<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ashadisiregar's Weblog</title>
	<atom:link href="http://ashadisiregar.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ashadisiregar.com</link>
	<description>Tempat untuk berbagi tentang jurnalisme dan kebudayaan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 14:46:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ashadisiregar.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ashadisiregar's Weblog</title>
		<link>http://ashadisiregar.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ashadisiregar.com/osd.xml" title="Ashadisiregar&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ashadisiregar.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Untuk Peminat Penulisan</title>
		<link>http://ashadisiregar.com/2011/10/10/untuk-peminat-penulisan/</link>
		<comments>http://ashadisiregar.com/2011/10/10/untuk-peminat-penulisan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 14:40:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ashadi Siregar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ashadisiregar.com/2011/10/10/untuk-peminat-penulisan/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam berbagai kesempatan saya mengisi kegiatan pelatihan/workshop penulisan fiksi dan non-fiksi. Bahan-bahan yang digunakan dalam pelatihan itu saya tempatkan di blog ini. Uraian untuk penulisan non-fiksi boleh dikatakan bersifat teknis, sebagai pegangan sederhana. Sedang untuk penulisan fiksi, saya sadari tentu tidak hanya berkaitan dengan masalah teknikalitas, sebab menuntut pengembangan daya imajinasi. Sering dibilang, masalah imajinasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1172&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam berbagai kesempatan saya mengisi kegiatan pelatihan/workshop penulisan fiksi dan non-fiksi. Bahan-bahan yang digunakan dalam pelatihan itu saya tempatkan di blog ini. Uraian untuk penulisan non-fiksi boleh dikatakan bersifat teknis, sebagai pegangan sederhana.<br />
Sedang untuk penulisan fiksi, saya sadari tentu tidak hanya berkaitan dengan masalah teknikalitas, sebab menuntut pengembangan daya imajinasi. Sering dibilang, masalah imajinasi merupakan proses kreatif &#8220;berdarah-darah&#8221;, dalam arti menuntut upaya kerja yang sangat personal dan otentik. Karenanya dalam workshop untuk fiksi, bahan-bahan tersebut hanya sebagai pegangan, sekadar pengantar untuk proses pengembangan kreativitas imajinatif.<br />
Dengan memperkongsikan bahan penulisan disini, berarti saya menyediakan diri sebagai partner diskusi bagi yang berminat dalam pengembangan kemampuan penulisan. Jangan sungkan.<br />
Bahan ditempatkan di laman Untuk Penulisan, dalam berkas-berkas:<br />
01-PELUANG PENULISAN<br />
02-PENULISAN LAPORAN ILMIAH<br />
03-PENULISAN ARGUMENTATIF<br />
04-KARANGAN FIKSI<br />
05-PENULISAN SKENARIO</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ashadisiregar.wordpress.com/1172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ashadisiregar.wordpress.com/1172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ashadisiregar.wordpress.com/1172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ashadisiregar.wordpress.com/1172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ashadisiregar.wordpress.com/1172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ashadisiregar.wordpress.com/1172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ashadisiregar.wordpress.com/1172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ashadisiregar.wordpress.com/1172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ashadisiregar.wordpress.com/1172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ashadisiregar.wordpress.com/1172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ashadisiregar.wordpress.com/1172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ashadisiregar.wordpress.com/1172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ashadisiregar.wordpress.com/1172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ashadisiregar.wordpress.com/1172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1172&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ashadisiregar.com/2011/10/10/untuk-peminat-penulisan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef7f55f5bdee516ece1211405a0a3a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ashadisiregar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Zulkifly Lubis, Kawan Saya&#8230;.</title>
		<link>http://ashadisiregar.com/2011/09/18/zulkifly-lubis-kawan-saya/</link>
		<comments>http://ashadisiregar.com/2011/09/18/zulkifly-lubis-kawan-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 14:04:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ashadi Siregar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ashadisiregar.wordpress.com/?p=1148</guid>
		<description><![CDATA[Satu per satu sahabat berlalu. Terakhir Zulkifly Lubis, kawan galang-gulung bersama saat muda di Yogya, perkawanan yang berlanjut sampai tua, dia di Jakarta saya tetap di Yogya. Saat saya menerima kabar dia tidak dapat bertahan lagi pada hari Minggu 11 September 2011, ada rasa sesal yang menyesak, sebab sejak dia sakit dalam terpaan kanker paru-paru [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1148&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu per satu sahabat berlalu. Terakhir Zulkifly Lubis, kawan galang-gulung bersama saat muda di Yogya, perkawanan yang berlanjut sampai tua, dia di Jakarta saya tetap di Yogya. Saat saya menerima kabar dia tidak dapat bertahan lagi pada hari Minggu 11 September 2011,  ada rasa sesal yang menyesak, sebab sejak dia sakit dalam terpaan kanker paru-paru sampai perginya, saya selalu menunda membezuknya. Saya bertanya-tanya, ada apa dengan diri saya, sehingga tidak bersegera menemui kawan yang sakit? Saya berusaha membongkar diri saya, sampai pada kesimpulan: saya selalu berharap dapat bertemu dalam kondisi seperti yang biasa kami jalani. Kumpul-kumpul, guyon-guyon, percandaan yang sering menimbulkan keheranan bagi orang lebih muda, yang tidak mengetahui latarbelakang pergaulan di antara kami (Zulkifly Lubis, Daniel Dhakidae, Masmimar Mangiang, saya, kalau ditambah dengan yang duluan pergi: Ciil/Syahrir, Aini Chalid, Bram Zakir. Anak-anak yang lebih muda, bagaimana bisa membayangkan, cara bergaul dari masa muda bisa bertahan, sedikitpun tidak berubah, sampai lansia? Mungkin karena satu pun tidak ada yang menjabat sebagai birokrat, sehingga tidak pernah ‘dirusak’ formalisme dunia kantor pemerintahan).</p>
<p>Sepanjang sakitnya Zul, berkali-kali, saat usai meeting dengan Daniel Dhakidae di Jakarta atau Yogya, selamanya kami sampai pada kesepakatan: “nantilah, tunggu waktu yang tepat saat Zul sudah dapat duduk, dan keluar dari RS biar kita kongkow seperti biasa.”</p>
<p>Rupanya Daniel juga punya masalah psikhis yang sama, tidak rela teman pergi, karenanya tetap mempertahankan bawah sadar bahwa seorang kawan harus tetap seperti sebelumnya. Tetapi belakangan saya mendapat sms dari Daniel bahwa dia baru mengunjungi Zul di RS, menyampaikan rencana kami untuk kongkow makan bakmi ala jawa di Santika (tempat saya biasa nginap di Jakarta). Kondisi Zul membuat dia sudah tidak dapat bicara, tetapi air matanya mengalir, kata Daniel. Dan tanggal 11 September 2011, Zul pergi mendului kawan-kawannya.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Saya selalu berharap Zul berbahagia dalam profesinya, mulai dari reporter Majalah Tempo sampai pensiun sebagai salah satu Direktur di korporasi Tempo. Sebab dari perjalanannya bermula dari Yogya, saya tidak tahu, apakah terjun sepenuhnya ke dunia jurnalisme memang pilihannya, atau karena pusaran arus yang menariknya.</p>
<p>Saya mengenalnya mulai dari saat bersama dalam gerakan anti korupsi di Yogya akhir ’60-an atau awal ’70-an. Belakangan saya baru tahu dia juga kuliah di Fakultas yang sama, Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada, dia di jurusan Pemerintahan atau Administrasi Negara (saya kurang pasti) dan saya sendiri di jurusan Publisistik. Saat itu kami kuliah di Sitihinggil/Pagelaran bagian Kraton Yogyakarta. Sejak awal saya masuk ke jurusan itu karena memang kepingin jadi wartawan, mengira dari situ jalannya. Sedang Zul, saya tidak tahu cita-citanya.</p>
<p>Kemudian kami sangat akrab, bersama kawan-kawan lain yang juga aktivis anti korupsi seperti Imam Yudhotomo, Umbu Landu Paranggi, Fauzi Ridjal, akhirnya pergaulan di luar kampus lebih banyak kami jalani. Seingat saya, tidak pernah ketemu atau janjian dengan Zul di fakultas, bertemu selamanya di rumah kosnya di Beji atau salah satu warung di Malioboro.</p>
<p>Zulkifly Lubis memasuki dunia jurnalisme sebagai lanjutan dari aktivisme. Saat itu dia masih mahasiswa tetapi waktunya lebih banyak sebagai aktivis. Karenanya pers yang digiatinya bukan media profesional, melainkan pers aktivis. Lahirlah Mingguan Sendi tahun 1971, di situ Zul sebagai Pemimpin Umum, dan saya sebagai Pemimpin Redaksi.</p>
<p>Mingguan Sendi dibiayai Pater Depoortére, seorang pastur. Ada kisah tentang pendonor ini: beliau mendapat warisan dana yang lumayan dari ibunya. Hal yang tidak saya ketahui sebagai Muslim, bahwa ternyata seorang pastur tidak boleh memiliki kekayaan/pemilikan pribadi. Jadi pilihannya, dana harus diserahkan pada gereja atau organisasi Katolik, atau digunakan untuk keperluan sosial. Beliau memutuskan mendukung aktivitas kemahasiswaan, dengan menyediakan modal untuk penerbitan pers mahasiswa (Dari sini mata saya terbuka untuk bergaul intens dengan kalangan Katolik, kemudian tercermin dalam beberapa novel saya).</p>
<p>Istilah pers mahasiswa saat itu tidak berbeda dengan koran umum, seperti halnya Harian Kami di Jakarta, atau Mahasiswa Indonesia di Bandung. Karenanya jenis koran yang sama diharapkan dapat terbit di Yogya. Mingguan Sendi punya Surat Ijin Terbit (SIT) berkat Zul yang susah payah mengurusnya ke Departemen Penerangan di Jakarta, mulai terbit pada November 1971.</p>
<p>Karenanya dapat saya pahami betapa terpukulnya dia saat mingguan Sendi hanya sempat terbit 13 edisi, untuk kemudian dibredel. Dalam surat resmi Deppen disebutkan “penerbitan dihentikan sementara”. Bagi saya, itu sama pelarangan terbit, dengan pencabutan SIT. Tetapi Zulkifly masih punya harapan. Dengan berdesakan di kereta api, dia ke Jakarta, mencari dukungan dari sejumlah wartawan senior dan eks aktivis yang duduk di DPR dan pemerintahan agar pembredelan sementara itu dicabut. Dia pulang seraya membawa umpatan, terutama ditujukannya pada seorang seorang wartawan senior yang berkomentar negatif, menganggap wajar mingguan Sendi dibredel. Tetapi <strong>Harian Kami</strong> membuat tajuk rencana memerotes pembredelan itu.</p>
<p>Saya menghibur hati panas Zul, dengan mengatakan bahwa anggapan “wajar” itu boleh diartikan “masuk akal dibredel” mengingat keterkaitan isi mingguan Sendi dengan gerakan aktivis saat itu. Gerakan anti Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang diprakarsai Nyonya Tien Suharto merebak di Jakarta, Bandung, Yogya dan berbagai kota besar lainnya. Kritik langsung bahkan ada yang dengan bahasa kasar terhadap Nyonya Tien, bagi Suharto tentunya dipandang kebangetan. Jadi, terimalah keadaan. Kita hanya perlu bersiap, setelah pembredelan, apa yang menyusul?</p>
<p>Saya menerima pembredalan itu, tetapi rasa sesal dan prihatin yang terberat adalah ketika mengetahui bahwa Pater Depoortére diintimidasi Kodam Diponegoro, berkali-kali diinterogasi intel tentara. Hanya karena dia sudah lama sebagai WNI, ancaman untuk diusir dari Indonesia tidak dapat dilaksanakan.</p>
<p>Rasa sesal itu melahirkan semacam rasa penebusan bagi saya, tatkala kemudian saya diadili sebagai Pemred/Penanggungjawab Mingguan Sendi. Saat itu Zulkifly sibuk mencari dukungan, antara lain dari Adnan Buyung Nasution yang saat itu memimpin Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Bang Buyung bersedia menjadi pembela, tetapi karena handikap waktu dan jarak, dia  membuat surat meminta agar LBH Yogya sebagai pembela. Zul dan saya menemui ketua LBH Yogya. Begitu mendengar permasalahan yang dihadapi, sang ketua LBH berdalih dengan ucapan berbelit-belit, kesimpulannya tidak dapat menjadi pembela. Agaknya dia ngeri, mengingat dalam berbagai kesempatan, Panglima Kodam Diponegoro menyatakan bahwa Mingguan Sendi telah menghina negara dan Pancasila, karenanya akan dilakukan tindakan tegas. Kami hanya tertawa, yang disindir Nyonya Tien, yang terhina kok negara dan Pancasila?</p>
<p>Tetapi begitulah, sang pengacara ketakutan. Saya lupa apa yang diucapkan sang ketua LBH (sebab saya tidak suka mengingat kalimat yang tidak menyenangkan). Yang jelas, sambil boncengan di sepeda motor, Zulkifly mengumpat-umpat. Umpatan tak kunjung selesai, sampai kami duduk ngopi di warung. Dengan muka yang tegang, sampai urat-urat di jidatnya menonjol, Zul melampiaskan kemarahan. Baginya sangat memuakkan sekaligus menyedihkan bahwa LBH ditangani pengacara yang takut menghadapi perkara politik. (Mudahnya Zul muntap, seolah kemarahan sampai merasuk ke hati, sering saya lihat, dan karenanya selalu, saya ingin meredakan “tensi” tingginya).</p>
<p>Kemudian kami ke Solo, menemui ketua LBH setempat, Mr Sumarno. Disini barulah kami mendapat penawar yang menyejukkan hati. Mr Sumarno bersedia menjadi pembela, sepenuhnya pro-deo. Dengan mobil sendiri, Mr Sumarno Solo-Yogya pp, setiap kali menghadiri persidangan.</p>
<p>Kalau ketua LBH Yogya saat itu mengetahui hasil persidangan, tentunya dia tidak perlu takut. Persidangan bersifat obyektif, kendati jaksa menggunakan haatzaai artikelen (pasal-pasal kebencian) dengan ancaman hukuman berat, pengadilan menyatakan bahwa saya bersalah menghina kepala negara, tetapi hanya menjatuhkan hukuman 3 (tiga) bulan dengan 6 (enam) bulan masa percobaan. Artinya saya tidak menjalani hukuman penjara. Tahun 1972 kekuasaan Suharto belum merasuk ke dalam lembaga peradilan. Bandingkan dengan hukuman yang dijatuhkan pengadilan terhadap aktivis tahun 1974, terlebih hukuman aktivis tahun 1978.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Tahun 1972, boleh dikata tidak ada kegiatan radikal. Gerakan mahasiswa mereda, aktivis masuk ke wilayah intelektual. Kelompok kami (eks Sendi dan beberapa aktivis lain) tetap terpelihara, dengan lebih banyak mengadakan diskusi-diskusi akademik. Saya masih mengajar di jurusan Publisistik, kawan-kawan yang sudah di tingkat akhir fakultas, kembali menekuni sekolahnya. Karenanya kelompok ini rajin menyelenggarakan diskusi, dengan “membajak” (menghadirkan narasumber tanpa honorarium) setiap peneliti yang sedang berada di Yogya untuk penulisan thesis atau disertasi. Tema-tema yang dibahas dalam diskusi itu bak rangkaian simposium universitas, andai ada piranti perekam seperti sekarang dan hasilnya ditranskrip, entah berapa banyak buku yang bisa lahir.</p>
<p>Teman-teman menyukai <em>intelectual exercise</em> yang berharga itu. Seingat saya Zul juga menikmati diskusi-diskusi itu. Tetapi saya kira, dia tidak terdorong untuk kajian akademik seperti yang dibahas para narasumber itu. Saya sendiri menikmati kegiatan diskusi, tetapi saya belum dan tidak yakin bakal diangkat sebagai dosen tetap pegawai negeri. Sebenarnya saya ingin kembali ke cita-cita awal, menjadi wartawan sepenuhnya, tetapi mengingat kasus yang saya alami, saya juga gamang memasuki dunia jurnalisme. Karenanya pada periode serba ‘nanggung’ itu, saya berniat menulis novel.</p>
<p>Sebelumnya saya sudah banyak menulis cerpen, dimuat di majalah dan koran mingguan di Jakarta dan Bandung. Di samping itu saya biasa mengirim artikel opini (kolom) ke suratkabar nasional seperti Kompas dan Sinar Harapan. Setelah kasus Mingguan Sendi, saya berhenti menulis opini, dan memutuskan untuk mulai menulis novel.</p>
<p>Nah, selama pengembangan gagasan itu, saya biasa keluyuran dengan sepeda motor mengunjungi tempat sepi, hanya untuk ngelamun. Pada beberapa kesempatan, Zul mau menemani saya. Saya kerap singgah di tempat kosnya, lalu kami berboncengan. Sangat enak membonceng Zul, sebab badannya ikut bersama belokan. (Ilustrasi: Berbeda dengan Aini Chalid, setiap duduk di sadel, dia seperti melawan gravitasi bumi, sehingga belokan terganggu. Karenanya sewaktu perjalanan ke Kaliurang, saya bilang: “Aini, kita bisa jatuh kalau badanmu melawan arah belokan. Aku kurus, paling banter terbanting, kau bulat &#8230;, nanti kau menggelinding ke bawah sana!” Entah bagaimana sejak itu oleh kawan-kawan,  Aini di’parabi’ si gelinding).</p>
<p>Pada hemat saya, Zulkifly seorang manusia bergerak (“man of action”), karenanya tanpa kegiatan fisik, sementara kawan-kawan asyik dalam diskusi akademik, tentulah dia kesepian. Selain itu ada persamaan kami lainnya, yaitu sebagai perokok berat. (Di antara kelompok Sendi, mungkin hanya kami berdua sebagai perokok “sungguhan”, lainnya hanya ikut-ikutan menghabiskan rokok yang ada. Saya mutlak berhenti merokok sejak 25 tahun yang lalu, sedang Zul sangat sulit menghentikannya).</p>
<p>Saya mabuk dalam dunia novel tahun 1972 di antaranya menulis Cintaku di Kampus Biru. Dalam pengembangan gagasan, saya memerlukan semacam ‘pengembaraan”, yaitu dengan hanya berdiam diri, atau kalaupun percakapan tentang dunia sehari-hari, bukan diskusi akademik yang menggelisahkan untuk mencari buku teks penunjang, Pengembaraan semacam ini adalah masuk ke dunia fiksi yang mengalir, bukan teori yang analitik. Disini perlu saya mencatat betapa banyak melibatkan Zul sepanjang ‘pengembaraan’ saya. Percakapan dengannya mengingat-ingat situasi di Medan, atau kelakuan “anak-anak” Medan yang umumnya “bergaya” di Yogya, berbeda dengan anak-anak BTL, yaitu sebutan untuk “Batak Tembak Langsung,” yang tidak mengalami hidup di Medan atau Siantar langsung ke Jawa. Zul besar di Medan, sedang saya kelahiran Siantar.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Pergaulan Zulkifly dalam konteks kesenian menguntungkan saya. Sebelum saya mengenalnya, dia sudah sering bergaul dengan kalangan seni, akrab dengan pelukis Rusli, WS Rendra, dan seniman lainnya. Keakrabannya dengan Rendra di antaranya dengan mendukung pementasan Rendra, dan Zulkifly Lubis menjadi salah seorang inisiator diselenggarakan Perkemahan Kaum Urakan di pantai Parangtritis tahun 1971.</p>
<p>Saya tidak ingat bagian mana dari proses kreatif saya yang ditunggui oleh Zulkifly. Tetapi yang jelas, di antara kawan saya, hanya dia yang dapat saya ajak ngeluyur malam, sebab dia tidak pernah mengeluh mau kuliah besok. Dia menemani saya nongkrong di warung-warung desa, bahkan tiduran di makam-makam yang dikeramatkan orang Jawa (Belakangan baru saya tahu dia sangat takut pada hantu dan sejenisnya, dan setelah dia terbebas dari phobia itu, baru dia cerita. Masya Allah, sekian malam ternyata saya asyik dengan lamunan sendiri, sementara kawan saya sebenarnya sedang ketakutan). Saya berusaha mengingat-ingat apa tujuan bermalam di makam-makam tua, tokh saya tidak berniat mencari dan tidak percaya adanya berkah dari makam. Mungkin hanya menikmati hening dan remang-remang di pemakaman itu. Tetapi yang jelas bagi saya adalah kerelaan Zul mengikuti kegendengan saya.</p>
<p>Persahabatan dengan Zulkifly berlanjut saat dia ke Jakarta mulai sebagai reporter Majalah Tempo. Saya tidak kehilangan, sebab masih sering kontak, saya bahkan pernah menjadi koresponden daerah majalah itu. Setiap ke Jakarta, saya tidak lagi nginap di Wisma Seni di TIM, tapi nebeng tidur di tempat kosnya. Satu novel saya, Terminal Cinta Terakhir saya selesaikan di tempat kos itu, pada saat saya sangat bosan di Yogya. Begitu dijilid, langsung saya antar naik helicak (sejenis becak bermesin) dari Utan Kayu lewat Senayan, ke Harian Kompas di kantor yang sederhana, diterima redaktur budaya mas Alfons Taryadi. Hebatnya, Kompas saat itu belum dirasuki manajemen yang rumit, mas Alfons langsung mengurus honor novel, sekaligus honor artikel saya yang belum sempat diweselkan tatausaha. Beberapa hari kemudian kami menikmati hidup sebagai orang kaya.</p>
<p>Kendati ingin tahu, saya tidak pernah menanyakan, apakah Zul menikmati kerja sebagai reporter itu, sebab seingat saya, dia lebih sesuai sebagai “pengatur”. Ketika di Sendi, meskipun setiap personel terkena kewajiban menulis berita, Zul lebih banyak berkutatan dalam hubungan dengan pendana, percetakan, negosiasi pembelian kertas, dan sejenisnya.</p>
<p>Tetapi kemudian saya membaca laporan yang ditulisnya di Tempo, termasuk perjalanan ke Hongkong sangat mengesankan saya. Belakangan, ketika saya mulai aktif menggerakkan Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogya (LP3Y) setiap kali mengadakan seminar atau simposium untuk pendidikan jurnalisme di Yogyakarta, Zulkifly Lubis pasti hadir memberikan masukan yang penting. Pengalaman praktisnya sangat berguna melengkapi rencana-rencana konseptual untuk pendidikan wartawan. Disitu saya menangkap kesan atas antusiasmenya dalam dunia jurnalisme. Karenanya saya menyimpulkan dia bahagia menjalani profesinya, sekaligus sangat terpukul ketika Tempo beberapa kali dibredel.</p>
<p>Pada bredel tahun 1994 dengan pencabutan Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), atas permintaan Zul, saya sempat menjadi saksi ahli dalam gugatan Tempo di Pengadilan Tata Usaha Negara. Kendati gugatanTempo dimenangkan, tetapi SIUPP Tempo tidak dipulihkan. Deppen memberikan SIUPP untuk majalah baru seolah pengganti Tempo. Untuk itu saya menunjukkan penolakan terhadap majalah itu, dengan ikut tanda tangan pernyataan tidak akan mendukung majalah itu. Kemudian menulis kolom berulangkali di majalah DR yang menampung sejumlah personel Tempo.</p>
<p>Berikutnya beberapa kali saya mengunjunginya, dan pertemuan lebih intensif saat Zul bersama Gunawan Muhamad mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI). Disitu Zul sebagai Bendahara Yayasan, sedang saya sebagai salah satu Dewan Pengawas. Belakangan saya mengetahui, Gunawan Muhamad dan Zulkifly Lubis mendirikan dan mengelola Pusat Kebudayaan Komunitas Salihara. Berkali-kali janjian dengan Zul, untuk ketemuan di sana, tidak pernah kesampaian. Beberapa kali saya nonton pertunjukan di Salihara, tetapi tidak mengontak Zul. Aneh? Saya menikmati tontonan sebagai konsumen umum, begitu pun memandangi bangunan di kompleks Salihara itu, sembari membayangkan Zulkifly Lubis, sang pengatur.</p>
<p>Di luar itu kami selalu bertemu. Karenanya saya tidak pernah merasa berpisah, meskipun dia tinggal di Jakarta. Dan sekarang, dia telah pergi mendului teman-temannya, sekaligus bertemu teman-teman lain. Bertemu, pergi, dan bertemu lagi, apa bedanya &#8230; ?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ashadisiregar.wordpress.com/1148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ashadisiregar.wordpress.com/1148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ashadisiregar.wordpress.com/1148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ashadisiregar.wordpress.com/1148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ashadisiregar.wordpress.com/1148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ashadisiregar.wordpress.com/1148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ashadisiregar.wordpress.com/1148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ashadisiregar.wordpress.com/1148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ashadisiregar.wordpress.com/1148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ashadisiregar.wordpress.com/1148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ashadisiregar.wordpress.com/1148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ashadisiregar.wordpress.com/1148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ashadisiregar.wordpress.com/1148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ashadisiregar.wordpress.com/1148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1148&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ashadisiregar.com/2011/09/18/zulkifly-lubis-kawan-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef7f55f5bdee516ece1211405a0a3a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ashadisiregar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TENTANG NOVEL</title>
		<link>http://ashadisiregar.com/2011/07/05/tentang-novel/</link>
		<comments>http://ashadisiregar.com/2011/07/05/tentang-novel/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jul 2011 17:48:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ashadi Siregar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ashadisiregar.wordpress.com/?p=1069</guid>
		<description><![CDATA[Sejumlah mahasiswa yang membuat karya tulis tentang novel-novel karya saya mengontak saya untuk wawancara (umumnya lewat imel). Saya menyadari bahwa jawaban saya sangat tidak memadai, sebab jarak saya dengan novel-novel itu sudah kelewat jauh. Saya tidak punya kebiasaan membaca ulang karya saya, apalagi perhatian saya belasan tahun ini hanyalah pada bidang jurnalisme dan studi media. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1069&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejumlah mahasiswa yang membuat karya tulis tentang novel-novel karya saya mengontak saya untuk wawancara (umumnya lewat imel). Saya menyadari bahwa jawaban saya sangat tidak memadai, sebab jarak saya dengan novel-novel itu sudah kelewat jauh. Saya tidak punya kebiasaan membaca ulang karya saya, apalagi perhatian saya belasan tahun ini hanyalah pada bidang jurnalisme dan studi media. Sehingga banyak hal yang tidak saya ingat dari novel maupun proses penulisannya. Saya mohon maaf sebab jawaban saya untuk wawancara-wawancara itu lebih banyak bersifat pengabaian.</p>
<p>Setiap kali mengklik ‘<em>send</em>’ untuk imel jawaban, ada perasaan bersalah, mengingat orang-orang muda yang berniat menulis ulasan itu tentu berharap banyak dari saya. Karena ‘kepikiran’ terus, saya berusaha mencari resensi atau ulasan tentang novel-novel dan proses penulisannya. Saya berharap, biarlah resensi-resensi sejumlah pemerhati itu sebagai pembanding bagi kajian yang sedang dilakukan, agar tidak ‘menuntut’ saya menjelaskan karya-karya yang sudah menjadi masa lalu bagi saya.</p>
<p>Saat ini saya memang penuh ‘nafsu’ untuk menyelesaikan novel yang terbengkalai sekian tahun ini. Karenanya mohon dimaklumi, saya sangat ingin menjauh dari novel-novel saya sebelumnya.</p>
<p>Beruntung di kantor saya terselip sejumlah kliping koran dan majalah. Dan beruntungnya pula, ada software yang bagus untuk scan dan convert kliping tua, meskipun, apa boleh buat, ada juga yang tidak ‘terbaca’ oleh scanner. Maka saya tampilkan di blog ini hasilnya, berupa resensi dan ulasan berkaitan dengan novel-novel karya saya. Saya berharap ada di antara rekan yang mengetahui keberadaan resensi dan ulasan lainnya yang tidak tercantum di sini, berkenan mengabari.</p>
<p>Selain itu, diluar resensi dan ulasan novel, saya menemukan kliping ceramah saya di Taman Ismail Marzuki berkaitan dengan dorongan dan proses penulisan novel saya yang kemudian dimuat di Majalah Budaya Jaya.</p>
<p>Senarai naskah yang di-pdf-kan di bawah ini, saya tempatkan pada laman TENTANG-NOVEL.</p>
<p>David T. Hill, <strong><em>ALIENATION AND OPPOSITION TO AUTHORITARIANISM IN THE NOVELS OF ASHADI SIREGAR</em></strong> &#8211; Scan &amp; convert dari: REVIEW OF INDONESIAN AND MALAYAN AFFAIRS (RIMA),  Department of Indonesian and Malayan Studies, University of Sydney, Vol. 13, No. 1, June 1979, pp. 25 &#8211; 43.</p>
<p>David T. Hill, <strong><em>“WARISAN SANG JAGOAN&#8221;: Mencari Kebenaran &#8211; </em></strong>Scan &amp; convert dari: SKH KOMPAS, 21 JULI 1978David T. Hill, <strong><em>Seks Dan Politik: Pembahasan &#8220;JENTERA LEPAS&#8221;</em></strong> &#8211; Scan &amp; convert dari: Majalah HORISON, no 3-4 /1982</p>
<p>Alfons Taryadi, <strong><em>Berharga meski porak-poranda &#8211; </em></strong>Ashadi Siregar, JENTERA LEPAS (Jakarta: Cypress 1979) 281 halaman &#8211; Scan &amp; convert dari: SKH KOMPAS, 2 Maret 1980</p>
<p>Bakri Siregar, <strong><em>Kisah Budiman dan Mbakyu Sinto</em></strong> &#8211; JENTERA LEPAS, Karya novel: Ashadi Siregar, Tebal: 281 halaman, Penerbit: Cypress, Jakarta, 1980 &#8211; Scan &amp; convert dari: Majalah Berita Mingguan TEMPO, no 14 th X, 31 Mei 1980</p>
<p>Tombak Matahari, <strong><em>Sunyi Nirmala, Sunyi Orang Kota</em></strong> &#8211; SUNYI NIRMALA, oleh Ashadi Siregar, penerbit Karya Unipress, Jakarta, 1982 -  Scan &amp; convert dari: Dwi Mingguan MUTIARA, no 277, 15-28 September 1982</p>
<p>Ashadi Siregar, <strong><em>Untuk Siapa Saya Menulis (Melihat Novel sebagai Medium Komunikasi Sosial) &#8211; </em></strong>Scan &amp; convert dari: Majalah BUDAYA JAYA, no 117 th 11-Februari 1978 hal 99 – 107</p>
<p>Ashadi Siregar, <strong><em>Bagaimana seorang pengarang &#8220;Jatuh hati&#8221; pada tokohnya? &#8211; </em></strong>Scan &amp; convert dari: Majalah ZAMAN, no 15/th I &#8211; Minggu II &#8211; Januari 1980</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ashadisiregar.wordpress.com/1069/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ashadisiregar.wordpress.com/1069/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ashadisiregar.wordpress.com/1069/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ashadisiregar.wordpress.com/1069/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ashadisiregar.wordpress.com/1069/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ashadisiregar.wordpress.com/1069/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ashadisiregar.wordpress.com/1069/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ashadisiregar.wordpress.com/1069/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ashadisiregar.wordpress.com/1069/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ashadisiregar.wordpress.com/1069/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ashadisiregar.wordpress.com/1069/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ashadisiregar.wordpress.com/1069/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ashadisiregar.wordpress.com/1069/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ashadisiregar.wordpress.com/1069/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1069&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ashadisiregar.com/2011/07/05/tentang-novel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef7f55f5bdee516ece1211405a0a3a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ashadisiregar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DARI KAMERAD</title>
		<link>http://ashadisiregar.com/2010/07/08/dari-kamerad/</link>
		<comments>http://ashadisiregar.com/2010/07/08/dari-kamerad/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 05:45:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ashadi Siregar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ashadisiregar.wordpress.com/?p=1064</guid>
		<description><![CDATA[TESTIMONI Oleh Ashadi Siregar Ponsel saya berbunyi, panggilan masuk, tanpa nomor, tampilan private. Dari luar negeri atau menyembunyikan identitas? Seorang menyapa saya. Dari suaranya yang serak-serak kering, saya menyimpulkan dia selansia saya. Dan benar, sebab dia langsung menyebut nama saya tanpa embel-embel yang lazim: bang. “Adi, sudah kubaca buku yang ditulis tentang kau, Penjaga Akal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1064&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TESTIMONI</p>
<p>Oleh Ashadi Siregar</p>
<p>Ponsel saya berbunyi, panggilan masuk, tanpa nomor, tampilan private. Dari luar negeri atau menyembunyikan identitas? Seorang menyapa saya. Dari suaranya yang serak-serak kering, saya menyimpulkan dia selansia saya. Dan benar, sebab dia langsung menyebut nama saya tanpa embel-embel yang lazim: bang.</p>
<p>“Adi, sudah kubaca buku yang ditulis tentang kau, Penjaga Akal Sehat itu. Seingatku dulu otak kau méréng, bagaimana bisa menjaga akal sehat orang?” dia terbahak-bahak, lalu terbatuk-batuk.</p>
<p>Méréng? Menilik gaya bicaranya, orang dari seberang, Sumut, dan pastilah kenalan pada masa lalu saya. Buku yang dimaksudnya adalah <strong>Ashadi Siregar: Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru</strong>, terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Saya berusaha memeras ingatan, siapa orang ini? Karena saya masih diam, dia menukas:</p>
<p>“Halo, tak kau kenal aku?” katanya mendesak, seolah saya telmi (telat mikir).</p>
<p>Sinting atau sok akrab? Apakah saya sering ketemu dia, tapi dimana, dan dalam konteks apa?</p>
<p>“Aku ‘anu’…” (menyebut nama).</p>
<p>Saya tetap berusaha memeras ingatan. Tetapi nama itu tidak ada dalam benak saya. Kalaupun dia pakai videophone, belum tentu saya mengenalinya. Dari suaranya saja saya sudah bayangkan bahwa wajah tuanya pasti sulit saya kenali. Cuma simpul saya, karena dia sudah membaca buku yang belum beredar luas di pasar, tentunya dia ada Jakarta dan punya akses pada orang-orang yang mengurus penerbitan buku itu. Siapa kau pak tua? Saya penasaran.</p>
<p>“Kita satu angkatan, tahun 64 dulu di Pagelaran. Kau sospol aku hukum. Tapi kita kerap ketemu waktu belajar malam hari di Sitihinggil,” ujarnya.</p>
<p>Ya, saya ingat Sitihinggil, yaitu balai paseban kraton Yogyakarta yang dipinjam-pakaikan Sultan HB IX pada UGM. Dalam suasana keterbatasan daya listrik yang hanya 112 volt di Yogyakarta, mahasiswa yang di tempat kosnya remang-remang biasanya belajar ke Sitihinggil. Di tempat itu lampu listrik terang benderang. Kebanyakan anak luar Jawa, selain membaca, juga berdebat (lebih tepat bertengkar) dengan suara keras, membuat mahasiswa yang tekun membaca terganggu. Banyak kenalan saya, hampir semua mahasiswa dari seberang belajar di Sitihinggil.</p>
<p>“Kau tak ingat aku, tak apalah. Aku cuma kuliah satu tahun di situ. Tahun 66 aku diciduk.”</p>
<p>Ah, saya menarik napas dalam.</p>
<p>“Tahun 80-an aku baca novel kau Jentera Lepas. Aaah&#8230;, cerita kau ‘tu belum apa-apanya dibandingkan yang kami alami,” lanjutnya.</p>
<p>“Ya, ya, ya,” jawab saya. “Sebatas itulah imajinasiku. Tapi apa subyektivitasku itu cukup bernilai menurut kau?” kata saya meniru gaya bicaranya.</p>
<p>“Yaaa, lumayanlah. Calak-calak ganti asah&#8230;,” katanya dalam gaya Melayu Deli, “sebagai cerita yang dibuat orang yang tidak mengalami sendiri. Kau ‘kan beda sama Pram.”  Nadanya melecehkan.</p>
<p>“Terimakasihlah kalau begitu,” kata saya.</p>
<p>Tentu saja saya bukan padanan Pramudya Ananta Toer, seorang pengarang dan wartawan yang mengalami langsung seluruh bentuk penindasan kekuasaan negara, dari penjajah sampai pemerintahan sendiri. Saya tidak mengalami apapun, kecuali dunia sekolahan dan bacaan. Saya teringat teman-teman yang sering berkumpul malam hari di Sitihinggil. Belakangan, di antaranya saya tahu ada yang CGMI, organisasi mahasiswa yang diangggap sebagai onderbouw PKI. Gaya melecehkan seperti itu sering saya hadapi, yang memancing debat tarik urat leher. Tapi sekarang saya tidak berselera debat lagi. Capek.</p>
<p>“Tapi bukan soal novel  yang mau kubicarakan. Soal buku tentang kau itu. Dari tulisan-tulisan yang kubaca, tidak jelas bagiku, bagaimana sesungguhnya kau jadi penjaga akal sehat itu. Apa para penulis yang diminta menyumbang tulisan, memang membayangkan kau berguna sebagai penjaga akal sehat? Cuma judul saja barangkali? Tapi sudahlah. Karena ditujukan pada kau, tentunya testimoni. Sebagai testimoni, tentulah harus ada  subyektivitas yang bernilai disitu!”</p>
<p>“Maksud kau?” tanya saya.</p>
<p>“Testimoni adalah subyektivitas penulis tentang sesuatu, yaitu kau. Untuk itu si penulis harus punya imajinasi tentang sosok kau, dan dengan subyektivitasnya itulah kau direkanya jadi tulisan.”</p>
<p>“Kupikir seperti itu tulisan-tulisan di buku itu,” kata saya.</p>
<p>“Kau sendiri, sudah baca?” sergahnya.</p>
<p>“Eh, beberapa sudah, tapi baru baca cepat.“</p>
<p>Dia nyerocos. Ujarannya yang menggebu-gebu, sangat tidak teratur (maaf kamerad!). Jadi harus  saya susun ulang, begini:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="789" valign="top">Buku itu menggolongkan tulisan-tulisan dalam 2 kelompok: “<em>Kawan, Kolega, dan Guru yang Sinis namun   Humoris</em>” dan “<em>Aktivis, Novelis, dan   Kritikus Jurnalisme yang Konsisten</em>”.    Jadi buku ingin menyampaikan sosok ‘orang yang sinis namun humoris’   dan ‘orang yang konsisten’. Padahal apakah sosok kau sekadar 2 dimensi itu? Di   buku setebal 374 halaman itu tak ada kulihat deskripsi bagaimana sinis atau   humorisnya kau. Kalau hanya lewat ketawa atau senyum dibilang sinis, belum   bisa menggambarkan kau sebagai <em>homo-sinicum</em>.   Begitu juga soal kau humoris?  Humor   kau cuma ada secuplik dalam tulisan Masmimar Mangiang, Ignatius Haryanto,   atau pun Butet Kartarejasa. Lainnya komentar saja. Kalau kau memang humoris,   pastilah banyak kumpulan anekdot yang bisa dicatat, meskipun tidak akan   menyamai Gus Dur. Begitu pula soal konsistensinya kau, sebagai aktivis dan kritikus   jurnalisme, mungkin bolehlah, walaupun masih terbuka untuk diperdebatkan   seperti apa konsistensinya kau. Lalu macam mana pula konsistennya kau sebagai   novelis? Bah, puja-puji kosong itu.</p>
<p>Tulisan-tulisan itu seharusnya terbagi 4, yaitu satu yang bertolak dari <em>passion </em>pribadi, kedua bersifat   otentik, dan ketiga deskriptif, dan keempat dialektika dengan gagasan kau.</p>
<p>Seperti tulisan Jakob Utama, masuk kelompok satu, kulihat dia   menggambarkan kau dengan subyektivitasnya, bertolak dari keprihatinannya   mengenai dunia obyektif pers di Indonesia. Atau tulisan Daniel Dhakidae, saat   membayangkan kau, dia menghidupkan subyektivitas dalam ruang ingatannya   tentang gerakan mahasiswa di Yogyakarta tahun 70an. Subyektivitasnya bisa   berinteraksi dengan obyektivitas. Banyak tulisan yang bagus, yang ditulis   dengan <em>passion</em>. Subyektivitas   bernilai kalau didorong oleh <em>passion</em> dalam menghadapi dunia obyektif.</p>
<p>Selanjutnya tulisan subyektivitas yang bagus pada kelompok kedua, seperti   tulisan Saur Hutabarat, Rizal Mallarangeng, Hotman Siahaan, Budiman Tanuredjo   dan beberapa yang lain. Orang-orang ini menanggalkan semua beban diri dan   statusnya sekarang, kembali ke dunianya yang dulu sebagai mahasiswa. Menjadi   otentik. Otentisitas itu diwujudkan dengan menulis dalam kejujuran. Jujur   dengan dirinya lebih dulu, baru kemudian memotret kau, dalam arti   menggambarkan keberadaan kau terhadap dirinya. Untuk itu harus rela menjadi   tidak siapa-siapa, mengenangkan saat-saat membiarkan dirinya berproses   bersama kau.</p>
<p>Tulisan kelompok satu dan dua itu, berupa testimoni bersifat subyektif-intelektual   dan subyektif-otentik. Yang satu, subyektivitas dalam bingkai intelektualitas   atau rasio menghadapi dunia obyektif untuk dijadikan ruang bagi kau sebagai   sosok yang ditulis, mewacanakan bahwa kau punya impak secara obyektif. Dan   yang kedua subyektivitas dalam bingkai kejujuran dalam perasaan atau hati   saat menulis tentang kau, berupa impak kau terhadap pribadi si penulis secara   subyektif.</p>
<p>Kemudian kelompok ketiga, menggambarkan kau sejauh yang diketahuinya.   Tidak dengan <em>passion</em> atau otentisitas,   tetapi mendeskripsikan sosok kau. Kebanyakan tulisan yang ada kumasukkan kesini,   seperti tulisan duo Lubis Zulkifly dan Amarzan, atau Mohtar Masoed, Imam   Yudotomo, Garin Nugroho, Bakdi Sumanto, dan lainnya, yaitu para sahabat atau   teman kerja atau teman pergaulan di lingkup kampus, jurnalistik, lembaga   swadaya masyarakat, dan seni, sesuai kiprah kau. Kelompok ini campuran orang-orang   yang mengenal kau sejak muda, dan yang mengenal kau setelah tua bangkotan. Kau   dilihat sesuai versi masing-masing, dengan deskripsi obyektif para penulis   itu, mosaik kau bisa direkonstruksikan.</p>
<p>Tulisan jenis ketiga ini harus diwaspadai dari kecenderungan mitologisasi,   atau pun dorongan voyerisme. Mitologisasi sebagai pemujaan dan voyerisme sebagai   hasil pengintipan, ini sama buruknya sebab tidak memerikan realitas empiris,   hanya berdasarkan dugaan, persangkaan, atau dengar-dengar dari kiri-kanan,   sehingga kau semacam legenda, atau parahnya semacam obyek gosip.</p>
<p>Yang keempat, seperti tulisan Gunawan Mohamad, dia melihat gagasan kau   tentang informasi, terus mengolah gagasannya sendiri. Begitu juga Veven SP   Wardhana, menempatkan tema-tema dari novel kau di dalam gagasannya. Atau J   Anto yang menggunakan gagasan kau soal <em>media   watch</em> dalam praksis kegiatannya. Jadi mereka berdialektika sama gagasan   kau.</p>
<p>Nah, barangkali konsep buku ini tidak secara jelas diberi tahu pada calon   penulisnya. Apakah buku ini sebagai testimoni dan deskripsi tentang   keberadaan kau dalam interaksi sosial yang melibatkan si penulis, ataukah   plus mengupas gagasan atau wacana teks yang kau hasilkan.</p>
<p>Kalau mau dilengkapi dengan kupasan tentang dunia gagasan yang kau   lontarkan dalam masyarakat, seharusnya banyak orang yang bisa diminta untuk   tulisan semacam itu. Gagasan-gagasan kau tentang jurnalisme dan media umumnya   dalam konteks politik, ekonomi dan kebudayaan tentunya dapat menggugah   pemikiran. Begitu juga kau selama ini berinteraksi dengan kalangan seniman.</p>
<p>Artinya kau juga punya <em>passion</em> yang selama ini telah kau aktualisasikan dalam berbagai kesempatan. Bukan   hanya soal pers dan jurnalisme, juga pernah kubaca tulisan kau tentang   televisi, disitu ada <em>passion</em>. Kedengar   kau masuk dalam lingkungan seni-rupa sehingga ada pelukis besar yang minta   kau memberi pengantar pamerannya. Atau soal film, teater, dan kebudayaan   lainnya. Ah, macam-macamlah yang kudengar. Banyak orang yang pernah bersentuhan   dengan kau dalam berbagai bidang itu. Maksudku gagasan kau seharus dapat   memancing orang untuk mengembangkan pemikirannya sesuai dengan wacana yang   kau lontarkan. Gagasan akan bernilai jika dapat menggugah untuk munculnya ketidak-sepakatan   atau pemikiran dan perspektif lain. Itu akan memperkaya wacana dalam ranah intelektual   kita.</p>
<p>Tetapi kalau mau kembali sebagai testimoni dan despripsi obyektif saja, itu   juga tidak sederhana. Sulitnya bikin tulisan semacam ini, tidak setiap orang   punya subyektivitas dalam kerangka intelektualitas dan kejujuran, dan   mengenali kau luar dalam. Kalau tidak ada sikap dengan <em>passion</em> dan otentik serta obyektivitas, seperti kubilang tadi, tulisan   cuma puja-puji atau basa-basi, atau berdasarkan “yang disangka”nya, atau lebih   parah kalau kau hanya dijadikan kapstok untuk memajang dirinya yang ‘berjasa’   besar.</p>
<p>Ada kutemukan jenis tulisan yang terakhir ini. Mungkin editor buku itu   mengira, dikarenakan seseorang pernah bersama kau dimasa lalu, dapat   menuliskan pengalaman itu. Masa kekiniannya dengan ambisi-ambisinya, mungkin telah   merusak kejujurannya dalam membayangkan kau. Dia menulis bukan dari interaksi   sebelum dia menjadi seperti sekarang. Dia menulis masa lalu dengan   kecenderungan dirinya sekarang. Padahal sekarang dia sudah tidak punya   pertalian lagi dengan kau. Artinya dia tidak surut ke belakang pada saat   masih bergaul dekat. Dia menulis dengan kepentingannya dan latar dirinya sekarang,   dalam melihat kedirian kau. Begitulah, untuk deskripsi secara obyektif,   diperlukan kejujuran. Berikutnya, menuliskan apa yang terjadi dalam   interaksi, bukan dengan kalimat penyimpul yang tidak dideskripsikan secara   empiris!</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>“Baiklah, nanti kubaca ulang untuk menikmati tulisan kawan-kawanku itu,” kata saya.</p>
<p>“Tapi di luar itu, kalau orang lain bisa menulis tentang diri kau, kau ‘kan penulis, mengapa kau sendiri tidak menulis tentang kau?” katanya.</p>
<p>“Aku ‘kan bukan mantan menteri atau jenderal yang layak bikin biografi,” jawab saya.</p>
<p>“Biografi itu soal subyektivitas yang di-intelektualisasi-kan, dan kejujuran yang di-aktualisasi-kan. Mantan menteri atau jenderal belum tentu punya itu, mereka hanya punya rekening gemuk di bank,” katanya ketus.</p>
<p>“Awak ‘ni apalah. Apa pula jalannya berani-berani mau menulis tentang diri sendiri.”</p>
<p>“Setidaknya subyektivitas kau tentang diri kau, sama berhak dengan subyektivitas orang lain. Yang penting adalah mengungkapkan diri dalam konteks intelektualitas dan dorongan kejujuran.”</p>
<p>“Ah, terlalu berat untukku.”</p>
<p>“Paling tidak biar bisa dibaca bekas mahasiswa kau atau wartawan yang pernah kau didik.”</p>
<p>Saya diam.</p>
<p>“Paling tidak biar dibaca anak-anak kau,” katanya.</p>
<p>“Baik kupikirkan,” kata saya supaya pembicaraan diputus, sebab ponsel sudah panas di telinga saya.</p>
<p>“Okelah kalau begitu,” katanya meniru pelawak di tv.</p>
<p>“Eh, omong-omong, dimana kau selama ini?”</p>
<p>“Ah, itu tak penting,” katanya. “Bahwa aku bisa tahu nomor kau ini, menunjukkan aku punya akses kemana-mana.”</p>
<p>Bah, pembual tua dari mana pula ini? Tetapi dengan tantangannya, apakah saya harus mengatakan: mengapa tidak?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ashadisiregar.wordpress.com/1064/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ashadisiregar.wordpress.com/1064/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ashadisiregar.wordpress.com/1064/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ashadisiregar.wordpress.com/1064/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ashadisiregar.wordpress.com/1064/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ashadisiregar.wordpress.com/1064/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ashadisiregar.wordpress.com/1064/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ashadisiregar.wordpress.com/1064/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ashadisiregar.wordpress.com/1064/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ashadisiregar.wordpress.com/1064/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ashadisiregar.wordpress.com/1064/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ashadisiregar.wordpress.com/1064/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ashadisiregar.wordpress.com/1064/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ashadisiregar.wordpress.com/1064/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1064&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ashadisiregar.com/2010/07/08/dari-kamerad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef7f55f5bdee516ece1211405a0a3a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ashadisiregar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari kolega</title>
		<link>http://ashadisiregar.com/2010/07/04/dari-kolega/</link>
		<comments>http://ashadisiregar.com/2010/07/04/dari-kolega/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jul 2010 16:54:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ashadi Siregar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ashadisiregar.wordpress.com/?p=1060</guid>
		<description><![CDATA[Suratkabar Harian Surabaya Post, 4 Juli 1995 KANO KECIL ASHADI SIREGAR Oleh Masmimar Mangiang Kemarin, 3 Juli, Drs Ashadi Siregar, genap 50 tahun. Tokoh pendidik jurnalistik dan pengamat pers yang kritis, sekaligus dikenal sebagai novelis Cintaku di Kampus Biru ini, di hari ulang tahunnya justru “menghilang” mengikuti seminar sehari di salah satu universitas di Yogyakarta. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1060&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suratkabar Harian<strong> Surabaya Post, </strong>4 Juli 1995<strong> </strong></p>
<p><strong>KANO KECIL ASHADI SIREGAR</strong></p>
<p>Oleh Masmimar Mangiang</p>
<table style="height:102px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="591">
<tbody>
<tr>
<td width="471" valign="top"><em>Kemarin, 3 Juli, Drs Ashadi Siregar, genap 50   tahun. Tokoh pendidik jurnalistik dan pengamat pers yang kritis, sekaligus   dikenal sebagai novelis </em>Cintaku di Kampus Biru<em> ini, di hari   ulang tahunnya justru “menghilang” mengikuti seminar sehari di salah satu   universitas di Yogyakarta. Ia memang tak pernah menganggap hari ulang   tahunnya sebagai sesuatu yang istimewa. Berikut ini sosok Ashadi Siregar   digambarkan oleh Masmimar Mangiang – wartawan yang kini Pemimpin Redaksi   Harian Ekonomi Neraca, juga staf pengajar F1SIP UI. </em>(Redaksi)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>TAKHAYUL atau bukan, percaya atau tidak itu, bukanlah soal. Yang terjadi, angka 13 pernah membawa sial bagi Ashadi Siregar. Mingguan <em>Sendi </em>yang dia terbitkan bersama beberapa aktivis pers mahasiswa di Yogyakarta pada 1971 silam, ditutup penguasa setelah 13 kali terbit. Edisi nomor 13 itu membawa Bung Ashadi, Pemimpin Redaksi <em>Sendi, </em>ke Pengadil-an Negeri Yogyakarta.</p>
<p>Adalah editorial tentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang menjadi pencetus perka­ra ini. Di sidang pengadilan diperta­nyakan, siapa penulis tajuk tersebut, Ashadi dengan rambut gondrong sepundak pada masa itu, mempergunakan haknya untuk tidak menjawab dan mengatakan, itu menjadi tanggungjawab dia sebagai pemimpin redaksi. Manakala pemeriksaan selesai, semuanya berlalu dan ia tinggal sebagai catatan sejarah. Selain dari pelarangan terbit untuk <em>Sendi, </em>vonis bagi Ashadi adalah hukum-an percoban satu tahun penjara.</p>
<p>Vonis ini memang tak pernah membawa Ashadi ke bui. Tapi kasus <em>Sendi </em>tcrcatat sebagai kasus pembredelan pers yang pertama yang dilakukan Orde Baru. Ironisnya, ia terjadi pada masa angin kebebasan pers mulai a­gak berembus setelah mengalami ma­sa sulit pada masa Orla. <em>Sendi </em>mati sekitar tiga tahun setelah beberapa surat kabar yang diberangus Orla rnendapatban hak hidupnya kembali.</p>
<p>Mingguan ini dibredel di masa pers Indonesia baru mulai sedikit agak leluasa berbicara tentang restrukturi­sasi politik dan penyelenggaraan pe­milihan umum, korupsi serta penyalahgunaan kekuasaan. Hanya saja pa­da masa seperti itu pula pembelaan terhadap <em>Sendi </em>yang dimatikan ini, sedikit sekali diperdengarkan.</p>
<p><strong>Proses Degradasi</strong></p>
<p>Entah karena kasus <em>Sendi </em>atau bukan, entah karena pengadilan itu atau tidak – itu bukanlah soal – berbagai aspek dalam peri-kehidupan pers dan profesi kewartawanan bagi Ashadi masuk di tempat yang paling banyak diperhatikan dalam pemikirannya dan menjadi aktivitas yang cukup banyak dia kerjakan dalam mengisi ha­ri-harinya kemudian.</p>
<p>Kasus <em>Sendi</em> adalah<em> </em>kasus yang timbul hampir seperempat abad yang silam. Kasus ini adalah kasus penca­butan hak hidup institusi pers. Untuk hal mendapatkan hak hidup atau ke­hilangan hak hidup, dalam rentang waktu dari kasus <em>Sendi</em> hingga hari ini, pers Indonesia tidak pernah men­catat adanya kemajuan.</p>
<p>Walau ada <em>surprise </em>yang agak “menghibur” yang diberikan PTUN Jakarta dengan memenangkan guga­tan karyawan majalah Tempo terha­dap Menteri Penerangan – atas pembatalan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) Tempo – soal ini belum membuahkan kegembiraan. Ia belum selesai, karena masih harus menunggu proses peradilan selanjutnya.</p>
<p>Riwayat macam apakah riwayat kebebasan pers di Indonesia? Jawab­annya sudah sangat jelas bagi banyak orang. Para wartawan sangat paham dan punya pengalaman yang tak sedikit tentang imbauan langsung dan imbauan via telepon untuk berita (kenyataan sosial) yang tak boleh diberitakan. Para penerbit tentu punya pula catatan, berapa penerbitan pers yang mati karena bangkrut, dan berapa lagi yang lenyap karena dilarang terbit. Para pembaca pun tak keku­rangan pengalaman dalam hal kehilangan media yang disukainya sewak­tu-waktu.</p>
<p>Ashadi pernah menulis, “Dari tahun ke tahun sebenarnya terjadi pro­ses degradasi institusi pers. Jika pada masa awal republik, kemitraan pers dengan birokrasi dimulai dari hubungan antar individu sesamanya, ma­kin lama hubungan yang berlangsung semata-mata bersifat institusional. Berbagai macam regulasi dan ’treat­ment’ atas institusi pers menjadikan kemitraan bersifat tidak seimbang”.</p>
<p>Pers Indonesia mungkin memang ditakdirkan untuk selalu menghadapi berbagai masalah yang tak dapat di­katakan ringan. Belum setahun pembatalan SIUPP Tempo, DeTik, dan E­ditor berlalu sebagai persoalan yang mewakili masalah kebebasan pers, tiba-tiba suplai dan harga kertas menjadi masalah yang cukup serius bagi bisnis penerbitan. Ia membuat daftar persoalan kian panjang.</p>
<p>Makin panjang daftar persoalan ini, makin panjang pula catatan yang menggugat pemikiran<em> </em>orang seperti Asha­di. Kepeduliannya un­tuk persoal­an pers dan kewartawa­nan senan­tiasa hidup dan muncul sebagai tema berbagai tulisannya dan topik dalam ber­bagai cera­mah yang dia berikan.</p>
<p>Dia mengin­gatkan orang ketika menyaksi-kan nilai-­nilai mana­jemen dalam bisnis pers industri mu­lai menjadi dominan di atas nilai-nilai jurnalisme. Dia terganggu melihat warta-wan yang kemampuan teknis jurnalismenya sangat ala kadarnya dalam memeriksa persoal-an dan melayani masyarakatnya dengan infor-masi yang bernilai. Dia risau ketika menyaksi-kan mulai terganggunya moral profesi wartawan.</p>
<p>Hanya sedikit orang, baik sarjana ilmu komunikasi maupun wartawan itu sendiri, yang memberikan kepedu­lian pada masalah ini sampai pada taraf seperti itu. Di antara yang sedikit ini, ada sedikit lagi yang<em> </em>terikat pada persoalan itu begitu kuat, gelisah dan memper-soalkannya karena melihat perkem-bangannya dari waktu ke waktu. Ashadi Siregar adalah salah satunya. Obsesinya itu seakan men­dapat tempat di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerbitan Yogyakar­ta (LP3Y) yang kini dipimpin dan dikembangkannya bersama bebe-rapa kawannya yang sepemikiran.</p>
<p>LP3Y adalah lembaga yang menyeleng-garakan pendidikan jurnalisme, tak sebatas meningkatkan kemampuan teknis penghimpun-an bahan lapor­an dan penulisan, tapi mencoba me­mulai pelatihan itu pada penyadaran akan fungsi pers dan wartawan. Ba­rangkali LP3Y sendiri akan menam­pik jika dikatakan sudah mencoba ba­nyak berbuat untuk itu. Namun ada­lah kenyataan, lembaga ini mencoba memi-kirkan dan berbuat untuk investasi sumber daya manusia dalam dunia pers. Jika dikatakan tidak banyak yang mencoba melakukan hal yang sama – yang tidak pernah men­janjikan keuntungan material ini – a<em>­</em>gaknya tidaklah pula berkelebihan.</p>
<p>Kenapa upaya ini bisa hidup di lembaga tersebut, agaknya karena ia memang berangkat dari ide seperti itu sejak didirikan pada 1978 lalu. Tapi kenapa ide itu dapat terpelihara, itu adalah karena Ashadi.</p>
<p>Wartawan adalah sejarawan yang beraksi setiap saat. Dia bekerja menyingkap realitas masyara­katnya, untuk diketahui dan dihayati dengan pemikiran serta tindakan oleh masyara-katnya dalam mengisi peradaban.</p>
<p>Kalimat ini terlalu gagah dan agak som­bong di telinga orang yang melihat profesi jur­nalistik se­bagai pekerjaan yang hanya ”bertanya, mendengar, melihat, mencatat, dan menuliskan”.</p>
<p>Tapi bagi Ashadi itu bukanlah<sup> </sup>se­suatu yang sombong, karena hakikat kehadiran jurnalisme dan wartawan memang harus demikian. Jurnalisrne – setelah terlalu sering terpental-pental oleh kepentingan politik dan kepentingan bisnis – agaknya me­mang harus dikembalikan ke tempat semula. Ikhtiar yang dilakukan Ashadi dalam mengingatkan orang dan mencoba menegakkan martabat pers serta profesi kewartawanan itu terkadang bagaikan kano kecil yang dikayuh melawan arus. Tapi jika kano itu tidak ada, kita mungkin telah hanyut terlalu jauh.</p>
<p>Ashadi Siregar lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Dia tamat dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UGM, kemudian jadi pegawai negeri, mengajar di sana. Dia sudah menjadi “orang Yogya”. Bersama istri­nya, Helga Korda – lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia – dia punya dua anak laki-laki, Banua (13) dan Mesa (9). Keluarga ini tinggal di perumahan Minomartani, Yogyakarta bagian utara.</p>
<p>Di luar keluarganya, Ashadi sebe­narnya punya beberapa dunia. Du­nianya yang pertama (penomoran ini tidak menunjukkan urutan prioritas) adalah kampus. Sebagai doktorandus ilmu komunasi tidak pernah terde­ngar ada niat dia untuk menempuh pendidikan S2 atau keinginan untuk menjadi doktor. Dunianya yang kedua adalah jurnalisme. Dunia berikutnya adalah sastra. Novelnya, yang membuat namanya dikenal lebih luas ada­Iah <em>Cintaku di Kampus Biru, Kuga­pai Cintamu, Terminal Cinta Terakhir, Frustrasi Puncak Gunung </em>dan <em>Jentera Lepas.</em></p>
<p>Rambutnya kini tak lagi gondrong seperti ketika dia bersama para seniman Yogya bergentayangan di Ma­lioboro. Rokok pun sudah ditinggal­kan. Bir? Sekali-kali, ala kadarnya. Perawakannya biasa saja. Tapi mung­kin lebih cocok kalau dia disebut kerempeng. Tubuhnya tak berlemak seperti orang yang berkelebihan menikmati berkat pembangunan. Cara berjalan-nya sama sekali tidak gagah. Kacamatanya tebal. Kalau berbicara aksen Siantarnya masih terdengar, tipis. Dia bisa kocak jika dia rasa enak untuk kocak, tapi bisa ketus, di mana perlu. Dia tidak pandai mengukur ni­lai kerja dirinya dengan duit. Mungkin anak pegawai negeri ini tidak barbakat dagang. Kalau itu kelemahan, itu mungkin takdir baginya. Jika itu kekuatan, sikap seperti itulah yang membuat, dia tak pernah menjual diri.</p>
<p>Kemarin, 3 Juli 1995, usia Bung Ashadi 50 tahun. Banyak orang, konon, pada usia setengah abad itu mencoba melihat ke belakang ke jalan yang pernah dia lalui. Jika Bung Ashadi juga melakukan itu, dia akan melihat hampir separo dari usianya yang dia jalani sebagai orang yang amat peduli dengan kehidupan pers dan dunia profesi kewartawanan.</p>
<p>Besok mungkin dia masih berada di jalan itu, dan pers Indonesia yang besok itu, boleh jadi pers Indonesia yang masih merisaukan alam pemikirannya. ***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ashadisiregar.wordpress.com/1060/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ashadisiregar.wordpress.com/1060/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ashadisiregar.wordpress.com/1060/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ashadisiregar.wordpress.com/1060/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ashadisiregar.wordpress.com/1060/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ashadisiregar.wordpress.com/1060/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ashadisiregar.wordpress.com/1060/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ashadisiregar.wordpress.com/1060/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ashadisiregar.wordpress.com/1060/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ashadisiregar.wordpress.com/1060/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ashadisiregar.wordpress.com/1060/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ashadisiregar.wordpress.com/1060/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ashadisiregar.wordpress.com/1060/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ashadisiregar.wordpress.com/1060/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1060&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ashadisiregar.com/2010/07/04/dari-kolega/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef7f55f5bdee516ece1211405a0a3a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ashadisiregar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KARENA BELAJAR ILMU KOMUNIKASI</title>
		<link>http://ashadisiregar.com/2009/04/03/karena-belajar-ilmu-komunikasi/</link>
		<comments>http://ashadisiregar.com/2009/04/03/karena-belajar-ilmu-komunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 15:41:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ashadi Siregar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ashadisiregar.wordpress.com/?p=1042</guid>
		<description><![CDATA[KARENA BELAJAR ILMU KOMUNIKASI Karena belajar Ilmu Komunikasi, saya layak tidak mempercayai setiap propaganda, kampanye, atau apapun namanya. Semua pendobosan dengan media luar ruang, koran, radio dan televisi, tidak akan ada pengaruhnya pada alam pikiran saya yang dibentuk oleh realitas. Lebih jauh saya menganut “kredo” yang biasa digunakan untuk pendidikan kepublikan dalam kegiatan media watch: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1042&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span lang="IN">KARENA BELAJAR ILMU KOMUNIKASI</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Karena belajar Ilmu Komunikasi, saya layak tidak mempercayai setiap propaganda, kampanye, atau apapun namanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Semua pendobosan dengan media luar ruang, koran, radio dan televisi, tidak akan ada pengaruhnya pada alam pikiran saya yang dibentuk oleh realitas. Lebih jauh saya menganut “kredo” yang biasa digunakan untuk pendidikan kepublikan dalam kegiatan <em>media watch</em>: jangan mau bertindak yang disebabkan oleh propaganda. Alam pikiran harus dipelihara dari penetrasi anasir propaganda, agar tindakan bersifat otentik dari kesadaran akan realitas. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Untuk urusan pemilu sekarang, saya berusaha untuk mengenali dunia faktual dari setiap manusia yang diajukan oleh parpol sebagai calegnya. Jika dia sudah duduk di DPR/DPRD periode sebelumnya, dan sekarang lupa berdiri alias ngotot tetap duduk disitu, saya perlu mengingat-ingat apa saja yang sudah dikerjakannya, sejauh mana signifikan pada dunia ideal yang saya bayangkan. Kalau orang bersangkutan tidak melakukan apa pun yang relevan, segera dia saya singkirkan dari alam pikiran saya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Untuk tingkat lokal, ada yang pernah saya baca berita (fakta dirinya) tentang peranannya yang signifikan bagi publik melalui aktivitas sebagai anggota DPRD. Tapi sayangnya yang bersangkutan tidak ada dalam daftar untuk dapil permukiman saya. Sedang caleg yang masih kepingin tetap duduk-duduk di Senayan sana, rasa-rasanya tidak ada yang meninggalkan kesan bahwa dia telah berbuat yang signifikan bagi publik di daerah sini atau dalam bidang yang saya geluti. Dia baru muncul di dapil hanya selama kampanye. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Dengan begitu saya harus menujukan perhatian pada caleg yang belum pernah di “office” itu sebelumnya. Tentunya hanya yang saya kenal perlu saya nilai: apa yang pernah dilakukan dalam kehidupan publik? Semoga akan saya temukan aktivis sosial yang keberadaannya signifikan bagi publik</span><span lang="IN">.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kalau tidak pernah aktif secara publik, artinya mungkin sebagai pelaku profesi bersifat teknokratis (tidak punya peran melampaui profesi teknis), atau bahkan tidak punya peran publik apa pun jua sebelumnya? Yah, setidaknya perlu saya kenal karakternya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Inilah kriteria paling sederhana yang saya bayangkan. Dalam negasi: Jika dia laki-laki, bukan penganut poligami. Bagi saya dia tamak dan pelit, sebab mendapat 2 atau 3 perempuan (kalau berbini 2 atau 3), sementara hanya memberikan separuh atau sepertiga dirinya (kalau bisa adil) untuk masing-masing isterinya. Jika perempuan, saya menolak caleg yang mau menjadi isteri kedua atau seterusnya. Sebab telah rela didominasi laki-laki di satu pihak dan menyakiti perempuan lain pada pihak lain, bagaimana saya akan percaya bahwa dia akan membela pihak tertindas? Sebaliknya akan saya pujikan perempuan yang tegas menceraikan suaminya yang poligami.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Simpel banget ya? Habis saya tidak dapat menilai karakter, sebab saya tidak mungkin membuat tes kepribadian pada para caleg itu. Jadi yang teraktualisasi secara sosial sajalah yang bisa dijadikan kriteria. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Setingkat di atas itu, akan saya identifikasi caleg yang aktual dan potensial berorientasi multikultural, karena dunia ideal yang bayangkan memerlukan aktor publik semacam itu. Jadi vote saya berikan pada beliau. Negasinya, bisa disimpulkanlah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kalau sama sekali tidak saya kenal? Lha, bagaimana saya mempercayakan suara saya, kendati nilai vote-nya cuma satu, saya tidak rela memberikannya. Untuk memberikan pada parpol? Biar hangus deh. Terlebih pada parpol yang kampanyenya besar-besaran di media, khususnya televisi. Mending saya berikan vote saya kepada parpol yang sedemikian kerenya, sampai tidak punya caleg di dapil tempat saya mencontreng. Ini sedekah politik namanya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Begitulah wangsit yang saya dapatkan. Jadi tidak golput &#8216;kan? Saya mendengar Majelis Ulama Indonesia. Sungguh.<br />
</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"><br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ashadisiregar.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ashadisiregar.wordpress.com/1042/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ashadisiregar.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ashadisiregar.wordpress.com/1042/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ashadisiregar.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ashadisiregar.wordpress.com/1042/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ashadisiregar.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ashadisiregar.wordpress.com/1042/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ashadisiregar.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ashadisiregar.wordpress.com/1042/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ashadisiregar.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ashadisiregar.wordpress.com/1042/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ashadisiregar.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ashadisiregar.wordpress.com/1042/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1042&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ashadisiregar.com/2009/04/03/karena-belajar-ilmu-komunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef7f55f5bdee516ece1211405a0a3a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ashadisiregar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CARA PANDANG PENGACARA</title>
		<link>http://ashadisiregar.com/2009/04/02/cara-pandang-pengacara/</link>
		<comments>http://ashadisiregar.com/2009/04/02/cara-pandang-pengacara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 15:09:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ashadi Siregar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ashadisiregar.wordpress.com/?p=1037</guid>
		<description><![CDATA[CARA PANDANG PENGACARA UNTUK ORIENTASI SEKSUAL Pergunjingan dalam infotainment tentang kasus selebritis (artis sinetron Marcella Zalianty dan lainnya) ada yang menarik perhatian. Mungkin para guru ilmu hukum perlu juga memperhatikan perkara ini. Bukan kasusnya (penyekapan dan penganiayaan sekelompok selebritis atas seorang non-selebritis), tetapi sikap dan pandangan pengacara para selebritis itu layak disimak. Bolehlah mengingatkan kembali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1037&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table class="MsoTableGrid" style="border:medium none;border-collapse:collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="height:430.7pt;">
<td style="border:1pt solid windowtext;width:464.4pt;height:430.7pt;padding:0 5.4pt;" width="774" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">CARA PANDANG   PENGACARA UNTUK ORIENTASI SEKSUAL</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Pergunjingan   dalam infotainment tentang kasus selebritis (artis sinetron Marcella Zalianty   dan lainnya) ada yang menarik perhatian. Mungkin para guru ilmu hukum perlu   juga memperhatikan perkara ini. Bukan kasusnya (penyekapan dan penganiayaan   sekelompok selebritis atas seorang non-selebritis), tetapi sikap dan   pandangan pengacara para selebritis itu layak disimak. Bolehlah mengingatkan   kembali para pembelajar hukum dalam melihat fakta empiris sebagai basis kerja   dalam proses penegakan keadilan.<br />
Sang pengacara, Hotman Paris tergolong pesohor di Jakarta juga, mengatakan   pada pewarta infotainment, bahwa dia punya foto korban (seorang pria) sedang   berpelukan dengan pria. Untuk itu dia akan menggunakan foto itu sebagai alat   agar hakim menolak kesaksian korban.<br />
Adapun fakta empiris tentang penyekapan dan penganiayaan atas korban, akan   dimentahkan oleh sang pengacara melalui orientasi seksual yang bersangkutan.   Artinya dia berprasangka bahwa dengan orientasi seksual dari saksi korban,   seluruh keterangan mengenai fakta yang dialaminya adalah kebohongan. Mungkin   dia mau memindah fokus persidangan agar mempersoalkan orientasi seksual saksi   korban. Kalau ini berhasil, tentulah akan disambut secara sensasional oleh   media.<br />
Terlepas benar atau palsu foto versi pengacara itu, sungguh memprihatinkan,   jika seorang yang belajar hukum bekerja atas dasar prasangka, dalam profesi   yang luhur karena dipercaya akan menegakkan keadilan dalam azas kebenaran   empiris.<br />
Orientasi seksual (hetero dan homoseksual) adalah hak setiap orang. Prasangka   atas orientasi seksual mungkin lazim pada puluhan tahun yang lalu. Tetapi   sekarang, dengan semakin bertumbuhnya penghargaan atas hak azasi alangkah   memalukannya jika pelaku profesi modern masih dihinggapi alam pikiran lama   itu.<br />
Sikap dan cara pandang ini terdapat juga di lingkungan profesi media, yaitu   menganut alam pikiran mainstream ortodoks untuk heteroseksual, karenanya   memandang orientasi seksual masih sebagai sensasi dalam pemberitaan. Jika pekerja   media semacam ini berkolaborasi dengan pengacara yang memiliki kesamaan   prasangka, jadilah pemberitaan yang mengeksploitasi sensasi orientasi   homoseksual, melupakan kebenaran dari fakta empiris yang menjadi basis   profesi.<br />
Mengapa kita tidak bisa bersikap: “saya memang berbeda orientasi dan cara   hidup dengan Anda, tetapi saya akan bela orientasi dan cara hidup yang   menjadi hak Anda!”</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ashadisiregar.wordpress.com/1037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ashadisiregar.wordpress.com/1037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ashadisiregar.wordpress.com/1037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ashadisiregar.wordpress.com/1037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ashadisiregar.wordpress.com/1037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ashadisiregar.wordpress.com/1037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ashadisiregar.wordpress.com/1037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ashadisiregar.wordpress.com/1037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ashadisiregar.wordpress.com/1037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ashadisiregar.wordpress.com/1037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ashadisiregar.wordpress.com/1037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ashadisiregar.wordpress.com/1037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ashadisiregar.wordpress.com/1037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ashadisiregar.wordpress.com/1037/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1037&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ashadisiregar.com/2009/04/02/cara-pandang-pengacara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef7f55f5bdee516ece1211405a0a3a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ashadisiregar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TULISAN DEDY NUR HIDAYAT</title>
		<link>http://ashadisiregar.com/2009/03/29/tulisan-dedy-nur-hidayat/</link>
		<comments>http://ashadisiregar.com/2009/03/29/tulisan-dedy-nur-hidayat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 12:56:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ashadi Siregar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ashadisiregar.wordpress.com/?p=1029</guid>
		<description><![CDATA[Mohon perhatian, Tulisan Dedy Nurhidayat tentang Teori-teori Kritis saya tempatkan pada halaman tulisan kolega dalam format pdf, dengan begitu akan lebih praktis untuk dibuka.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1029&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mohon perhatian,</p>
<p>Tulisan Dedy Nurhidayat tentang <b>Teori-teori Kritis</b> saya tempatkan pada halaman <b>tulisan kolega</b> dalam format pdf, dengan begitu akan lebih praktis untuk dibuka.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ashadisiregar.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ashadisiregar.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ashadisiregar.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ashadisiregar.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ashadisiregar.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ashadisiregar.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ashadisiregar.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ashadisiregar.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ashadisiregar.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ashadisiregar.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ashadisiregar.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ashadisiregar.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ashadisiregar.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ashadisiregar.wordpress.com/1029/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1029&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ashadisiregar.com/2009/03/29/tulisan-dedy-nur-hidayat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef7f55f5bdee516ece1211405a0a3a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ashadisiregar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TULISAN KOLEGA</title>
		<link>http://ashadisiregar.com/2009/03/25/tulisan-kolega/</link>
		<comments>http://ashadisiregar.com/2009/03/25/tulisan-kolega/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 12:38:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ashadi Siregar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ashadisiregar.wordpress.com/?p=1020</guid>
		<description><![CDATA[TULISAN KOLEGA Saya menaruh tulisan kolega saya berkaitan dengan kajian komunikasi/media umumnya dan jurnalisme khususnya di halaman ini. Silakan klik di halaman  &#8211;&#62; tulisan kolega &#8211;&#62;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1020&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>TULISAN KOLEGA</strong></p>
<p><strong>Saya menaruh tulisan kolega saya berkaitan dengan kajian komunikasi/media umumnya dan jurnalisme khususnya di halaman ini.</strong></p>
<p><strong>Silakan klik di halaman  &#8211;&gt; tulisan kolega &#8211;&gt;<br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ashadisiregar.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ashadisiregar.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ashadisiregar.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ashadisiregar.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ashadisiregar.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ashadisiregar.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ashadisiregar.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ashadisiregar.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ashadisiregar.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ashadisiregar.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ashadisiregar.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ashadisiregar.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ashadisiregar.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ashadisiregar.wordpress.com/1020/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=1020&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ashadisiregar.com/2009/03/25/tulisan-kolega/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef7f55f5bdee516ece1211405a0a3a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ashadisiregar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sayap &#8220;kanan&#8221; dan sayap &#8220;kiri&#8221;</title>
		<link>http://ashadisiregar.com/2009/03/25/sayap-kanan-dan-sayap-kiri/</link>
		<comments>http://ashadisiregar.com/2009/03/25/sayap-kanan-dan-sayap-kiri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 06:40:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ashadi Siregar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ashadisiregar.wordpress.com/?p=997</guid>
		<description><![CDATA[SAYAP “KANAN” DAN SAYAP “KIRI” Senang bisa membaca note Bung Dedy Nur Hidayat di FB (saya kutip untuk blog ini), sebab telah memberikan perspektif yang sangat penting dalam kajian komunikasi yang selama ini berat sebelah ke sayap “kanan” di kalangan skolar komunikasi/media. Bagi kaum sayap “kanan” ini komunikasi dilihat sebagai transmisi pesan, bagi para skolarnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=997&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table class="MsoTableGrid" style="border:medium none;border-collapse:collapse;height:826px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="689">
<tbody>
<tr style="height:599.5pt;">
<td style="border:1pt solid windowtext;width:478.55pt;height:599.5pt;padding:0 5.4pt;" width="798" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><strong><span lang="IN">SAYAP “KANAN” DAN SAYAP “KIRI”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span lang="IN">Senang bisa membaca note Bung Dedy Nur Hidayat di FB (saya kutip untuk   blog ini), sebab telah memberikan perspektif yang sangat penting dalam kajian   komunikasi yang selama ini berat sebelah ke sayap “kanan” di kalangan skolar   komunikasi/media. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span lang="IN">Bagi kaum sayap “kanan” ini komunikasi dilihat sebagai transmisi pesan,   bagi para skolarnya biasa dilihat sebagai pendekatan logico-empirisisme (bung   Dedy menggunakan istilah positivisistik atau ‘tradisional”) dengan “ideologi”   epistetemologis untuk kebenaran dan obyektivitas. Tetapi terlupakan bahwa   dibalik praksisnya, komunikasi ini bersifat dan memiliki tujuan pragmatis,   karenanya yang diuntungkan selamanya pihak yang powerful dan voiceful, dan   mengabaikan pihak powerless dan voiceless. Pihak inilah yang disebut sebagai   publik, khalayak, public segmented, target audience, dan semacamnya, yaitu   kaum yang dibaca peta kognisinya untuk kemudian dibentuk alam pikirannya agar   sesuai dengan kepentingan komunikator. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span lang="IN">Untuk waktu lama, dominasi pemikiran ini diterima begitu saja. Sebenarnya   tidak masalah, sebab untuk keperluan pragmatis, pendidikan komunikasi sayap   “kanan” ini diperlukan dalam kegiatan masyarakat, terlebih dalam mengisi   profesi komunikasi. Pada level undergraduate dengan sendirinya mahasiswa   tentunya lebih memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang relevan dalam   dunia kerja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span lang="IN">Tetapi dalam pengembangan epistemologi studi komunikasi/media, kiranya   perlu “disiagakan” pemikiran tentang adanya “penyakit” yang tersembuyi dalam   pendekatan pragmatis yang diterapkan dalam pendekatan   logico-empirisisme.<span> </span>Untuk itu   pendefinisian komunikasi dengan cara lain, yaitu sebagai produksi makna   (meaning) menjadi penting walaupun tidak perlu sampai mengganggu orientasi   pendidikan pada level undergraduate. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span lang="IN">Kajian tentang makna mengajak skolar komunikasi untuk melihat interaksi   sosial bukan sekadar penyampaian pesan dengan tujuan tertentu, tetapi sebagai   pertukaran makna dalam suatu komunitas (dalam berbagai konteks: seperti   negara, pasar, globalitas, lokalitas, politik, ekonomi). Perbedaan paradigma   dalam melihat realitas komunikasi/media membawa tantangan dalam metodologi   sekaligus episteme yang dicari dan didapatkan dalam kajian. Dalam istilah   soknya, aliran epistemologi ini bolehlah kita sebut sayap “kiri” dalam kajian   komunikasi/media.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span lang="IN">Dengan orientasi menangkap makna dari setiap realitas komunikasi (praktik   institusional dan teks media), skolar komunikasi/media diharapkan<span> </span>dapat menunjukkan “penyakit-penyakit” yang   tersembunyi dalam kehidupan publik. Dalam praksisnya, di Lembaga Penelitian   Pendidikan dan Penerbitan Yogya (LP3Y) kami sedang mengembangkan semacam   sayap semacam ini dalam pendidikan jurnalisme. Diakui bahwa jurnalisme untuk   tujuan pragmatis yaitu yang berbasis pada newsworthiness dan<span> </span>aspek teknikalitas lainnya tetap   diperlukan. Sayap “kanan” ini menjadi dasar dalam dunia media yang bersifat   industrial. Tetapi pada tingkat lebih lanjut, jurnalisme perlu ditempatkan   sebagai kerja komunikasi yang memeroduksi makna, dan<span> </span>dari sini keberadaannya di ruang publik   dilihat dalam perspektif kurtural.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span lang="IN">Sekali lagi, saya senang, sebab melalui note bung Dedy tentang   teori-teori kritis, telah bikin seminar tanpa repot cari funding. Saya minta   ijin untuk menempatkan tulisan Anda di blog saya. Untuk honornya, harap   diklaim ke Tuhan yang Maha Pemurah.<span> </span></span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ashadisiregar.wordpress.com/997/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ashadisiregar.wordpress.com/997/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ashadisiregar.wordpress.com/997/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ashadisiregar.wordpress.com/997/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ashadisiregar.wordpress.com/997/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ashadisiregar.wordpress.com/997/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ashadisiregar.wordpress.com/997/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ashadisiregar.wordpress.com/997/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ashadisiregar.wordpress.com/997/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ashadisiregar.wordpress.com/997/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ashadisiregar.wordpress.com/997/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ashadisiregar.wordpress.com/997/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ashadisiregar.wordpress.com/997/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ashadisiregar.wordpress.com/997/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashadisiregar.com&amp;blog=4260047&amp;post=997&amp;subd=ashadisiregar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ashadisiregar.com/2009/03/25/sayap-kanan-dan-sayap-kiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef7f55f5bdee516ece1211405a0a3a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ashadisiregar</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
