buku itu menggolongkan tulisan-tulisan dalam 2 kelompok: “Kawan, Kolega, dan Guru yang Sinis namun Humoris” dan “Aktivis, Novelis, dan Kritikus Jurnalisme yang Konsisten”.  Jadi buku ingin menyampaikan sosok ‘orang yang sinis namun humoris’ dan ‘orang yang konsisten’. Padahal apakah sosok kau sekadar 2 dimensi itu? Di buku setebal 374 halaman itu tak ada kulihat deskripsi bagaimana sinis atau humorisnya kau. Kalau hanya lewat ketawa atau senyum dibilang sinis, belum bisa menggambarkan kau sebagai homo-sinicum. Begitu juga soal kau humoris?  Humor kau cuma ada secuplik dalam tulisan Masmimar Mangiang, Ignatius Haryanto, atau pun Butet Kartarejasa. Lainnya komentar saja. Kalau kau memang humoris, pastilah banyak kumpulan anekdot yang bisa dicatat, meskipun tidak akan menyamai Gus Dur. Begitu pula soal konsistensinya kau, sebagai aktivis dan kritikus jurnalisme, mungkin bolehlah, walaupun masih terbuka untuk diperdebatkan seperti apa konsistensinya kau. Lalu macam mana pula konsistennya kau sebagai novelis? Bah, puja-puji kosong itu.

Tulisan-tulisan itu seharusnya terbagi 4, yaitu satu yang bertolak dari passion pribadi, kedua bersifat otentik, dan ketiga deskriptif, dan keempat dialektika dengan gagasan kau.

Seperti tulisan Jakob Utama, masuk kelompok satu, kulihat dia menggambarkan kau dengan subyektivitasnya, bertolak dari keprihatinannya mengenai dunia obyektif pers di Indonesia. Atau tulisan Daniel Dhakidae, saat membayangkan kau, dia menghidupkan subyektivitas dalam ruang ingatannya tentang gerakan mahasiswa di Yogyakarta tahun 70an. Subyektivitasnya bisa berinteraksi dengan obyektivitas. Banyak tulisan yang bagus, yang ditulis dengan passion. Subyektivitas bernilai kalau didorong oleh passion dalam menghadapi dunia obyektif.

Selanjutnya tulisan subyektivitas yang bagus pada kelompok kedua, seperti tulisan Saur Hutabarat, Rizal Mallarangeng, Hotman Siahaan, Budiman Tanuredjo dan beberapa yang lain. Orang-orang ini menanggalkan semua beban diri dan statusnya sekarang, kembali ke dunianya yang dulu sebagai mahasiswa. Menjadi otentik. Otentisitas itu diwujudkan dengan menulis dalam kejujuran. Jujur dengan dirinya lebih dulu, baru kemudian memotret kau, dalam arti menggambarkan keberadaan kau terhadap dirinya. Untuk itu harus rela menjadi tidak siapa-siapa, mengenangkan saat-saat membiarkan dirinya berproses bersama kau.

Tulisan kelompok satu dan dua itu, berupa testimoni bersifat subyektif-intelektual dan subyektif-otentik. Yang satu, subyektivitas dalam bingkai intelektualitas atau rasio menghadapi dunia obyektif untuk dijadikan ruang bagi kau sebagai sosok yang ditulis, mewacanakan bahwa kau punya impak secara obyektif. Dan yang kedua subyektivitas dalam bingkai kejujuran dalam perasaan atau hati saat menulis tentang kau, berupa impak kau terhadap pribadi si penulis secara subyektif.

Kemudian kelompok ketiga, menggambarkan kau sejauh yang diketahuinya. Tidak dengan passion atau otentisitas, tetapi mendeskripsikan sosok kau. Kebanyakan tulisan yang ada kumasukkan kesini, seperti tulisan duo Lubis Zulkifly dan Amarzan, atau Mohtar Masoed, Imam Yudotomo, Garin Nugroho, Bakdi Sumanto, dan lainnya, yaitu para sahabat atau teman kerja atau teman pergaulan di lingkup kampus, jurnalistik, lembaga swadaya masyarakat, dan seni, sesuai kiprah kau. Kelompok ini campuran orang-orang yang mengenal kau sejak muda, dan yang mengenal kau setelah tua bangkotan. Kau dilihat sesuai versi masing-masing, dengan deskripsi obyektif para penulis itu, mosaik kau bisa direkonstruksikan.

