KUANTAR… (1)

Mari bernostalgia dengan dua buku tentang Pekerja Seks Komersial (PSK). Saat buku ditulis akhir tahun ‘70 dan awal ‘80-an, atribut PSK belum diperkenalkan. Istilah yang digunakan “pelacur” atau Wanita Tuna Susila (WTS). Jadi dapat dimaklumi kalau sebutan itu bertaburan di setiap halaman  Jangan protes. Tokh kedua buku sudah tidak dicetak ulang. Belakangan berbagai buku tentang dunia remang-remang dan jasa seks bermunculan.

MENYUSURI REMANG-REMANG JAKARTA

Oleh Yuyu AN Krisna

Penerbit Sinar Harapan

Jakarta 1979

143 halaman

PRAWACANA    Oleh: Ashadi Siregar

APAKAH berjulukan hetaerae yang cerdas dan terhormat di Yunani kuno, ataukah meretrice yang melata di masarakat bawah Romawi, tapi apa bedanya? Seks sebagai komoditi telah menumbuhkan suatu profesi yang memerlukan totalitas diri seba­gai modal kerja. Hubungan seks antara dua jenis manusia sudah setua adanya manusia di muka bumi ini. Tetapi mengapa masih menjadi persoalan?

Pelayanan seks dalam kerangka kultural menyebabkan wanita pelakunya mendapat kehormatan luhur, sebagaimana gadis-gadis candi (temple maidens) yang mempersem-bahkan kepera-wanannya dalam upacara agama masarakat purba. Sedang hetaerae yang anggun, tanpa kikuk hadir dalam pesta-pesta celebrity yang cemerlang. Tapi sang me­retrice diperhina dengan dipaksa memakai wig dan pakaian khusus untuk menandai profesinya sementara bergelandangan di pojok kota.

Lantas, apa bedanya temple maidens, hetaerae, meretrice, atau apapun namanya jika dilihat perilaku manusianya? Bukankah masarakat yang memberi warna pada profesi itu? Bagaimana masa­rakat memberi penilaian terhadap perilaku seks yang diangkat ke kehidupan luar, akan melahirkan posisi sosial seseorang penjaja seks.

Pada masa ini seolah-olah kita sudah punya kesepakatan tentang warna profesi ini. Kelam. Itu agaknya yang menyebabkan kita melihat keremang-remangan kehidupan ini. Kehidupan semacam ini dianggap patologis. Sekian buku ilmiah tebal telah ditulis orang, mencoba mengatasi penyakit sosial ini. Sekian pula fiksi dikarang de­ngan berbagai sikap: mengutuk atau bersimpati pada kehidupan persundalan. Sementara penjajaan komoditi ini berlangsung terus.

Maka kita pun melihat aktivitas ini sebagai sisi hitam dalam kehidupan sosial kita. Semakin meng-gumpal dan keras kesepakatan sosial kita, semakin bersembunyi perdagangan ini. Sehingga, kejamnya masarakat menghukum para penjaja, bukannya melenyapkan, tapi hanya mampu melahirkan manusia-manusia hipokrit. Perdagangan seks terselubung semakin rapi mengatur diri dalam sisi sosial kita yang megah. Sedangyangdilegalisir oleh pemerintah, menampung anggota masarakat yang melata, yang siap menerima kutuk dalam beban nasibnya.

Antara keterselubungan yang mewah dan keterbukaan yang papa ini, membuat kian lama kita semakin dihadapkan dengan ukuran penilaian so­sial yang bergerak dalam ketidakpastian. Kita pun layak mempertanyakan, apa sebenarnya lagi yang menyebab-kan kita menganggap aktivitas penjajaan diri ini berwarna kelam? Penyakit kelamin yang dijangkitkannya dari tubuh ke tubuhkah? Atau pelanggaran peraturan daerah yang mengatur lokasi perdagangan seks? Ataukah alasan mendasar yang sangat klasik sejak zaman Nabi Musa: larangan berzina?

Begitulah, dari sisi mana kita melihat, akan menentukan warna pandangan kita.Sementara perilaku jual-beli itu tak pernah berubah dari abad ke abad. Dan semakin terbelah sikap kita meman-dang, semakin bervariasi pula spektrum warna pan­dangan kita. Nilai sosial pun kian relatif. Kita tak tahu lagi persis, mana yang baik, mana yang buruk; kecuali barangkali jika dikembalikan pada sumber nilai yang paling asasi, prinsip agama. Tapi sejauh manakah prinsip agama masih fungsional dalam kehidupan sosial? Jika prinsip agama beranjak dari rasa takwa pada Tuhan, dan ini sifatnya sangat individual, siapakah yang menganggapnya masih relevan terhadap kehidupan sosial kita yang hiruk di masa ini?

Mau tak mau di sini kita diajak bersikap adil dalam menilai. Keadilan hanya berarti memberikan apa yang menjadi hak seseorang, begitu konon. Lalu bagaimana perkiraan kita tentang hak sosial seorang pelacur? Lalu sampai berapa jauh batas toleransi kita pada hak sosial itu?

