Kenangan Melintas (1)

 

PENGANTAR

Pada bulan Juli 2010, di saat saya mengakhiri status sebagai pegawai negeri sipil yang bertugas mengajar di Universitas Gadjah Mada dengan masa kerja 40 tahun, sejumlah teman baik saya memberikan kejutan, dengan suatu pesta meluncurkan buku berjudul Ashadi Siregar: Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru (Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta 2010). Buku itu merupakan kumpulan tulisan yang disunting oleh Candra Gautama, Nanang Junaidi, Muhammad Taufiqurrohman, dan Ana Nadya Abrar.

Tentulah saya sangat berterimakasih, sekaligus terharu atas perhatian teman-teman saya,  yang menulis untuk mengisi buku itu maupun mempersiapkan secara diam-diam penerbitannya. Pestanya diadakan di Yogyakarta dan Jakarta. Walaupun sempat saya bercanda: “Pensiun kok dipestakan… Mungkin karena saya berhasil meniti hidup sebagai pegawai pemerintah, beruntung tidak sempat dipecat rezim Orde Baru di tengah perjalanan?”

Banyak hal yang diungkapkan dalam buku itu, baik mengenai diri saya maupun pengalaman teman-teman yang bergaul dengan saya. Banyak hal yang tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya, baru saya sadar setelah dituliskan oleh teman-teman itu. Rupanya selama ini saya menjalani kehidupan dengan mengalir begitu saja, tanpa meneliti apa dan bagaimana yang saya alami. Baru belakangan saya menimbang-nimbang, terutama setelah seorang teman yang sangat lama terpisah, mengontak saya, dia separoh menuntut agar saya juga menulis tentang diri saya (Dari Kamerad, posting Juli 2010).  Tentunya banyak hal otentik yang tidak mungkin diketahui oleh orang lain, dapat saya ungkapkan.

Perlu menulis yang otentik, tanpa berpretensi membuat otobiografi, itulah kira-kira landasannya. Perjalanan dengan mengorek dunia dalam (inner world) mungkin akan lebih bermanfaat, terutama untuk anak cucu atau pun bekas mahasiswa yang sudah menjadi teman baik saya.

Karenanya saya coba menuangkannya dalam tulisan yang saya kasi judul: KENANGAN MELINTAS. Betul, banyak kenangan melintas saat saya berusaha melihat ke masa lalu. Dan sebagai lintasan, tentulah banyak yang hanya sebagai bayangan baur. Akibatnya, mungkin tulisan ini bak meracau. Biarlah. Tokh pembaca pun tentunya akan maklum karena yang menulis seorang lanjut usia (lansia).  Matur nuwun. Mauli ate. Terimakasih.


 

KENANGAN  MELINTAS (1)

ASHADI SIREGAR

 

 

  1. SISWA DI TAMAN BAMBU ( 1)

 

Perguruan Taman Siswa sangat berarti bagi saya, dan saya sangat berterimakasih pada institusi pendidikan yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara itu. Apa hubungannya? Ya, sebab perguruan inilah yang menyebabkan saya menyandang nama seperti sekarang: Ashadi.

Begini kisahnya.

Saya berasal dari keluarga Muslim yang taat. Kakek (ompung) saya dari pihak ayah,  seorang Batak dari Sipirok Tapanuli Selatan, setelah tua bernama Harun Rasyid, waktu mudanya kabarnya hanya Rosid saja, menggunakan marga Siregar. Tak pelak marga ini menimbulkan tandatanya, sebab kebanyakan keluarganya, menggunakan marga Ritonga, yaitu marga cabang dari Siregar yang berasal dari keturunan Siregar bernama Silali. Juga isterinya, nenek saya bernama Halimah berasal dari Sipirok, boru Sagala. Jadi keduanya betul-betul Batak asli. Kalau di antara pembaca ada bermarga Ritonga, jika tarombo atau garis keturtunan ini diungkapkan, kiranya dapat dilihat posisi hubungan satu sama lain berasal dari ompung-ompung yang sama.

Ompung saya anak ketiga, saudaranya adalah Syeh Taib, Ja Solonggahon, dan Kali Mangantar. Jadi dari keempat bersaudara itu, 2 nama nama bersumber Arab, dua  lainnya khas Batak. Ayah ompung saya bernama Mangaraja Huraba, juga empat bersaudara, yang tiga yaitu Chalipah Sobar, Chalipah Sutan, dan Ompu Binangan.  Dalam bahasa Batak tidak dikenal istilah kakek buyut, andai sempat ketemu, saya membahasakan mereka semua amang mangulahi  (ayah yang berulang), begitu sebutan untuk ompungnya ayah saya. Ayah dari Mangaraja Huraba bernama Ja Sinaro, ayahnya bernama Ja Soaloon. Sebagaimana lazimnya di lingkungan Batak, tarombo atau garis keturunan ini dapat dilacak sampai sumber pertama yaitu Si Raja Batak. Konon saya adalah keturunan ke-23 dari Si Raja Batak yang ada di Pusuk Buhit, dan ke-16 dari Ritonga pertama. Begitu yang dipercayai dari kisah yang diturunkan  dari generasi ke generasi. Mana yang legenda mana yang sejarah dari tarombo tidak pernah dipersoalkan oleh orang Batak. Kalau sempat ingin juga saya  menulis ulang tarombo ini dari catatan-catatan yang berserakan, untuk diketahui anak cucu agar dapat menghayati tertempelnya marga di namanya.

Nah, kembali ke ompung saya, mengapa dia dan anak-anaknya menggunakan marga Siregar di tanah perantauan,  tidak pernah diungkapkannya.  Hanya dari cerita-cerita yang tidak terkonfirmasi oleh sejarahwan,  pada masa kolonial Belanda, marga Ritonga tidak populer bahkan terdiskriminasi, sebab konon ada figur bermarga Ritonga melawan Belanda di Sipirok. Karenanya setiap bermarga yang sama dicurigai. Semoga ada sejarahwan bermarga Ritonga yang tertarik menelusurinya. Siapa tahu ada kakek moyang Ritonga yang dapat disebut pahlawan nasional.

Adapun ompung  saya merantau ke Sumatera Timur, dan menetap di Pematangsiantar. Mungkin untuk memudahkan langkahnya, dia menggunakan marga Siregar. Marga Siregar di Sipirok sangat dihargai Belanda, kendati umumnya beragama Islam, ada tokoh marga Siregar yang menyediakan tanah untuk zending Kristen. Karenanya berkat jasa leluhur bermarga Siregar itu, saat agama Kristen masih ditolak oleh pengikut  Si Singamangaraja di Toba, kota Sipirok menjadi tempat awal menancapkan kaki di bumi Batak. Karenanya  Sipirok tercatat dalam sejarah pertumbuhan agama Kristen Batak.

Dengan kejeliannya ompung saya dapat memiliki  tanah yang luas di kawasan yang kemudian dikenal sebagai Kampung Melayu. Saat masih kecil saya masih sempat menikmati buah dari pohon-pohon durian, manggis, sawo dan lainnya di keluasan tanah belakang rumah ompung  saya. Menurut kisah, untuk menguasai tanah di jaman itu cukup menetapkan  batas-batas yang ditunjuk bersama saksi-saksi di depan pejabat gubernemen, lalu dicatatkan dan dibuatkan surat keterangan.  Maka warga yang melek huruf  Latin sangat diuntungkan, sebab mudah berurusan di kantor pemerintah.  Saya tidak tahu tingkat pendidikan ompung  saya, namun yang jelas dia dapat baca-tulis Latin, selain Arab tentunya. Kendati begitu, kalau bermarga Ritonga, tentu kecil kemungkinannya berhasil berurusan di kantor gubernemen. Taktik memakai marga Siregar ini tidak salah, sebab Siregar adalah marga induk dari Ritonga. Sementara saudara-saudara ompung  saya lainnya  yang belakangan merantau ke Sumatera Timur setelah jaman Jepang dan kemerdekaan, tidak lagi memakai Siregar, tetapi menyematkan marga Ritonga di namanya.

Memang tidak ada yang salah, orang Batak biasa menggunakan marga induk atau marga cabang. Tetapi sekarang menjadi aneh, sebab ompung dan anak  cucunya  berbeda dengan saudara-saudaranya yang menyandang marga Ritonga. Soal marga ini tidak pernah dibincangkan di lingkungan keluarga ompung  saya. Jadi begitu saja, anak turunannya menggunakan marga Siregar. Tetapi beberapa saudara saya biasanya melibatkan diri dalam kegiatan sosial kumpulan Ritonga.

Yang pernah diceritakan, ompung  saya naik haji saat perjalanan laut harus ditempuh berminggu-minggu dari Sumatera, dan bermukim di Mekah berbulan-bulan sebelum ada kapal untuk kembali. Pada waktu saya kecil, kami sekeluarga pernah  mengantar ompung saya untuk bersuluk (khalwat), yaitu mengasingkan diri dengan hanya berdoa di salah satu tempat tarekat. Setelah 40 hari ompung dijemput. Saya tidak tahu aliran tarekat yang diikutinya. Sebelum dan sesudah naik haji, sehari-hari, sambil berdagang di pasar, ompung  menjadi marbout sekaligus bilal yang sangat ditunggu di mesjid pada masa belum direcoki loudspeaker  elektronik. Ompung  meningggal dalam usia 84 tahun, saat saya duduk di SMA tahun 1963.

Kakek (datuk)  saya dari pihak ibu, bernama Syech Abdurachim Al Chalidi, seorang Minangkabau yang menikah dengan nenek, seorang perempuan Batak bernama Siti Aisyah boru Siregar dari Sipirok. Karenanya anak-anaknya di kalangan Minang diangap sebagai Batak mengikuti ibunya, sedang di kalangan Batak dianggap sebagai Minangkabau seturut ayahnya. Ibu saya delapan bersaudara. Datuk dan nenek saya itu lama bermukim di Mekah, kemudian menjadi penyebar agama Islam dari daerah ke daerah, alkisah sampai ke Malaya. Belakakangan nenek saya tidak lagi mengikuti perjalanan datuk berdakwah, kemudian nenek menetap di Pematangsiantar. Sedang datuk pada akhirnya bermukim di Gunung Sugi Lampung dengan mendirikan semacam pesantren. Dari keluarganya yang ada di sana, saya memiliki beberapa mamak, namun tidak pernah bertemu datuk dan anak-anaknya. Datuk meninggal dalam usia lanjut. Sampai saat menulis naskah ini saya belum pernah menziarahi datuk di Guning Sugi, tetapi menurut orang yang suka berkunjung, makam Tuan Syech itu dipandang keramat sebagai sumber barokah.

Dengan latar kakek dan nenek kedua pihak, maka saya biasa mendengar ayah dan ibu saya mendaras Qur’an pada malam hari. Belum pernah saya selidiki, sudah berapa lapis generasi di atas ompung yang Batak dan datuk yang Minangkabau,  keluarga kami menganut agama Islam. Sedang hubungan Islam dengan saya, pada tingkat awal adalah melalui sebuah kitab Al-Qur’an keluarga kami. Setiap anaknya lahir, ayah saya menuliskan tanggal (Hijriyah dan Masehi), jam kelahiran, dan tabalan nama dengan aksara Arab dan Latin di halaman dalam kover kitab itu. Sampai anak ketiga, yaitu saya, nama-nama yang diberikan berasal dari bahasa Arab karenanya tidak ada masalah dalam aksaranya. Sedang nama anak keempat dan berikutnya (kami delapan bersaudara) diberi nama Indonesia, saya tidak tahu apakah aksaranya masih sesuai dengan kaidah penulisan Arab.

