Semua Harus Diketahui Polisi, Kompas, 04 Juni 2014

Semua Harus Diketahui Polisi

Oleh: Ashadi Siregar

Peristiwa di Yogyakarta boleh dianggap bersifat lokal. Namun, berita Kompas: ”Kemajemukan Terusik, Sekelompok Orang Serang Acara Doa Bersama di Sleman” (31/5/2014, hal 15) harus diterima sekaligus menyadarkan bahwa ini mencerminkan kondisi bersama yang memprihatinkan. Dengan membiarkan berlarut-larut bukan mustahil Indonesia akan punya sejenis Boko Haram nantinya. Sekelompok orang menyerbu, merusak rumah, dan menganiaya hanya karena ada acara berdoa dan latihan paduan suara Kristiani. Secara demonstratif, pelaku mengenakan pakaian yang secara stereotip menggambarkan kelompok Islam. Kekerasan dalam interaksi antarumat beragama ternyata tak surut meski kalangan Islam yang mendukung kemajukan berbangsa tak henti menyerukan perlunya saling menghargai. Polisi memang bergerak cepat, tetapi ada yang perlu dicatat dari berita Kompas: ”Kepala Polda DIY Brigadir Jenderal (Pol) Haka Astana mengatakan, polisi sudah menangkap satu orang berinisial Kh yang diduga terlibat penyerangan. Kh ditangkap di rumahnya yang tak jauh dari lokasi kejadian. Haka menambahkan, pihaknya belum bisa menyimpulkan motif penyerangan. Namun, dia menjamin warga tak perlu takut menjalankan kegiatan yang tak bertentangan dengan aturan. ’Namun, kami berharap, jika ada kegiatan bersama-sama, mohon polisi diberi tahu,’ kata dia”. Pernyataan ”jika ada kegiatan bersama-sama, mohon polisi diberi tahu”, tidak pelak menimbulkan kesan tentang pendekatan menghadapi keamanan warga. Ini paralel dengan sikap polisi jika ada perampokan nasabah bank. Seolah kesalahan pada korban karena ”…kalau mengambil uang di bank dalam jumlah besar, minta pengawalan polisi untuk pengamanan”. Pengamanan, keamanan Bayangkan jika setiap pengajian agama dalam komunitas harus memberi tahu polisi, apakah polisi akan mengawalnya? Berapa banyak polisi yang harus menunggui mengingat banyaknya majelis taklim, persekutuan doa, atau ibadah bersama oleh penganut agama-agama yang ada di Indonesia. Begitu juga dengan pengambilan uang di bank. Bukan soal jumlah besar atau kecil perlu pengamanan. Uang Rp 5 juta sangat berharga bagi nasabah kecil. Jika dana miliaran dirampok, mungkin tidak jadi soal bagi korporasi yang mengasuransikan setiap asetnya. Karena itu, bukan pengawalan spesifik orang per orang yang diperlukan karena pastilah yang kaya akan mendapat prioritas. Jika pengamanan yang diperlukan, setiap orang akan membentuk dan membiayai pengawal pribadi. Kelompok agama akan punya pasukan sendiri. Korporasi harus menyewa satuan pengamanan terlatih. Ini semua mencerminkan hilangnya kepercayaan kepada negara, khususnya kepada aparatur untuk fungsi keamanan. Di Youtube ada klip Presiden Obama berjalan kaki menyapa orang di jalanan (http://www.youtube.com/watch?v=gZR1CvSQntE). Di situ terlihat pengamanan yang tak mencolok, tak ada aparat berpakaian seragam, tidak ada serdadu yang menyingkirkan warga yang dilewati. Jika memang ada keamanan, buat apa pengamanan spesifik yang berlebihan? Keamanan di ruang publik (public-sphere) dalam parameter birokratis adalah dari statistik penangkapan pelanggar hukum. Namun, bagi warga, yang lebih penting rasa aman. Bagaimana disebut ada keamanan jika saat sekadar berdoa bersama merasa waswas, khawatir akan diserbu. Pendekatan operasionalisme (Peursen, CA van, 1976, Strategi Kebudayaan, BPK Gunung Mulia -Penerbit Yayasan Kanisius, Jakarta-Yogyakarta) kiranya perlu tetap dirujuk guna menghindari pendekatan jangka pendek dalam kubangan struktur institusi sendiri. Banyak hal harus disesali ketika setting zaman dan eksistensi diri berubah. Seorang prajurit merasa sukses dalam struktur kerjanya saat dapat mematikan musuh, bahkan membuat satu kampung tak hancur. Namun, saat keberadaan diri akan jadi negarawan, ketegasan saat berperang digugat sebagai kekejaman. Cara pandang hanya dalam lingkup kerja struktural dapat mengabaikan kepentingan mendasar warga yang harus dilayani. Kemajemukan yang terusik Dengan pendekatan pengamanan, kemajemukan niscaya tak bermakna apalagi jika disebut (sekadar terusik). Persoalan mendasar adalah pembiaran terhadap tindakan kekerasan dalam kehidupan publik. Ruang publik merupakan zona yang memerlukan keamanan berdasarkan rasionalitas. Warga tak perlu pengamanan fisik satu per satu pribadi atau kelompok manakala ruang publik merupakan zona aman. Peristiwa terakhir di Yogyakarta yang berada di daerah istimewa merupakan tonjokan telak bagi publik Yogyakarta. Bagaimana mungkin di wilayah ini tindak kekerasan terjadi? Bahkan, beberapa waktu lalu terpajang dengan masif ucapan terima kasih kepada tentara yang membunuh warga sipil. Betapapun warga yang dibunuh itu preman, gali, bromocorah, atau apa pun sebutannya tak ada rasionalitas bagi tindakan pembunuhan. Hukuman mati lewat pengadilan pun perlu proses pengujian (dengan rasionalitas) bertingkat, tidak dengan kemarahan atau kebencian. Akar sikap anti kekerasan adalah rasionalitas dalam melihat kenyataan diperlukan dalam seluruh aspek kehidupan bersama di ruang publik. Nah, wong Yogya boleh menatap dirinya sendiri. ASHADI SIREGAR Peneliti Media; Pengajar Jurnalisme di LP3Y, Yogyakarta