Kesemua pertanyaan ini tak mungkin kita peroleh jawabannya dari prinsip-prinsip atau norma-norma yang tegar. Norma hanya bersikap menghukum. Padahal penilaian yang adil memerlukan pemahaman realitas. Karena itu gambaran tanpa prasangka diperlukan agar kehidupan penjaja seks ini bisa dikenali lebih dalam lagi.

Remangkah kehidupannya, ataukah cemerlang dalam pesta para eksekutif, sebenarnya menyatu dalam sikap dasar yang sama. Sikap dasar ini bertolak dari pandangan mengenai tubuh sendiri, dan makna seks bagi dirinya. Bahwa tubuh merupakan modal kerja, dan seks adalah aktivitas yang punya nilai yang jangkauannya tidak sebatas rumah tangga. Dari sikap dasar semacam inilah lahir motif yang beraneka.

Motif gadis desa tandus yang terseret arus urbanisasi tentunya akan berbeda dengan peragawati yang Jakarta-Tokyo PP. Sarinem di Kramattunggak mengambil aktivitas ini sejalan dengan kemiskinan di desanya, sehingga dia punya kekuatan untuk menghadapi beban kehidupan sektor ini. Itulah sebabnya dia sanggup berdiam di kandang yang bernama lokalisasi dengan totalitas diri. Sementara si cantik yang berlenggok di cat-walk, atau nyonya jet-set, menjalani kehidupan ganda dalam keterhormatan gaya di satu sisi, dan penjajaan diri di sisi lain. Dan apa motif mereka, hanya bisa kita pahami dengan mendengarkan impian-impian mereka.

Impian-impian wanita yang bergulat dalam kamar apak di pojok pelabuhan atau disejuki a.c. hotel internasional, bukankah sama saja dengan impian kita? Kemiskinan kita, gengsi kita, kesom­bongan kita, bukankah itu semua melahirkan impian-impian kita selama ini? Jika si Sarinem mengimpikan hidup sekeluarga dalam batas yang layak, dan kalau bisa membeli sawah yang bisa produktif kelak setelah modal kerja sekarang menjadi afkir, bukankah ini impian kita juga? Atau Nona Excelent yang mengimpikan mercy-tiger, masuk ke kehidupan bergaya dalam berbagai party, bukankah ini impian kita juga?

Cuma, impian untuk hidup dalam batas standar dan hidup luksurius, ini yang menjadikan perbedaan yang satu dengan yang lain. Ini agaknya yang menyebabkan kita memiliki nuansa penilaian yang berbeda pula terhadap kehidupan yang mereka jalani untuk merealitaskan impian itu.

Sebenarnya kita semua mengejar impian masing-masing. Ada impian yang lahir dari lapar, ada yang muncul dari tamak. Begitulah wanita penjaja seks, dari apar kita melihat keterus-terangan yang pahit, sedang tamak akan terselubung dalam lapis keterhormatan sosial. Dengan pola motif inilah yang menjadikan penjajaan seks berbeda dalam cara. Semakin banyak kita ketahui cara perdagangan itu, semakin jelas bagi kita betapa seks benar-benar sudah menjadi komoditi yang berharga. Seiring itu pula, semakin sadar kita betapa se­makin pudarnya nilai seks yang bersifat luhur dan pribadi di tengah masarakat kita.

Karena itu pertanyaan-pertanyaan etis mengenai kehidupan wanita penjaja seks, tambah menggoda rasanya. Jawabannya tidak dapat hanya dipetik dari penyelesaian-penyelesaian sosial belaka. Mungkin akan jauh ke dalam pada sikap menilai seks. Sehingga kekayaan pemahaman kita mengenai kehidupan perdagangan seks ini akan mengajarkan betapa lapar, tamak, bahkan mungkin iseng, telah menjadikan seks sebagai komoditi, berfungsi ekonomi.

DOLLY, MEMBEDAH DUNIA PELACURAN SURABAYA

Kasus Kompleks Pelacuran Dolly

Oleh Tjahjo Purnomo Wijadi dan Ashadi Siregar

Penerbit Grafiti Pers

Jakarta 1983

156 halaman

KATA PENGANTAR

B

AHAN baku untuk penulisan buku ini adalah satu skripsi yang diajukan untuk mencapai gelar sarjana sosial di Fakul­tas Ilmu Sosial Universitas Airlangga tahun 1982. Skripsi itu berjudul Latar Belakang Sosial Kehidupan Wanita Tuna­susila – Kasus: Kompleks Pelacuran “Dolly” Surabaya, oleh Tjahjo Pumomo Wijadi.

Penulisnya, yang mengaji ilmu sosiologi, tiba pada kesadaran bahwa semua manusia memiliki nilai hidup yang sama, dengan kedirian yang lemah, yang dituntut harus bereksistensi dalam realitas. Oleh karena itu, yang mendasari sikapnya adalah pemikiran agar tiap manusia memperoleh dirinya yang sesungguhnya, agar nilai-nilai yang tak di­sadarinya atau dihilangkan oleh kekuasaan di luar dirinya dapat men­jadi miliknya yang autentik dan disadari sepenuhnya. Maka, ilmu sosiologi tak layak memberi penilaian normatif, dan lebih-lebih “menghukum”.