Saya lahir 3 Juli 1945  di rumah sakit  di kota Pematangsiantar, di masa kritis akhir pendudukan Tentara Jepang. Rumah sakit itu peninggalan Belanda, dan kota itu pada masa kolonial berastatus sebagai kotapraja (gemente) pemerimtahan Hindia Belanda. Nama yang dilekatkan pada saya sangat berbau Arab, menurut ibu saya, variasi dari kata Arab yang berarti beruntung atau bersyukur atau semacamnya. Ini bertolak belakang dengan situasi masa itu. Konon saat-saat itu tentara pendudukan Jepang yang mengalami kekalahan di berbagai front peperangan melawan Sekutu,  mereka bertindak semakin keras di wilayah yang masih dikuasainya. Ayah saya aktivis perjuangan pada masa kolonial Belanda, seturut pendudukan Jepang, ikut menjadi bagian dari organisasi sipil yang dibentuk sebagaimana dianjurkan Bung Karno dari Jakarta. Entah kenapa, menjelang akhir kekuasaan pendudukan,  Kempetai yaitu polisi militernya Jepang, menahan ayah saya. Sayang sekali dia tidak sempat bercerita masa lalunya. Karena tidak ada kedekatan dengan ayah, sehingga dia tidak pernah berbincang-bincang dengan anak-anaknya. Saya hanya mendengar cerita ibu saya, yang tidak mengalami sendiri penahanan itu. Jadi kurang akuratlah kalau saya berani-berani mengungkapkan mengapa dan bagaimana Jepang menahannya, padahal ayah saya ikut aktif dalam organisasi bentukan pemerintah pendudukan yang diberi nama BOMPA (Badan Oesaha Membantu Pertahanan Asia Timur Raja).

Kembali ke urusan nama saya, bermula saat saya mulai masuk pendidikan formal Sekolah Rakyat atau Sekolah Rendah yang disingkat SR pada tahun 1952. Saya tidak pernah di frobel, taman kanak-kanak di masa itu. Sekolah yang saya masuki merupakan  bagian dari Perguruan Taman Siswa, disebut Taman Muda. Semua guru di sekolah itu orang Jawa, sudah saya kenal sebab sering berkunjung ke rumah kami.

Saat mendaftar sekolah, saya tidak diurus orang tua. Pada hari pertama sekolah abang saya setelah libur kenaikan kelas, berangkat ke sekolah. Saya hanya “ngintil” dia yang sudah lebih dulu bersekolah di situ. Saya diantar dan ditinggal di ruang kepala sekolah, lalu dia masuk ke kelasnya, kelas tiga. Itulah sumber ‘kecelakaan’ yang sangat saya syukuri. Saat mengisi buku pendaftaran, yang bertugas (guru atau kepala sekolah, saya lupa)  menanyakan usia saya.

“Tujuh,” jawab saya.

Tetapi kelihatannya dia masih ragu, mungkin karena tubuh saya kecil dan kerempeng. Pada masa itu tidak ada akte kelahiran atau surat kenal lahir. Untuk mengecek apakah sudah pantas mengikuti persekolahan, saya disuruh melingkarkan tangan kanan untuk memegang telinga kiri dari atas kepala. Dengan tangan yang kurus tentu saja telinga terpegang. Dia mengangguk-angguk. Jadi oke.

“Siapa nama kamu?”

Saya menyebutkan nama lengkap, bukan nama panggilan rumah: Adi. Tetapi telinga Jawanya tidak familiar dengan nama yang saya sebut.

“Siapa?” ulangnya.

Saya sebut per suku kata sebagaimana dipesankan ibu saya sebelumnya.  Dia menuliskan di buku tulis yang besar. Lalu selesai. Saya diantar masuk ke kelas, sudah ada beberapa murid disitu. Saya diperkenalkan pada guru di kelas itu. Langsung mengikuti pelajaran.

Memang saya tidak lama di Sekolah Taman Muda Taman Siswa itu, tetapi akan membekas selamanya, walaupun tidak seorangpun di antara teman sekelas saya ingat namanya. Mereka pun saya yakin tidak mengingat saya,berbeda dengan murid SD Menteng tetap ingat Barack Obama yang sebenarnya tidak lama sebagai teman sekolah mereka. Bangunan sekolah saya berdinding kepang bambu (gedek), di beberapa bagian bolong, dengan lantai tanah, beratap rumbia. Saya ingat lantainya yang tanah liat, sebab sepulang di rumah saya kerepotan mencuci sepatu menghilangkan tanah yang menempel di sepatu kanpas pertama saya yang baru dibeli di toko De Zon. Saya ingat sekolah itu beratap rumbia sebab ada tombak matahari yang menembus celah dari atas. Karenanya tentunya menimbulkan tandatanya mengapa ayah yang sudah menjadi pejabat pemerintahan di kota itu menyekolahkan saya di situ, bukan ke sekolah negeri yang punya gedung mentereng peninggalan Belanda. Saya tidak pernah menanyakan alasan orang tua. Belakangan saja saya berusaha mencari jawaban, menempatkan dalam kaitan dengan perjuangan orang tua saya. Tetapi itu nanti saya ceritakan.

Saat mulai bersekolah, ruang kelas dengan bangku panjang, satu bangku diduduki dua murid. Di pinggir depan meja ada bolongan untuk menempatkan gelas berisi tinta. Belajar menulis pakai sabak (lembar tipis batu hitam) untuk ditulisi dengan grip. Nanti kalau sudah lancar barulah menggunakan kertas dengan pena yang setiap kali dicelupkan di gelas tinta saat menulis. Menulis dengan pena harus hati-hati, sebab ujungnya yang runcing mudah merobek kertas.

Di dinding gedek kelas, berjajar gambar pahlawan, seperti Diponegoro,  Imam Bonjol, RA Kartini, Pattimura, dan lainnya. Gambar dibuat tangan, mungkin hanya sedikit kemiripan dengan para pahlawan itu. Tetapi tidak asing bagi saya, sebab di rumah kami, dinding dihiasi gambar semacam itu. Tidak ada gambar pemandangan yang indah, seperti saya saksikan di rumah orang lain. Dengan belajar pada kelas satu di sekolah itu kemampuan intelek awal saya dibentuk. Disitu saya mulai belajar membaca dan berhitung. Saya dapat membaca dan menulis aksara dan angka pada kelas satu itu. Yang paling membekas adalah agenda bercerita yang selalu diisi oleh guru (saya tidak ingat nama dan sosok guru yang mengajar), saya tidak pernah lupa kisah tentang gambar-gambar orang yang tertempel di dinding. Setiap gambar punya dongeng yang menawan. Semua dilisankan. Seingat saya, saat di kelas satu itu tidak ada dongeng binatang seperti kancil yang penipu. Setiap menjelang pulang, guru selalu bercerita. Ada saja kisah tersisa dari orang yang tertempel di kepang bambu itu yang belum diceritakan hari-hari sebelumnya.

Kemudian tiba saatnya membawa pulang rapor kuartal pertama, saya belum dapat membaca apa yang tertulis di rapor itu. Tetapi ayah saya menerima rapor itu, dan menandatangani begitu saja. Dengan begitu apapun yang tertulis di rapor itu kelak menjadi identitas saya.

Disitu nama saya tertulis: Ashadi. Saya tidak tahu apakah ada arti nama itu, berbeda dengan nama asli saya. Sampai kapan pun begitulah adanya. Di seluruh ijasah saya, bahkan sampai surat kenal lahir yang dikeluarkan pejabat daerah setamat saya dari SMA.  Belakangan saya menimbang-nimbang, mendingan seperti itu. Atau bersyukur sebab saat itu saya belum mengaji Qur’an, sehingga belum bisa melafalkan bunyi “syin” (aksara ke-13 hijaaiyyah) dan “ain” (aksara ke-18).

Bahwa dari awal ayah saya tidak mempersoalkan perubahan nama itu, tetap menjadi misteri bagi saya. Saya bayangkan, jika saya menjadi seorang ayah pastilah akan mengirim surat koreksi ke sekolah jika nama yang diberikan pada anaknya salah tulis. Pengalaman saya sebagai orang tua, nama yang saya reka untuk anak saya melalui renungan berhari-hari, dengan alternatif  beberapa nama. Mengapa ayah saya membiarkan begitu saja kesalahan tulis dari sekolah itu? Atau mungkinkah ayah saya merasa nama yang diberikannya itu terlalu “berat” bagi saya di masa depan? Dengan nama yang ditabalkannya: “Asy’addi”  sudah terbayang betapa sering orang akan salah mengejanya. Nama itu itu tentu akan asing bagi telinga orang-orang dengan berbagai latar belakang. Sudah terbukti, guru Taman Siswa yang keturunan Jawa pun salah dengar untuk nama pemberian ayah saya.

Tetapi belakangan saya menafsirkan sikap ayah dan ibu saya perihal nama saya. Diam-diam agaknya orang tua saya menganggap saya perlu membuang nama lama itu. Tetapi di kalangan keluarga kami tidak lazim ganti nama. Orang Batak di Tapanuli Selatan biasa mendapat gelar sebagai nama baru jika menikah. Di lingkungan suku  lain ada kebiasaan ganti nama jika seorang anak mengalami kehidupan yang kurang baik. Ganti nama diupacarai untuk menghilangkan nahas. Apakah perubahan nama saya yang tidak disertai upacara itu ada kaitannya dengan titik hidup-mati yang saya alami saat saya berusia dua tahun? Ya, boleh jadi ayah dan ibu saya merasa perlu nama lama saya ditinggalkan, sehingga nama yang dilekatkan oleh guru Taman Siswa diterima begitu

Saya tidak pernah dekat dengan orang tua, baik pada ayah maupun ibu. Panggilan pada kedua orang ayah dan ibu, bukan amang-inang, papa-mama, atau papi-mami. Tidak pernah ada kebiasaan mengobrol santai dengan orang tua. Mungkin cara panggil yang sangat Indonesia itu tidak lazim di lingkungan saya saat itu. Tetapi panggilan yang sama kemudian saya terapkan pada anak-anak saya. Kendati isteri saya berasal dari Manado, yang biasa dengan panggilan papi-mami, saya bersikeras menuntut anak-anak saya menyebut ayah dan ibu bagi orang tuanya.

Ayah saya bernama Abdul Aziz dan ibu saya biasa dipanggil Ibu Aziz. Nama gadisnya Nurhasniah, keduanya aktivis perjuangan sejak zaman kolonial, biasa disebut sebagai orang pergerakan. Kalau ada cerita romantis, agaknya harus ditempatkan dalam latar itu. Tetapi saya tidak punya secuil pun dongeng menyangkut keduanya, sebab saat saya berada di Sumatera Utara sampai usia 19 tahun, tidak pernah terpikir untuk menelusurinya. Sedang sekarang, teman-teman segenerasinya sudah lama berpulang. Ayah saya meninggal di usia 48 tahun pada 27 September 1965,  saat saya tahun kedua sebagai mahasiswa. Ibu saya sendiri meninggal dalam usia 85 pada tahun 2007.

Yang jelas, ayah dan ibu saya pengikut setia sebagai nasionalis, keduanya aktif di partai yang didirikan oleh Sukarno. Dari sini dapat dipahami mengapa orang tua saya memasukkan anak-anaknya untuk dididik di bangunan sekolah yang mirip kandang kambing. Sebab semua guru di sekolah itu teman seperjuangan mereka, biasa disebut kaum nasionalis. Kelihatannya ibu saya sangat bangga sebagai orang pergerakan. Ayah saya meninggal dan kemudian dimakamkan di Taman Pahlawan Pematangsiantar sebagai veteran pejuang kemerdekaan, yang tertulis di nisannya adalah jabatan ayah saya masa perang kemerdekaan, Wedana Militer – Kapten, bukan jabatannya terakhir sebagai Bupati diperbantukan di Kantor Gubernur Sumatera Utara.

***

Iklan
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: