Dari 12 novel itu hanya 5 yang saya baca serius dan tuntas. Tentu termasuk yang saya sebut trilogi cinta di UGM (Cintaku DI Kampus Biru, Gugapai Cintamu,dan Terminal Cinta Terakhir). Saya masih teringat ketika masih di SMA Seminari di Flores bagaimana kami berebutan setelah makan siang di asrama untuk membaca salah satu novel yang dimuat secara bersambung di KOMPAS (yang hanya satu dan datang ke sana setelah tiga hari KOMPAS terbit di Jakarta, jadi KOMPAS Senin, kami baca di Flores Timur baru hari Kamis, itu antara tahun 1979 – 1982). Namun asyik, pokoknya asyik, meskipun kami korbankan istirahat siang yang mestinya wajib. Lebih senang lagi ketika di Yogya (1983-1988) saya dapat puisinya WS Rendra yang diinspirasi dari novel Terminal Cinta Terkhir, kalau tidak salah judulnya “Sajak Widuri Untuk Joki Tobing”NAMUN SAYANG ketika sejak 2005 sampai sekarang saya buka beberapa Rumah Baca untuk anak-anak dan remaja di pinggiran kota Batam, para remaja, bahkan mahasiswa kurang tertarik dengan novel2 bermutu ini, meskipun saya dan istri promosi habis. Mereka lebih suka teenlith dan semacamnya. SAYA BERPIKIR kalau Pa’ Ashadi komentarlah perihal teenlith yang marak sekarang gimana?? Terima kasih.
Novel karya Ashadi Siregar yang pertama kali saya baca adalah Warisan Sang Jagoan, ketika saya masih SMP kelas 3, tahun 1977. Kisahnya benar-2 merasuk dalam jiwa meskipun novel tersebut kategori sebenarnya adalah dewasa. Tidak terhitung berapa kali membacanya tanpa bosan sedikitpun, sayang saya kehilangan novel tersebut. Novel selanjutnya yang saya baca adalah Sirkuit Kemelut setelah itu Cintaku di kampus biru, Kugapai Cintamu, Terminal cinta terakhir dan Frustasi puncak gunung. Menurut saya itu semua yg saya baca tadi merupakan novel yg luar biasa karena selalu dapat membawa pembacanya menjadi pelaku tokoh didalamnya, seolah saya menjadi Mardan di Warisan sang jagoan atau Anton di Cintaku di kampus biru. Bung Ashadi, teruslah berkarya meskipun sudah pensiun…….., saya menunggu.
saat SMA membaca novel2 Bang Adi, pikiran saya cuma satu … lulus SMA masuk ke Publisistik atau Sastra dan jadi novelis. Ternyata setelah tamat publisistik … malah jadi PNS diancuuk … piye iki bang ? 4 tahun lagi pensiun, jangankan jadi novelis, jadi PNS yang bener saja enggak ….
Karya Bang Hadi menjd salah satu pendorong sy untuk kuliah di ugm. Sbg remaja dr sebuah tempat nun jauh di pedalaman sumatera gambaran tentang kuliah di ugm yg serba indah sy peroleh dr buku Cintaku Di Kampus Biru. Setelah itu hampir semua buku karya Bang Hadi sy koleksi kecuali Sunyi Nurmala. Tks untukninspirasinya!
Pieter P Pureklolong
/ 12 Oktober, 2009Dari 12 novel itu hanya 5 yang saya baca serius dan tuntas. Tentu termasuk yang saya sebut trilogi cinta di UGM (Cintaku DI Kampus Biru, Gugapai Cintamu,dan Terminal Cinta Terakhir). Saya masih teringat ketika masih di SMA Seminari di Flores bagaimana kami berebutan setelah makan siang di asrama untuk membaca salah satu novel yang dimuat secara bersambung di KOMPAS (yang hanya satu dan datang ke sana setelah tiga hari KOMPAS terbit di Jakarta, jadi KOMPAS Senin, kami baca di Flores Timur baru hari Kamis, itu antara tahun 1979 – 1982). Namun asyik, pokoknya asyik, meskipun kami korbankan istirahat siang yang mestinya wajib. Lebih senang lagi ketika di Yogya (1983-1988) saya dapat puisinya WS Rendra yang diinspirasi dari novel Terminal Cinta Terkhir, kalau tidak salah judulnya “Sajak Widuri Untuk Joki Tobing”NAMUN SAYANG ketika sejak 2005 sampai sekarang saya buka beberapa Rumah Baca untuk anak-anak dan remaja di pinggiran kota Batam, para remaja, bahkan mahasiswa kurang tertarik dengan novel2 bermutu ini, meskipun saya dan istri promosi habis. Mereka lebih suka teenlith dan semacamnya. SAYA BERPIKIR kalau Pa’ Ashadi komentarlah perihal teenlith yang marak sekarang gimana?? Terima kasih.
Mazpree
/ 17 Juli, 2010Dimana saya bisa dapat Karya Ashadi berupa Novelet terbitan Maj.Kartini berjudul “KARENA AKU TAK MENGENALMU” Mohon informasinya. Trims.
Dadi
/ 15 Oktober, 2010Novel karya Ashadi Siregar yang pertama kali saya baca adalah Warisan Sang Jagoan, ketika saya masih SMP kelas 3, tahun 1977. Kisahnya benar-2 merasuk dalam jiwa meskipun novel tersebut kategori sebenarnya adalah dewasa. Tidak terhitung berapa kali membacanya tanpa bosan sedikitpun, sayang saya kehilangan novel tersebut. Novel selanjutnya yang saya baca adalah Sirkuit Kemelut setelah itu Cintaku di kampus biru, Kugapai Cintamu, Terminal cinta terakhir dan Frustasi puncak gunung. Menurut saya itu semua yg saya baca tadi merupakan novel yg luar biasa karena selalu dapat membawa pembacanya menjadi pelaku tokoh didalamnya, seolah saya menjadi Mardan di Warisan sang jagoan atau Anton di Cintaku di kampus biru. Bung Ashadi, teruslah berkarya meskipun sudah pensiun…….., saya menunggu.
Wedho Chrisnarno
/ 11 Mei, 2012saat SMA membaca novel2 Bang Adi, pikiran saya cuma satu … lulus SMA masuk ke Publisistik atau Sastra dan jadi novelis. Ternyata setelah tamat publisistik … malah jadi PNS diancuuk … piye iki bang ? 4 tahun lagi pensiun, jangankan jadi novelis, jadi PNS yang bener saja enggak ….
Ashadi Siregar
/ 12 Mei, 2012Konon lulusan publisitik namanya publisis, “kerja’nya ya nulis untuk pers. Kalau lulusan komunikasi, bukannya komunikator, tapi … mbuh…
liestia d
/ 12 Mei, 2012Karya Bang Hadi menjd salah satu pendorong sy untuk kuliah di ugm. Sbg remaja dr sebuah tempat nun jauh di pedalaman sumatera gambaran tentang kuliah di ugm yg serba indah sy peroleh dr buku Cintaku Di Kampus Biru. Setelah itu hampir semua buku karya Bang Hadi sy koleksi kecuali Sunyi Nurmala. Tks untukninspirasinya!