Berbulan-bulan penulis mengamati langsung kehidupan di kom­pleks pelacuran “Dolly”. Ini melahirkan ketertarikan yang kian kuat, membuat semakin ingin menyeruak lebih mendalam menyingkap tabir-tabir kehidupan para pelacur itu, untuk mengetahui latar bela­kang mereka sesungguhnya.

Dalam mewujudkan skripsi tersebut, sudah tentu banyak pihak yang turut terlibat di dalamnya. Terutama yang telah membimbing penulis selama penelitian dan penulisan skripsi, Drs. Hotman Siahaan, di bawah koordinasi Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Airlangga Soetandyo Wignjosoebroto MPA. Keduanya patut menerima ucapan terima kasih. Juga terima kasih penulis kepada Pembantu Dekan I FIS Unair dr. R. Koento, MPH, M.A.; Walikota Surabaya Drs. Muhadji Widjaja.

Kehidupan dalam dunia pelacuran biasanya penuh kecurigaan ter­hadap pendatang yang tidak sekadar ingin memuaskan hajat seks. Meskipun penulis sudah berusaha terjun sepenuhnya dalam observasi partisipan, tanpa fasilitas keamanan, penelitian akan sulit dilakukan. Maka, pada tempatnya diucapkan terima kasih kepada Komandan Resor Kepolisian Kota II Surabaya; Camat Sawahan Drs. Moch. Rosuli; Lurah Putat Jaya Makoen Pribadi dan stafnya, A. Hadi Asyari; serta Peltu TNI-AD Kasmanoe; Serda TNI-AD Sobiyanto, Djoeroe; Kopda Mar. Djupri S.; yang kesemuanya unsur Rukun Warga setempat.

Kemudian penulis juga berutang budi pada rekan-rekan sekuliah yang berperhatian sama dalam bidang penelitian, antara lain Sri Haryati, Tri Susantari, dan Amirzah yang telah banyak berkorban dalam penelitian ini.

Penelitian dilakukan sejak Oktober 1980 hingga Juli 1981 (10 bulan). Dan selama penelitian ini penulis nyaris tak mampu menyele­saikannya, akibat masih kuatnya penilaian normatif dari lingkungan, terutama pada saat penulis melakukan penelitian kualitatif selama 6 bulan pertama seorang diri dengan observasi partisipan. Tak jarang tuduhan bermoral “bejat” ditimpakan pada penulis. Di samping itu, penelitian kualitatif yang membutuhkan totalitas diri sempat mem­buat penulis jatuh bangun. Masuk ke tengah-tengah kompleks pela­curan sampai larut malam, untuk mengamati denyut kehidupannya, sungguh berat rasanya. Apalagi harus mengikuti irama kehidupan para “gali” setempat, sering terpaksa ikut minum minuman keras yang akibatnya mengganggu kesehatan penulis.

Tetapi, semuanya harus dilalui, penulis hanya bisa bersikap “duduk meraut ranjau, tegak meninjau jarak.” Sebagai hasilnya adalah skripsi sepanjang 1.202 halaman ketik kuarto (950 plus 252 halaman lam­piran).

Tentulah tidak seluruhnya dapat diterbitkan sebagai buku. Oleh karenanya, skripsi setebal bantal itu kemudian disunting, dan penyun­tingan dilakukan oleh Ashadi Siregar. Penyunting membuat susunan baru dengan maksud agar lebih asyik dibaca. Sebab, suatu skripsi de­ngan pola-pola penulisan yang lazim untuk dunia akademis belum tentu menarik bagi pembaca umum. Maka, telah dilakukan perombak­an tetapi tetap menggunakan data yang terdapat di dalam skripsi.

Dalam perkembangan penulisan suntingan, ternyata ada beberapa bagian yang harus ditinggalkan, dan ada pula yang harus ditambah dengan data baru yang tidak terdapat dalam skripsi. Untuk itu Tjahjo Purnomo Wijadi melakukan lagi penelitian tambahan.

Akhirnya, jadilah wujudnya dalam bentuk buku ini. Dan dalam kesepakatannya, penulis skripsi dan penyunting merasa bertanggung jawab bersama atas isi buku ini.

Betapa pun sederhananya, kehadiran buku ini diharapkan dapat memberi sumbangan bagi khasanah pengetahuan sosial, terutama me­nambah pengertian tentang suatu sisi kehidupan sosial yang ada di dekat kita juga. Dan akhirnya, buku ini bukanlah karya sempurna, karenanya sudilah pembaca yang lebih arif membukakan pintu untuk pandangan yang lebih luas. Kesalahan dalam buku ini, jika disingkat minta diulas, jika panjang minta dikerat.

Surabaya – Yogyakarta, Agustus 1982

T.P.W. & A.S.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 35 pengikut lainnya.