Tulisan jenis ketiga ini harus diwaspadai dari kecenderungan mitologisasi, atau pun dorongan voyerisme. Mitologisasi sebagai pemujaan dan voyerisme sebagai hasil pengintipan, ini sama buruknya sebab tidak memerikan realitas empiris, hanya berdasarkan dugaan, persangkaan, atau dengar-dengar dari kiri-kanan, sehingga kau semacam legenda, atau parahnya semacam obyek gosip.

Yang keempat, seperti tulisan Gunawan Mohamad, dia melihat gagasan kau tentang informasi, terus mengolah gagasannya sendiri. Begitu juga Veven SP Wardhana, menempatkan tema-tema dari novel kau di dalam gagasannya. Atau J Anto yang menggunakan gagasan kau soal media watch dalam praksis kegiatannya. Jadi mereka berdialektika sama gagasan kau.

Nah, barangkali konsep buku ini tidak secara jelas diberi tahu pada calon penulisnya. Apakah buku ini sebagai testimoni dan deskripsi tentang keberadaan kau dalam interaksi sosial yang melibatkan si penulis, ataukah plus mengupas gagasan atau wacana teks yang kau hasilkan.

Kalau mau dilengkapi dengan kupasan tentang dunia gagasan yang kau lontarkan dalam masyarakat, seharusnya banyak orang yang bisa diminta untuk tulisan semacam itu. Gagasan-gagasan kau tentang jurnalisme dan media umumnya dalam konteks politik, ekonomi dan kebudayaan tentunya dapat menggugah pemikiran. Begitu juga kau selama ini berinteraksi dengan kalangan seniman.

Artinya kau juga punya passion yang selama ini telah kau aktualisasikan dalam berbagai kesempatan. Bukan hanya soal pers dan jurnalisme, juga pernah kubaca tulisan kau tentang televisi, disitu ada passion. Kedengar kau masuk dalam lingkungan seni-rupa sehingga ada pelukis besar yang minta kau memberi pengantar pamerannya. Atau soal film, teater, dan kebudayaan lainnya. Ah, macam-macamlah yang kudengar. Banyak orang yang pernah bersentuhan dengan kau dalam berbagai bidang itu. Maksudku gagasan kau seharus dapat memancing orang untuk mengembangkan pemikirannya sesuai dengan wacana yang kau lontarkan. Gagasan akan bernilai jika dapat menggugah untuk munculnya ketidak-sepakatan atau pemikiran dan perspektif lain. Itu akan memperkaya wacana dalam ranah intelektual kita.

Tetapi kalau mau kembali sebagai testimoni dan despripsi obyektif saja, itu juga tidak sederhana. Sulitnya bikin tulisan semacam ini, tidak setiap orang punya subyektivitas dalam kerangka intelektualitas dan kejujuran, dan mengenali kau luar dalam. Kalau tidak ada sikap dengan passion dan otentik serta obyektivitas, seperti kubilang tadi, tulisan cuma puja-puji atau basa-basi, atau berdasarkan “yang disangka”nya, atau lebih parah kalau kau hanya dijadikan kapstok untuk memajang dirinya yang ‘berjasa’ besar.

Ada kutemukan jenis tulisan yang terakhir ini. Mungkin editor buku itu mengira, dikarenakan seseorang pernah bersama kau dimasa lalu, dapat menuliskan pengalaman itu. Masa kekiniannya dengan ambisi-ambisinya, mungkin telah merusak kejujurannya dalam membayangkan kau. Dia menulis bukan dari interaksi sebelum dia menjadi seperti sekarang. Dia menulis masa lalu dengan kecenderungan dirinya sekarang. Padahal sekarang dia sudah tidak punya pertalian lagi dengan kau. Artinya dia tidak surut ke belakang pada saat masih bergaul dekat. Dia menulis dengan kepentingannya dan latar dirinya sekarang, dalam melihat kedirian kau. Begitulah, untuk deskripsi secara obyektif, diperlukan kejujuran. Berikutnya, menuliskan apa yang terjadi dalam interaksi, bukan dengan kalimat penyimpul yang tidak dideskripsikan secara empiris!

“Baiklah, nanti kubaca ulang untuk menikmati tulisan kawan-kawanku itu,” kata saya.

“Tapi di luar itu, kalau orang lain bisa menulis tentang diri kau, kau ‘kan penulis, mengapa kau sendiri tidak menulis tentang kau?” katanya.

“Aku ‘kan bukan mantan menteri atau jenderal yang layak bikin biografi,” jawab saya.

“Biografi itu soal subyektivitas yang di-intelektualisasi-kan, dan kejujuran yang di-aktualisasi-kan. Mantan menteri atau jenderal belum tentu punya itu, mereka hanya punya rekening gemuk di bank,” katanya ketus.

“Awak ‘ni apalah. Apa pula jalannya berani-berani mau menulis tentang diri sendiri.”

“Setidaknya subyektivitas kau tentang diri kau, sama berhak dengan subyektivitas orang lain. Yang penting adalah mengungkapkan diri dalam konteks intelektualitas dan dorongan kejujuran.”

“Ah, terlalu berat untukku.”

“Paling tidak biar bisa dibaca bekas mahasiswa kau atau wartawan yang pernah kau didik.”

Saya diam.

“Paling tidak biar dibaca anak-anak kau,” katanya.

“Baik kupikirkan,” kata saya supaya pembicaraan diputus, sebab ponsel sudah panas di telinga saya.

“Okelah kalau begitu,” katanya meniru pelawak di tv.

“Eh, omong-omong, dimana kau selama ini?”

“Ah, itu tak penting,” katanya. “Bahwa aku bisa tahu nomor kau ini, menunjukkan aku punya akses kemana-mana.”

Bah, pembual tua dari mana pula ini? Tetapi dengan tantangannya, apakah saya harus mengatakan: mengapa tidak?

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

5 Komentar

  1. Bang,
    Baru kemarin saya terima dua buku itu dari Tedi.
    Sebetulnya Anda nyaman nggak sih dengan kedua buku itu? Saya berprasangka Anda kurang nyaman — dalam arti bukan bagian dari cita-cita Anda waktu belia. 😀

    Balas
  2. ck

     /  22 Juli, 2010

    menarik. apa ini berarti dalam waktu dekat, saya akan menemukan biografi bang adi di toko buku terdekat? saya benar-benar penasaran.

    Balas
  3. Gafar Yudtadi

     /  22 Juli, 2010

    Bagus sekali, tulisan itu resensi buku oleh bang Hadi, hanya dibungkus dialog (fiktif?) dengan penelpon gelap. Saya tunggu buku biografi bang Hadi. Salam.

    Balas
  4. Secara alami, ijin hidup saya yg tersisa lebih pendek dibandingkan dengan Bang Hadi, kalau boleh saya memanggil dengan sebutan Abang. Waktu novel trilogi Abang meledak, umur saya sekitar tigapuluh-limaan. Sampai saat ini saya belum pernah baca trilogi tersebut dan juga tidak nonton filmnya. Karena ketika itu saya beranggapan, aach… paling juga cerpen anak2 muda atau ABG, yang isinya dari itu ke itu saja, kurang dialektika nalarnya. Padahal saya penggemar berat penulis orang2 tua dulu seperti Hamka, Takdir, Amir Hamzah, Chairil Anwar, dan tentu saja Pram pemberontak segala zaman yg jadi paporit saya. Tetapi setelah saya nonton acara TV Abang dengan Garin, Emha dan yg lainnya, kemudian saya melahap habis buku “Ashadi Siregar PAS dari KB” saya jadi berpendapat lain, betapa naifnya diriku ini. O.leh karena itu saya harus baca novel trilogi Abang dan tulisan lainnya.
    Khusus untuk “Dari Kamrad” saya yakin haqqul yakin, itu hanya cerita yang abang buat2 saja, karena abang satria BAJA yang tidak mau melukai hati orang2 yang berbaik hati menulis buku untuk memberikan apresiasi pada saat Abang mau pensiun, lalu Abang pakai “Orang tua dari Sumut” untuk mengkritik tulisan2 yang ada dibuku tersebut, seolah-olah Abang yang jadi sasaran tembaknya. Padahl sebetulnya disana Abang sendiri yg “menembak” para penyumbang tulisan tersebut, yang notabene memuji-muji abang. Pendapat saya ini didasari dengan karakter Abang (yg saya dapat dari buku yg sama), yg cuek dan tidak butuh pujian dari siapapun. Disitu penyumbang tulisan banyak yg dompleng untuk unjuk gigi, sambil muji2 Abang yang membuat Abang risi dan salah tingkah. Maka Abangpun jadi terselamatkan sekaligus memberikan sentilan kepada penyumbang tulisan yg dompleng dengan menciptakan tokoh “Orang tua dari SUMUT”. Heiibaat, abang telah jadi jawa tulen.

    Balas
  5. ridha khairina

     /  18 Oktober, 2010

    Hmm…Memang sih ada benarnya juga apa yang dikatakan Bapak yang menelpon itu. Tapi kalau menurut saya, buku Ashadi Siregar: Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru itu tetap bagus. Isinya ngga melenceng-melenceng amat dari judulnya. Kalau mau bikin biografi, bikin aja Pak. Bukan karena tantangan Bapak yang menelpon itu. karena ilmu yang bermanfaat harus disebarkan sebanyak-banyak umat. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: