Mencerdaskan Kehidupan Bangsa https://www.kompas.id/baca/opini/2022/08/26/mencerdaskan-kehidupan-bangsa Download aplikasi Kompas.id untuk mendapatkan berbagai berita mendalam dan tepercaya khas Harian Kompas! Android: https://komp.as/insallapp02 iOS: https://apple.co/3rvZXy9

https://fb.watch/dPDG6xowOb/

PERIHAL “BIRU” ITU…

PERIHAL “BIRU” ITU…
Novel “Cintaku di Kampus Biru”  (CdKB) dimuat di Harian Kompas sebagai cerita bersambung tahun 1972. Diterbitkan pertama kali sebagai buku oleh Penerbit Gramedia tahun 1974. Ceritanya berfokus kehidupan kampus di antaranya konflik dan asmara antar mahasiswa dan antara mahasiswa dengan dosen.

Mengapa disebut “kampus biru”? Mereka yang berpikir denotatif, berkata: “warna tembok kampusnya tidak biru,” atau “jaket almaternya tidak biru…” dan semacamnya. Ada pula yang berpikir konotatif, mengaitkan biru dengan asmara. Ya macam-macam protes, komentar dan tafsir tentu hak pembaca.

Belakangan istilah ‘biru’ dikaitkan dengan lingkungan hidup dan iklim.  Tetapi warna biru jangan pula dikaitkan dengan warna jas parpol-parpol masa sekarang. Berbagai kampus menabalkan diri sebagai “kampus hijau”, bukan berasosiasi dengan agama atau parpol tertentu, tetapi pada ekologi. Konotasi biru dengan asmara mungkin ada benarnya.

Perlu diingat bahwa penamaan “kampus biru” pada Universitas Gadjah Mada (UGM) mulai muncul tahun 1980-an. Setelah novel itu difilmkan tahun 1976, dengan bintang Roy Marten dan Rae Sita yang kemudian naik daun dalam perfilman. Shooting film mengambil lokasi di lingkungan kampus UGM. Sutradara Ami Priyono dengan apik mengekspos pilar dan relung-relung gedung utama rektorat dan pohon-pohon cemara di lingkungan kampus. Kemudian sebutan  “kampus biru” pun melekat pada UGM. Sejumlah mahasiswa asal dari luar Yogyakarta bercerita, setamat SMA  terdorong untuk kuliah ke UGM setelah membaca novel atau menonton film itu.

Soal warna kampus ini merebak luas ke kampus lain. Teman-teman saya aktivis dari Universitas Indonesia (UI) saat ditahan rezim Orde Baru (Orba) tahun 1980-an (angkatan setelah aktivis 1970-an) menyebut tempat tahanan mereka sebagai ‘kampus kuning’ dikaitkan  pada jaket almamater kebanggaan mahasiswa UI.

Sekeluar dari tahanan para aktivis itu menamakan kelompoknya dengan sebutan “Betah” singkatan bekas tahanan. Di sana berkumpul beberapa angkatan aktivis bekas tahanan rezim Orba. Maka “alumni”  kampus kuning bukan hanya yang dari Salemba dan Rawamangun (lokasi UI saat itu) tetapi para anggota “Betah” di antaranya Bram Zakir (alm), Jimmy Siahaan, dan lainnya.

Nah, begitulah kemudian acuannya pada jaket almamater. Di antaranya yang populer adalah sekolah sekretaris di Jakarta yang mahasiswinya cantik-cantik belaka, disebut dari “kampus ungu” sesuai jaket almaternya.

Lalu belakangan ini ada mahasiswa yang jaket almaternya berwarna biru, mengklaim kampusnya sebagai “kampus biru”. Tentu baik saja klaim  itu. Akan lebih baik jika mahasiswa generasi sekarang mencari di toko buku dan membeli novel-novel saya yang dicetak ulang oleh Gramedia Pustaka Utama. Hehehe… promosi ‘dikit’…

Kalau ditanya pada pengarang, apa intensinya menggunakan kata biru? Mari kita putar ulang waktu ke belakang. Tahun 1970-an Indonesia baru lepas dari kungkungan Orde Lama (Orla).

Saya menulis novel CdKB selepas koran mingguan Sendi dibredel tahun 1972 dan saya selaku penanggungjawab diadili dan dinyatakan bersalah. Pembredelan oleh pemerintahan Orba karena koran itu dianggap menyebarkan kebencian (penerapan haatzai artikelen KUHP) terhadap Presiden Suharto dan isterinya Ibu Siti Hartinah Suharto.

Menulis novel seperti pelarian dari kenyataan yang saya hadapi. Dengan diadili dan divonis bersalah saya merasa masa depan di bidang pers sudah tertutup. Dalam kepahitan itu saya mengidealisasi kehidupan kampus. Ya, saya membayangkan kehidupan kampus yang ideal sekaligus romantis. Maka saya menulis novel trilogi, semua dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Kompas: “Cintaku di Kampus Biru,” “Kugapai Cintamu”, dan “Terminal Cinta Terakhir.”

Pada masa Orla kehidupan kemasiswaan didominasi organisasi eksternal kampus semacam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan lainnya yang bersaing untuk menguasai organisasi intra kampus Dewan dan Senat Mahasiswa. Trilogi novel sama sekali tidak mengaitkan dengan organisasi ekstern kemahasiswaan. Kisah kampus berpolitik eksternal di masa Orla sudah saya tulis dalam novel “Jentera Lepas”. Silakan dibaca.

Pada masa Orba, organisasi CGMI yang berafiliasi aliran kiri sudah hilang, tetapi sisanya masih ada yaitu mahasiswa dengan organisasi ekstern seperti  HMI dan GMNI. Saat menulis novel CdKB saya bercerita tentang kehidupan mahasiswa di kampus,  bersih dari unsur-unsur organisasi ekstern. Sebagai aktivis, sepenuhnya dalam aktivitas pembelajaran dan organisasi intra kampus seperti Dewan/Senat Mahasiswa.

Dari mana asal “biru”? Aktivis tahun 1970-an mahasiswa perkotaan umumnya memakai celana jin warna biru (blue jean) impor dari Amerika Serikat. Itu pakaian mahal, populer sebagai celana koboi, dilarang selama Orla yang anti barat. Sering tentara merazia anak muda bercelana jin dan menggunting kaki celana yang dipakai. Sikap anti barat dari rezim Orla lenyap bersamaan dengan tegaknya pemerintahan Orba yang berorientasi pada modal asing.

Dengan celana jin biru itu juga mengacu pada gerakan kaum muda Amerika Serikat yang anti perang dan melakukan perlawanan pada kekuasaan mapan (establishment) baik kapitalis maupun komunis yang dianggap mengungkung kebebasan. Banyak orang muda ini begitu juga aktivis Indonesia tahun 1970-an, terpesona dengan gagasan Herbert Marcuse dengan bukunya One-Dimensional Man, Studies in the Ideology of Advanced Industrial Society (1964).

Novel CdKB dibuka dengan tokoh utama yang leyeh-leyeh di balik kerimbunan semak. Kakinya terjulur, dan ketika dia keluar dari balik semak, dia membersihkan pantat celananya dari rerumputan. Secara filmis, kaki terjulur dan saat dia mengibas-ngibas celananya, dengan film berwarna, tentulah terekspos jin birunya. Dia seorang aktivis kampus, dalam romantisasi cerita, dia tidak berkait dengan organisasi ekstern.

Nah, tokoh novel kita kegiatannya: kuliah, ke perpustakaan, ujian, riset, dan organisasi intra kampus. Jangan lupa, pacaran tentunya. Dan berupaya lulus tepat waktu, sebab aktivis ideal bukan yang macet studinya.

Demikianlah cerita warna biru itu. Jadi dalam cerita romantis itu tema tersirat dari celana jin biru sebagai simbolisme pemberontakan anak muda pada kekuasaan.