Pelajaran Sederhana (3)

FOTO JURNALISTIK
Oleh Ashadi Siregar

Fakta empiris pada tahap pertama harus tertangkap secara visual. Disini fotografi merupakan sarana utama dalam memperoleh fakta. Fotografi mencakup kedua hal dari dimensi fakta yaitu akurasi dan presisi, sebab dengan perangkat teknologi, fakta secara obyektif direpresentasikan ke dalam foto. Dalam kajian kultural, foto biasa disebut sebagai index dari fakta-fakta di luar sana.
Sifat obyektivitas foto-jurnalisme biasa dipersoalkan dari 2 sisi yaitu pada perekaman fakta (rekayasa dengan lensa/filter), dan pada proses produksi (rekayasa digital pengolahan dan pencetakan). Sedang rekayasa ambilan dan produksi tidak dapat ditoleransi jika untuk mengubah bentuk dari obyek, sedang untuk memperjelas bentuk atau mengembalikan ke suasana waktu (pagi/siang/sore/malam) fakta, dengan rekayasa digital sudah biasa dilakukan. Untuk keperluan jurnalisme rekayasa yang mengubah citra fakta untuk tujuan estetika, masih diperdebatkan.

Bertolak dari sudutpandang dunia fotografi, maka foto-jurnalisme pada hakikatnya menangkap fakta, dengan pilihan bahwa penggalan proses fakta dipandang memiliki nilai berita (penting atau menarik), dan dapat dianggap sebagai representasi dari fakta. Bagaimana hubungan fotografi dengan teks-verbal? Segala yang tidak dapat terungkap dari fotografi, baru kemudian dideskripsikan secara verbal. Sebaliknya, yang sudah ternampak dalam fotografi, tidak perlu dideskripsikan secara verbal.

Fotografi di media cetak bukan hanya urusan jurnalis spesialis fotografi. Kedudukan fotografi dimulai dari setiap reporter manakala berada di lapangan. Kendati disiapkan sebagai jurnalis yang akan mendeskripsikan fakta secara verbal, apapun yang dihadapinya, sejak dini harus punya pertimbangan untuk merekam visual fakta sebagai bagian dari kerjanya. Kecuali kalau kerjanya hanya memungut dunia fiksi dari narasumber, cukup mengambil foto profil.

Kedudukan fotografi di media cetak dapat dilihat sebagai:
1) Pendamping dari fakta yang dideskripsikan secara verbal;
2) Ilustrasi pendukung deskripsi verbal berita;
3) Berdiri sendiri sebagai features.

Dengan demikian teks verbal yang melekat pada fotografi adalah:
1) Caption fotografi pendamping dan pendukung deskripsi verbal;
2) Caption fotografi berdiri sendiri;
3) Teks verbal features dari fotografi berdiri sendiri.

Jika diikuti kerangka pemikiran bahwa dari suatu fakta, visualisasi fotografi adalah setara dengan deskripsi verbal, kesetaraan itu terwujud melalui foto = judul & kickers; caption = lead. Selain itu, caption bukan untuk mendeskripsikan apa yang sudah ternampak secara visual, melainkan memberikan fakta bersifat latarbelakang tempat, waktu, atau atribusi orang. Sedangkan fotografi-features dengan sendirinya berkurang “kecerewetan” (verbose)nya dibanding features verbal.

Kelemahan yang biasa dihadapi dalam foto jurnalistik di media cetak adalah:
1) Teknikalitas, yaitu komposisi, pencahayaan, dsb dalam visual fotografi;
2) Pilihan fakta dalam snapshot, berkaitan dengan nilai signifikansi sebagai pendamping dari deskripsi verbal;
3) Relevansi fotografi sebagai ilustrasi pendukung;
4) Kurangnya perhatian dalam pengembangan foto-features.

ANEKDOT FOTOJURNALISTIK PADA MASA UNI-SOVIET.
Gara-gara foto kunjungan Pimpinan Partai Komunis sekaligus Pemerintahan Kruschev ke suatu pertanian kolektif, redaktur dan fotografer koran utama negara komunis itu dibuang ke Siberia.
Kisahnya begini :
Alkisah Krushchev berkunjung ke suatu pertanian kolektif yang sangat sukses. Kebanggaan kelompok petani adalah keberhasilan mereka mengembangkan babi yang sangat gemuk menggairahkan. Karenanya, dengan sangat sumringah, Kruschev minta agar fotografer mengambilnya bersama babi-babi. Saat dimuat, redaktur foto memasang caption yang heroik begini:
Di bawah naungan panji-panji partai yang gemilang, kamerad petani telah sukses membiakkan babi di tanah pertanian Kucluk. Di antara babi-babi yang gemuk dan sehat tampak ketua Krushchev tersenyum (kedua dari kiri).
Pertanyaan untuk anda yang pernah melihat foto Kruschev: apakah perlu diidentifikasi yang mana Kruschev?

Pelajaran Sederhana (2)

BERITA JURNALISTIK: MENULIS SINGKAT – PADAT
Oleh Ashadi Siregar

( 1 )
Kerja dalam jurnalisme pada dasarnya mengolah fakta menjadi informasi, dapat ditempatkan dalam 2 kelas, pertama: dalam level teknikalitas dengan kemampuan menemukan dan menuliskan fakta sesuai format dan struktur teks berita, biasa disebut sebagai proses reportase/liputan berita (news reporting/covering), Kedua dalam level analisis dengan kemampuan menulis/membentuk teks sesuai dengan wacana (discourse) yang memiliki makna publik (public meaning), disebut sebagai proses analisis berita (news analysis).

Uraian dalam risalah ini berkaitan dengan level pertama. Secara teknis, proses jurnalisme pada terdiri dua tahap, pertama untuk memperoleh fakta, dan kedua menulis teks berita. Menulis singkat dan padat dapat dipelajari sebagai keterampilan berbahasa (diksi – komposisi – eksposisi – deskripsi). Sedang nilai informasi dari suatu berita dapat bersifat pragmatis yaitu sesuai dengan keperluan bersifat teknis (bernilai/fungsional bagi pengguna), yang dapat dibedakan dari makna dalam konteks kultural sebagai public meaning (makna publik: apa yang dianggap benar dalam kehidupan publik)

Makna secara umum (pragmatis dan kultural) dimaksudkan untuk membangun kredibilitas media jurnalisme. Kredibilitas diperoleh dari interaksi bertahun-tahun dengan publik, dibangun secara sosiologis dengan bertolak dari visi dan misi yang dianut penyelenggara media, menjadi landasan keberadaan seterusnya. Secara eksternal kredibilitas merupakan persepsi publik terhadap media, dan secara internal diwujudkan melalui kualitas yang dibentuk. Parameter kualitas hadir melalui praktik sosial untuk mewujudkan produk berita media pers. Operasi teknis dengan kinerja dan output pemberitaan dalam azas kecermatan faktual (accuracy), keseimbangan/ ketidak-berpihakan (balance/impartiality), dan kepantasan (fairness). Dari sisi lain, azas ini dapat dilihat sebagai proses untuk mencapai obyektivitas dan kebenaran (truthness). Dengan capaian akhir inilah kredibilitas media pers sebagai institusi sosial diwujudkan sehingga publik menghargai media persnya.

Selain itu kualitas media pers dapat dibangun melalui daya tarik (attractiveness). Desain untuk penampilan fisik termasuk urusan ini. Tetapi daya tarik dari desain hanya berkaitan dengan aspek motorik psikhis. Yang utama adalah daya tarik yang berasal dari substansi teks, sebab dari sinilah kredibilitas disentuh. Ini berkaitan dengan makna publik, yaitu apa yang dianggap benar bertolak dari sisi akal sehat maupun kesadaran kolektif dalam kehidupan publik. Makna publik tidak bersifat ekplisit, melainkan sebagai wacana yang terkandung dalam teks.

Karenanya sebagai “roh” yang terdapat disebalik (beyond) suatu teks.
Kredibilitas media membawa implikasi dalam posisinya bagi publik. Media dipersepsikan menjadi sumber dari makna publik, karenanya dipercaya sebagai sumber kebenaran, dan pada sisi lain memiliki kekuasaan (power) secara intelektual di tengah publik. Dalam posisi semacam ini media pers akan di”cemburui” oleh pihak yang berkepentingan untuk memonopoli makna publik. Karenanya makin tinggi kredibilitas, makin besar kekuasaan, makin keras hantaman kekuatan yang memperebutkan hegemoni dalam kehidupan publik.

( 2 )
Media beroperasi tidak di ruang hampa. Dia berada di tengah lingkungan dengan konstruksi sosial tertentu. Konstruksi sosial menjadi landasan kebenaran yang dianut secara kolektif, karenanya mempengaruhi seluruh cara pandang pada level pertama maupun kedua. Setiap relasi sosial merupakan fakta yang selamanya dilihat dalam dataran kebenaran. Sedang kebenaran merupakan suatu nilai yang didefinisikan untuk tujuan idealisasi. Dengan kata lain, kebenaran menjadi dasar bagi posisi lebih dominan dalam setiap relasi sosial. Pihak yang benar, memiliki kekuasaan untuk memiliki pembenaran bagi tindakannya dalam situasi sosial yang diciptakan. Karenanya suatu situasi sosial memiliki kualitas yang parameternya ditetapkan atas dasar definisi nilai kebenaran. Nilai kebenaran perlu dilihat dalam 3 aras, pertama pada aras empiris, kedua pada aras legalitas, dan ketiga pada aras rasa keadilan.
Kebenaran empiris bagi kalangan positivis cukup dilihat dari adanya terjadi dalam ruang dan waktu yang dapat dibuktikan dengan inderawi (sense) manusia. Prinsip jurnalisme konvensional bertumpu pada kebenaran empiris. Pembuktian sesuatu situasi sosial memang benar ada, merupakan titik awal dalam kerja jurnalisme dan akademik. Seluruh prinsip metodologi sosial yang konvensional atau klasik pada dasarnya bertumpu pada upaya mendapatkan situasi sosial yang ada secara empiris. Penyimpangan atas kebenaran dipandang sebagai kepalsuan atau dusta dalam tindakan. Kebenaran bersifat empiris penting sebagai titik berangkat, tetapi tidak memadai dalam menata kehidupan sosial. Lalu dari sini dikenal kebenaran lainnya.

Kebenaran legalitas bertolak dari hukum positif, dengan memperbedakan tindakan atau perbuatan manusia dengan ukuran hukum formal. Setiap perbuatan manusia dinilai dari ketentuan yang dirumuskan dengan kaidah hukum formal, baik hukum positif maupun hukum agama (fikih) dan hukum tradisional (adat). Parameter dari kebenaran legalitas dilihat dari kesesuaian perbuatan individu dalam situasi sosial yang tertata (social order), karenanya penyimpangan dari standar merupakan perbuatan salah yang harus mendapat sanksi. Hukum agama dan adat memiliki sifat primordial, karenanya dalam kehidupan modern berlaku hukum positif sebagai sumber kebenaran legalitas. Dengan kebenaran ini kedudukan manusia ditempatkan di bawah kaidah yang dirumuskan, sehingga sering terjadi makna kehidupan manusia tidak perlu dilihat, sebab yang dinilai adalah perbuatan empiris.

Kebenaran atas dasar rasa keadilan dilihat melalui keberadaan manusia secara total dalam kaitan dengan hak-haknya sebagai manusia. Kebenaran semacam ini bertolak dari pendefinisian makna kemanusiaan. Perbuatan apalagi yang bersifat momentum, hanya merupakan bagian penggalan kecil dari kehidupan seseorang. Sedangkan kehidupan merupakan proses panjang dan mendalam menyangkut totalitas kedirian dalam dimensi fisik dan dimensi psiko-sosial yang berada dalam masa lalu, kini dan masa datang, berada dalam konteks dunia empiris dan dunia simbolik. Dengan kata lain, setiap manusia hadir dalam kaitan kontekstual antara dunia-dalam (inner-world) dan dunia-luar (outer-world)nya, yang perlu dilihat maknanya secara total dan kontekstual.

Hak asasi melekat pada setiap manusia, dari sini keberadaan setiap manusia dapat dilihat dari kapabiltasnya dalam mewujudkan hak-haknya, atau sebaliknya hambatan dalam mewujudkan hak tersebut. Karenanya parameter untuk mengidentifikasi masyarakat secara kritis adalah melalui pertanyaan kunci, sejauh mana interaksi antar warga dan antar kelompok dalam konteks negara dan masyarakat. Kondisi tidak ekual secara sederhana dilihat dari hambatan bagi person atau kelompok dalam mewujudkan hak-haknya dalam situasi sosial. Hambatan ini berada pada tiga level: pertama faktor fisik, kedua faktor akses/interaksi personal, dan ketiga faktor struktural. Setiap level menghadapi kendala yang khas.

Faktor pertama, bersumber dari kondisi fisik. Pengwujudan hak dapat terhambat akibat keterbatasan fisik antara lain dialami oleh kalangan berbeda kapasitasnya (different abilities, difable), sebutan untuk person yang mengalami keterbatasan secara fisik maupun mental yang mempengaruhi kapasitas dalam interaksi sosial. Begitu pula anak-anak dan perempuan atau seseorang yang karena faktor fisik mengalami diskriminasi sering mengalami ketertindasan sehingga kehilangan hak-haknya.

Faktor kedua, hambatan yang bersumber dari kondisi status sosial seseorang. Tingkat pendidikan yang rendah, atau kedudukan ekonomi yang lemah, serta status sosial yang rendah mengakibatkan seseorang mengalami keterbatasan dalam relasi sosial, lebih jauh tidak punya akses terhadap fasilitas yang ada di ruang publik. Dengan begitu tidak dapat memanfaatkan hak-haknya atas fasilitas tersebut.

Sedang faktor ketiga bersifat struktural dilihat dari kondisi relasi-relasi sosial yang berlangsung di ruang publik yang melahirkan konstruksi sosial dalam memperlakukan manusia, dengan menganggap ketidak-setaraan sebagai suatu kebenaran. Konstruksi sosial yang bersifat diskriminatif terhadap warga dianggap sebagai hal yang normal, maka keberadaan kelompok yang tidak dapat mewujudkan hak-haknya dengan sendirinya tidak ternampak.

Dari sini setiap person atau kelompok pada dasarnya perlu dilihat dari kondisi subyektifnya yang berhadapan dengan pihak lain dalam suatu situasi sosial. Dengan sudut pandang ini person ditempatkan dalam posisinya yang berhadapan dengan kendala-kendala atas hak-haknya dalam suatu perspektif. Sehingga dalam perspektif kritis yang bertolak dari asumsi dasar adanya ketidak-setaraan ketidak-seimbangan dan ketidak-samaan (inequality). Dalam situasi sosial, diperlukan sudut pandang dengan memberi perhatian terhadap person yang berada dalam situasi ketidak-setaraan. Situasi sosial semacam ini diisi oleh interaksi antara pihak yang powerful dengan pihak yang powerless pada interaksi emprisi, dan sekaligus voiceful dan voiceless dalam politik pencitraan.

( 3 )
Berita adalah cerita tentang fakta. Apakah fakta? Yaitu aspek tertentu yang didefinisikan (defining) atau spesifikasi dari suatu realitas. Fakta jurnalisme adalah aspek dari suatu realitas yang dispesifikasikan atau didefinisikan dengan kategori kelayakan berita (newsworthiness).
Seluruh kaidah kerja bertujuan untuk mendapatkan obyektivitas dan kebenaran ontologis atas fakta. Dalam kaidah ini, hukum besi dalam epistemologi jurnalisme adalah: reporter tidak boleh menciptakan fakta. Fakta berasal dari dunia obyektif, sepenuhnya berada di luar dunia subyektif jurnalis. Secara sederhana fakta adalah seseorang / person (Who) yang mengalami atau terlibat dalam peristiwa, kasus atau fenomena (What) dalam ruang/tempat (Where) dan waktu (When) yang teruji kebenarannya (secara ontologis). Disini reporter juga perlu mewaspadai subyektivitas dari pihak-pihak dalam fakta. Subyektivitas dapat muncul dari setiap person yang menjadi narasumber. Dalam prakteknya, media menyiarkan berita yang diolah dari bahan/materi dari varian fakta sebagai berikut:

Varian pertama, fakta sebagai dunia obyektif yang dapat direkonstruksi oleh jurnalis atas dasar tangkapan inderawinya. Fakta semacam ini dihadapi secara langsung oleh jurnalis melalui observasi. Dalam merekonstruksikan fakta ini, jurnalis mutlak harus dapat menyisihkan emosi dan perferensinya yang mungkin ada dalam menghadapi fakta tersebut. Biasanya fakta semacam ini hanya dalam lingkup tontonan seperti kesenian atau olahraga, sebab “Who” yang terdapat dalam fakta dapat dideskripsikan atas dasar observasi langsung oleh jurnalis.

Varian kedua, fakta adalah dunia obyektif yang direkonstruksi atas dasar bantuan keterangan pihak yang mengalaminya. Bagian terbesar berita berupa fakta sosial yang merupakan hasil rekonstruksi semacam ini. Disini pentingnya narasumber (resource person) yang akan menjadi who dalam beritanya. Kebenaran atas suatu fakta mutlak harus teruji melalui segiempat: WHAT – WHO – WHERE – WHEN, yang dapat diyakini adanya. Prinsip ontologis metodologi jurnalisme adalah untuk memperoleh pembuktian bahwa faktor segiempat ini memang ada secara empiris. Inilah yang menjadi fakta keras (hard fact). Kebebasan orang media untuk merekonstruksikan fakta keras dalam konteks untuk kepentingan publik (pro bono publico) merupakan bagian dalam kebebasan pers (freedom of the press). Tanggungjawab atas suatu hasil rekonstruksi fakta adalah pada jurnalis, bukan pada narasumber.

Varian ketiga, fakta buatan adalah adanya seseorang menyatakan komentar, pendapat, sikap, atau perasaan seseorang atas suatu fakta keras. Dengan kata lain, merupakan who yang menyatakan (stated, expressed) suatu hal atas suatu fakta keras. Kebebasan warga untuk menyatakan alam pikiran ini merupakan bagian dalam kebebasan ekspresi (freedom of the expression). Fakta semacam ini dapat disebut sebagai fakta buatan, sebab dibentuk saat jurnalis meminta komentar/pendapat dari seseorang. Sebelum seorang mengekspresikan alam pikirannya, belum terbentuk fakta. Suatu pendapat sebagai alam pikiran tidak dapat menjadi fakta, sebab yang menjadi fakta adalah adanya seseorang berpendapat. Tanggungjawab atas alam pikiran tersebut pada orang bersangkutan, kecuali dia sebagai narasumber menganggap jurnalis salah dalam mengutip ekspresinya.

Selain itu varian fakta buatan dapat pula berupa peristiwa yang direncanakan oleh pihak tertentu untuk kepentingan subyektif, ataupun kepentingan sosial untuk pencitraan bersangkutan. Biasanya wartawan diundang untuk meliput. Nilai berita tdak terdapat dalam peristiwa, tetapi dari substansi permasalahan yang dinyatakan pada peristiwa.
Varian keempat, bahan berita seolah-olah suatu fakta tetapi tidak dibuktikan secara empiris (to state as fact without proof), merupakan sinyalemen, dugaan, kabar burung yang tidak dibuktikan. Jurnalis tidak akan memberitakan bahan berita semacam ini. Kalaupun ada bahan semacam ini, jurnalis akan mengivenstigasi guna mendapatkan fakta bersifat empiris. Dengan demikian suatu dugaan hanya akan menjadi titik tolak dalam investigasi.

Proses kerja jurnalisme pada dasarnya berkaitan dengan jurnalis mendapatkan fakta. Untuk itu berlangsung hubungan JURNALIS – FAKTA – NARASUMBER. Disini faktor narasumber sangat penting, sebab hanya melalui narasumber jurnalis dapat memperoleh fakta. Seorang jurnalis mungkin saja memperoleh fakta tanpa adanya narasumber kalau dia dapat mengobservasi secara langsung fakta tersebut. Sebaliknya, jurnalis mutlak harus menghindari penulisan berita tanpa adanya narasumber, manakala fakta tidak diobservasi secara langsung. Berita “dugaan” adanya fakta semacam ini mutlak harus dihindari dalam proses jurnalisme.

( 4 )
Dalam proses kerjanya setiap reporter pada umumnya bertolak dari kaidah teknis yang biasa disebut sebagai nilai berita atau standar kelayakan berita. Kadangkala kaidah teknis ini dianggap sebagai dogma yang keramat, dengan melupakan masalah epistemologi yang mendasari kerja profesi ini. Dalam kaidah epistemologi, jurnalis perlu melakukan pendenifisian (defining) atas kedua ranah (domain) fakta dan informasi. Untuk itu perlu disadari bahwa setiap pendefinisian selamanya bertolak dari preferensi atau kecenderungan terarah dari pihak yang mendefinsikan. Preferensi ini dapat dalam konteks skala pribadi, kolektif dalam manajemen korporasi, atau yang lebih universal. Selain itu preferensi dapat juga bersifat subyektif atau sebaliknya obyektif. Berbagai buku teks jurnalisme umumnya memberikan pendefinisian atas fakta sekaligus informasi jurnalisme.

Kaidah teknis kelayakan informasi secara umum dirumuskan melalui sifat fakta seperti: berakibat (impact), nilai keuangan (currency), kewaktuan (timeliness), keterkemukaan (prominence), kedekatan (proximity), pertentangan (conflict), kebaruan (novelty), keganjilan (unusual), dan lainnya. Secara teknis sifat fakta digolongkan penting dan menarik, bertolak dari kepentingan khalayak. Suatu fakta dipandang penting jika memiliki nilai guna sosial, sedang menarik jika memenuhi nilai guna psikhis.

Nilai berita suatu fakta dapat dilihat dari dua sisi, pertama bersifat intrinsik, terkandung dalam fakta itu sendiri, dan kedua bersifat ekstrinsik sesuai dengan pemaknaan yang dilakukan oleh khalayak. Suatu fakta pada dasarnya merupakan penggalan dari suatu proses sosial, dan sebagai suatu peristiwa yang tidak diperkirakan terjadinya. Dengan kata lain, makna suatu fakta tidak dapat dilepaskan dari ruang sosial dimana fakta itu muncul. Pada sisi lain, secara ekstrinsik fakta tadi memiliki arti penting bagi kehidupan khalayak media.

( 5 )
Menulis singkat dan padat boleh dipandang sebagai masalah penyuntingan bahasa. Prinsip sederhana dalam kerja ini adalah menciptakan teks yang efisien dan efektif. Sifat ini dalam tulisan jurnalistik dapat dilihat dari 2 sisi. pertama dari sisi pembaca, kita sebut efektif jika dengan cara pembaca yang sambil lalu ia dapat paham dan menghayati isi bacaannya; dan efisien jika dengan waktu yang cepat ia dapat menyelesaikan bacaannya dengan hasil yang maksimal. Jadi kalau pembaca sampai berkerut kening untuk memahami suatu tulisan, katakanlah tulisan itu sudah gagal sebagai teks jurnalistik. Begitu pula kalau ia harus membuang waktu terlalu banyak untuk memahami tulisan tadi. Kedua, dari sisi penulis, penulisan disebut efektif jika seluruh ide atau gagasan dapat disampaikan dengan lengkap; sedang efisien jika dengan kata yang lebih sedikit dapat menyampaikan ide dengan jelas.

Di luar urusan penulisan, masalah penyuntingan teks berita dapat dikembalikan pada basisnya, yaitu pendeskripsian fakta sebagai langkah untuk menghadirkan makna dari fakta tersebut. Tahap awal adalah menentukan bagian dari bangunan (struktur) fakta yang akan dideskripsikan. Karenanya komposisi suatu teks akan mengikuti struktur fakta sesuai dengan tangkapan reporter.

Struktur paling sederhana suatu fakta adalah segiempat unsur (apa, siapa, tempat dan waktu terjadi suatu fakta), deskripsi pada level pertama dilakukan atas unsur-unsur tersebut. Pendeskripsian semacam ini, melekat sebagai keterampilan setiap anak didik sejak sekolah dasar. Kalau dalam proses pendidikan anak didik dibimbing untuk bercerita atas fakta, diharapkan setamat SD sekadar menulis teks berita dengan 4 unsur bukan hal yang asing lagi. Kalaupun dianggap ada yang perlu dipelajari adalah dalam komposisi/struktur teks.

Deskripsi level berikutnya dengan faktor mengapa (WHY) dan bagamana (HOW) diterapkan atas satu unsur berkonteks pada unsur lainnya (mengapa: siapa berkonteks apa, atau apa berkonteks tempat, dan sebagainya). Deskripsi singkat dan padat biasanya berhadapan dengan kepentingan pengungkapan kelengkapan dan detail dalam penulisan teks berita. Kelengkapan dan detail bertolak dari 4 unsur pokok atau pun dengan faktor mengapa dan bagaimana bertolak dari keperluan kejelasan dalam kerangka efisiensi dan efektivitas komunikasi.

KUANTAR… (1)

Mari bernostalgia dengan dua buku tentang Pekerja Seks Komersial (PSK). Saat buku ditulis akhir tahun ‘70 dan awal ‘80-an, atribut PSK belum diperkenalkan. Istilah yang digunakan “pelacur” atau Wanita Tuna Susila (WTS). Jadi dapat dimaklumi kalau sebutan itu bertaburan di setiap halaman  Jangan protes. Tokh kedua buku sudah tidak dicetak ulang. Belakangan berbagai buku tentang dunia remang-remang dan jasa seks bermunculan.

MENYUSURI REMANG-REMANG JAKARTA

Oleh Yuyu AN Krisna

Penerbit Sinar Harapan

Jakarta 1979

143 halaman

PRAWACANA    Oleh: Ashadi Siregar

APAKAH berjulukan hetaerae yang cerdas dan terhormat di Yunani kuno, ataukah meretrice yang melata di masarakat bawah Romawi, tapi apa bedanya? Seks sebagai komoditi telah menumbuhkan suatu profesi yang memerlukan totalitas diri seba­gai modal kerja. Hubungan seks antara dua jenis manusia sudah setua adanya manusia di muka bumi ini. Tetapi mengapa masih menjadi persoalan?

Pelayanan seks dalam kerangka kultural menyebabkan wanita pelakunya mendapat kehormatan luhur, sebagaimana gadis-gadis candi (temple maidens) yang mempersem-bahkan kepera-wanannya dalam upacara agama masarakat purba. Sedang hetaerae yang anggun, tanpa kikuk hadir dalam pesta-pesta celebrity yang cemerlang. Tapi sang me­retrice diperhina dengan dipaksa memakai wig dan pakaian khusus untuk menandai profesinya sementara bergelandangan di pojok kota.

Lantas, apa bedanya temple maidens, hetaerae, meretrice, atau apapun namanya jika dilihat perilaku manusianya? Bukankah masarakat yang memberi warna pada profesi itu? Bagaimana masa­rakat memberi penilaian terhadap perilaku seks yang diangkat ke kehidupan luar, akan melahirkan posisi sosial seseorang penjaja seks.

Pada masa ini seolah-olah kita sudah punya kesepakatan tentang warna profesi ini. Kelam. Itu agaknya yang menyebabkan kita melihat keremang-remangan kehidupan ini. Kehidupan semacam ini dianggap patologis. Sekian buku ilmiah tebal telah ditulis orang, mencoba mengatasi penyakit sosial ini. Sekian pula fiksi dikarang de­ngan berbagai sikap: mengutuk atau bersimpati pada kehidupan persundalan. Sementara penjajaan komoditi ini berlangsung terus.

Maka kita pun melihat aktivitas ini sebagai sisi hitam dalam kehidupan sosial kita. Semakin meng-gumpal dan keras kesepakatan sosial kita, semakin bersembunyi perdagangan ini. Sehingga, kejamnya masarakat menghukum para penjaja, bukannya melenyapkan, tapi hanya mampu melahirkan manusia-manusia hipokrit. Perdagangan seks terselubung semakin rapi mengatur diri dalam sisi sosial kita yang megah. Sedangyangdilegalisir oleh pemerintah, menampung anggota masarakat yang melata, yang siap menerima kutuk dalam beban nasibnya.

Antara keterselubungan yang mewah dan keterbukaan yang papa ini, membuat kian lama kita semakin dihadapkan dengan ukuran penilaian so­sial yang bergerak dalam ketidakpastian. Kita pun layak mempertanyakan, apa sebenarnya lagi yang menyebab-kan kita menganggap aktivitas penjajaan diri ini berwarna kelam? Penyakit kelamin yang dijangkitkannya dari tubuh ke tubuhkah? Atau pelanggaran peraturan daerah yang mengatur lokasi perdagangan seks? Ataukah alasan mendasar yang sangat klasik sejak zaman Nabi Musa: larangan berzina?

Begitulah, dari sisi mana kita melihat, akan menentukan warna pandangan kita.Sementara perilaku jual-beli itu tak pernah berubah dari abad ke abad. Dan semakin terbelah sikap kita meman-dang, semakin bervariasi pula spektrum warna pan­dangan kita. Nilai sosial pun kian relatif. Kita tak tahu lagi persis, mana yang baik, mana yang buruk; kecuali barangkali jika dikembalikan pada sumber nilai yang paling asasi, prinsip agama. Tapi sejauh manakah prinsip agama masih fungsional dalam kehidupan sosial? Jika prinsip agama beranjak dari rasa takwa pada Tuhan, dan ini sifatnya sangat individual, siapakah yang menganggapnya masih relevan terhadap kehidupan sosial kita yang hiruk di masa ini?

Mau tak mau di sini kita diajak bersikap adil dalam menilai. Keadilan hanya berarti memberikan apa yang menjadi hak seseorang, begitu konon. Lalu bagaimana perkiraan kita tentang hak sosial seorang pelacur? Lalu sampai berapa jauh batas toleransi kita pada hak sosial itu?

Kesemua pertanyaan ini tak mungkin kita peroleh jawabannya dari prinsip-prinsip atau norma-norma yang tegar. Norma hanya bersikap menghukum. Padahal penilaian yang adil memerlukan pemahaman realitas. Karena itu gambaran tanpa prasangka diperlukan agar kehidupan penjaja seks ini bisa dikenali lebih dalam lagi.

Remangkah kehidupannya, ataukah cemerlang dalam pesta para eksekutif, sebenarnya menyatu dalam sikap dasar yang sama. Sikap dasar ini bertolak dari pandangan mengenai tubuh sendiri, dan makna seks bagi dirinya. Bahwa tubuh merupakan modal kerja, dan seks adalah aktivitas yang punya nilai yang jangkauannya tidak sebatas rumah tangga. Dari sikap dasar semacam inilah lahir motif yang beraneka.

Motif gadis desa tandus yang terseret arus urbanisasi tentunya akan berbeda dengan peragawati yang Jakarta-Tokyo PP. Sarinem di Kramattunggak mengambil aktivitas ini sejalan dengan kemiskinan di desanya, sehingga dia punya kekuatan untuk menghadapi beban kehidupan sektor ini. Itulah sebabnya dia sanggup berdiam di kandang yang bernama lokalisasi dengan totalitas diri. Sementara si cantik yang berlenggok di cat-walk, atau nyonya jet-set, menjalani kehidupan ganda dalam keterhormatan gaya di satu sisi, dan penjajaan diri di sisi lain. Dan apa motif mereka, hanya bisa kita pahami dengan mendengarkan impian-impian mereka.

Impian-impian wanita yang bergulat dalam kamar apak di pojok pelabuhan atau disejuki a.c. hotel internasional, bukankah sama saja dengan impian kita? Kemiskinan kita, gengsi kita, kesom­bongan kita, bukankah itu semua melahirkan impian-impian kita selama ini? Jika si Sarinem mengimpikan hidup sekeluarga dalam batas yang layak, dan kalau bisa membeli sawah yang bisa produktif kelak setelah modal kerja sekarang menjadi afkir, bukankah ini impian kita juga? Atau Nona Excelent yang mengimpikan mercy-tiger, masuk ke kehidupan bergaya dalam berbagai party, bukankah ini impian kita juga?

Cuma, impian untuk hidup dalam batas standar dan hidup luksurius, ini yang menjadikan perbedaan yang satu dengan yang lain. Ini agaknya yang menyebabkan kita memiliki nuansa penilaian yang berbeda pula terhadap kehidupan yang mereka jalani untuk merealitaskan impian itu.

Sebenarnya kita semua mengejar impian masing-masing. Ada impian yang lahir dari lapar, ada yang muncul dari tamak. Begitulah wanita penjaja seks, dari apar kita melihat keterus-terangan yang pahit, sedang tamak akan terselubung dalam lapis keterhormatan sosial. Dengan pola motif inilah yang menjadikan penjajaan seks berbeda dalam cara. Semakin banyak kita ketahui cara perdagangan itu, semakin jelas bagi kita betapa seks benar-benar sudah menjadi komoditi yang berharga. Seiring itu pula, semakin sadar kita betapa se­makin pudarnya nilai seks yang bersifat luhur dan pribadi di tengah masarakat kita.

Karena itu pertanyaan-pertanyaan etis mengenai kehidupan wanita penjaja seks, tambah menggoda rasanya. Jawabannya tidak dapat hanya dipetik dari penyelesaian-penyelesaian sosial belaka. Mungkin akan jauh ke dalam pada sikap menilai seks. Sehingga kekayaan pemahaman kita mengenai kehidupan perdagangan seks ini akan mengajarkan betapa lapar, tamak, bahkan mungkin iseng, telah menjadikan seks sebagai komoditi, berfungsi ekonomi.

DOLLY, MEMBEDAH DUNIA PELACURAN SURABAYA

Kasus Kompleks Pelacuran Dolly

Oleh Tjahjo Purnomo Wijadi dan Ashadi Siregar

Penerbit Grafiti Pers

Jakarta 1983

156 halaman

KATA PENGANTAR

B

AHAN baku untuk penulisan buku ini adalah satu skripsi yang diajukan untuk mencapai gelar sarjana sosial di Fakul­tas Ilmu Sosial Universitas Airlangga tahun 1982. Skripsi itu berjudul Latar Belakang Sosial Kehidupan Wanita Tuna­susila – Kasus: Kompleks Pelacuran “Dolly” Surabaya, oleh Tjahjo Pumomo Wijadi.

Penulisnya, yang mengaji ilmu sosiologi, tiba pada kesadaran bahwa semua manusia memiliki nilai hidup yang sama, dengan kedirian yang lemah, yang dituntut harus bereksistensi dalam realitas. Oleh karena itu, yang mendasari sikapnya adalah pemikiran agar tiap manusia memperoleh dirinya yang sesungguhnya, agar nilai-nilai yang tak di­sadarinya atau dihilangkan oleh kekuasaan di luar dirinya dapat men­jadi miliknya yang autentik dan disadari sepenuhnya. Maka, ilmu sosiologi tak layak memberi penilaian normatif, dan lebih-lebih “menghukum”.

Berbulan-bulan penulis mengamati langsung kehidupan di kom­pleks pelacuran “Dolly”. Ini melahirkan ketertarikan yang kian kuat, membuat semakin ingin menyeruak lebih mendalam menyingkap tabir-tabir kehidupan para pelacur itu, untuk mengetahui latar bela­kang mereka sesungguhnya.

Dalam mewujudkan skripsi tersebut, sudah tentu banyak pihak yang turut terlibat di dalamnya. Terutama yang telah membimbing penulis selama penelitian dan penulisan skripsi, Drs. Hotman Siahaan, di bawah koordinasi Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Airlangga Soetandyo Wignjosoebroto MPA. Keduanya patut menerima ucapan terima kasih. Juga terima kasih penulis kepada Pembantu Dekan I FIS Unair dr. R. Koento, MPH, M.A.; Walikota Surabaya Drs. Muhadji Widjaja.

Kehidupan dalam dunia pelacuran biasanya penuh kecurigaan ter­hadap pendatang yang tidak sekadar ingin memuaskan hajat seks. Meskipun penulis sudah berusaha terjun sepenuhnya dalam observasi partisipan, tanpa fasilitas keamanan, penelitian akan sulit dilakukan. Maka, pada tempatnya diucapkan terima kasih kepada Komandan Resor Kepolisian Kota II Surabaya; Camat Sawahan Drs. Moch. Rosuli; Lurah Putat Jaya Makoen Pribadi dan stafnya, A. Hadi Asyari; serta Peltu TNI-AD Kasmanoe; Serda TNI-AD Sobiyanto, Djoeroe; Kopda Mar. Djupri S.; yang kesemuanya unsur Rukun Warga setempat.

Kemudian penulis juga berutang budi pada rekan-rekan sekuliah yang berperhatian sama dalam bidang penelitian, antara lain Sri Haryati, Tri Susantari, dan Amirzah yang telah banyak berkorban dalam penelitian ini.

Penelitian dilakukan sejak Oktober 1980 hingga Juli 1981 (10 bulan). Dan selama penelitian ini penulis nyaris tak mampu menyele­saikannya, akibat masih kuatnya penilaian normatif dari lingkungan, terutama pada saat penulis melakukan penelitian kualitatif selama 6 bulan pertama seorang diri dengan observasi partisipan. Tak jarang tuduhan bermoral “bejat” ditimpakan pada penulis. Di samping itu, penelitian kualitatif yang membutuhkan totalitas diri sempat mem­buat penulis jatuh bangun. Masuk ke tengah-tengah kompleks pela­curan sampai larut malam, untuk mengamati denyut kehidupannya, sungguh berat rasanya. Apalagi harus mengikuti irama kehidupan para “gali” setempat, sering terpaksa ikut minum minuman keras yang akibatnya mengganggu kesehatan penulis.

Tetapi, semuanya harus dilalui, penulis hanya bisa bersikap “duduk meraut ranjau, tegak meninjau jarak.” Sebagai hasilnya adalah skripsi sepanjang 1.202 halaman ketik kuarto (950 plus 252 halaman lam­piran).

Tentulah tidak seluruhnya dapat diterbitkan sebagai buku. Oleh karenanya, skripsi setebal bantal itu kemudian disunting, dan penyun­tingan dilakukan oleh Ashadi Siregar. Penyunting membuat susunan baru dengan maksud agar lebih asyik dibaca. Sebab, suatu skripsi de­ngan pola-pola penulisan yang lazim untuk dunia akademis belum tentu menarik bagi pembaca umum. Maka, telah dilakukan perombak­an tetapi tetap menggunakan data yang terdapat di dalam skripsi.

Dalam perkembangan penulisan suntingan, ternyata ada beberapa bagian yang harus ditinggalkan, dan ada pula yang harus ditambah dengan data baru yang tidak terdapat dalam skripsi. Untuk itu Tjahjo Purnomo Wijadi melakukan lagi penelitian tambahan.

Akhirnya, jadilah wujudnya dalam bentuk buku ini. Dan dalam kesepakatannya, penulis skripsi dan penyunting merasa bertanggung jawab bersama atas isi buku ini.

Betapa pun sederhananya, kehadiran buku ini diharapkan dapat memberi sumbangan bagi khasanah pengetahuan sosial, terutama me­nambah pengertian tentang suatu sisi kehidupan sosial yang ada di dekat kita juga. Dan akhirnya, buku ini bukanlah karya sempurna, karenanya sudilah pembaca yang lebih arif membukakan pintu untuk pandangan yang lebih luas. Kesalahan dalam buku ini, jika disingkat minta diulas, jika panjang minta dikerat.

Surabaya – Yogyakarta, Agustus 1982

T.P.W. & A.S.

Pelajaran Sederhana (1)

WAWANCARA JURNALISTIK

Oleh Ashadi Siregar

Pada suatu sore di akhir 80-an. Sedang asyik-asyiknya menikmati kesendirian dengan sebuah buku, saya terusik bel rumah. Seorang muda bertamu. Saya tidak mengenalnya, karenanya setelah menjawab salam awal persuaan, saya menunggu dia memperkenalkan diri.

”Saya dari ’….’,” dia menyebut nama sebuah media majalah mingguan terbitan Jakarta, ”saya mendapat tugas untuk mewawancarai bapak.”

Bukan namanya yang dia sebut. Jadi dia ingin anonim saat berwawancara.

Dia mengeluarkan selembar kertas faks dan tape recorder. Kelihatannya dia yakin, dengan menyebut nama medianya, setiap orang akan sangat ingin diwawancarai. Hm, pasti dia bukan mahasiswa saya, dan juga tidak pernah mengikuti latihan jurnalisme yang di dalamnya saya terlibat. Sebab tidak lazim mahasiswa atau calon wartawan yang mengenal saya, memperlakukan saya sebagai bapak-bapak, apalagi dengan gaya congkak saat menyebut nama medianya. Boleh jadi oleh seniornya ditanamkan kebanggaan akan reputasi medianya, tapi dalam tangkapan saya menimbulkan kesan arogan. Bisakah dibedakannya pride (bangga) dengan congkak?

”O, begitu,” kata saya, tentu sudah dengan nada yang datar. Bisa anda bandingkan dua situasi: kenikmatan dari buku, dengan waktu yang harus saya sediakan untuk si reporter?

Boleh jadi dia terintimidasi dengan nada datar sambutan, duduknya mulai gelisah.

Saya tidak tertarik dengan nama medianya, meskipun banyak di antara pengelola media itu yang sudah saya kenal belasan tahun, dan media ini punya reputasi tinggi. Tetapi yang lebih penting bagi saya adalah tentang dirinya. Saya ingin  mengenalnya, dan sedapat mungkin tahu latar belakang yang mempertalikan dia dengan saya. Saya tidak memerlukan basa-basi, apalagi nama besar media tempatnya bekerja yang dibanggakannya. Saya hanya ingin tahu bahwa dia sebagai reporter memang pernah bertemu dengan saya dalam kesempatan atau forum-forum yang membahas masalah jurnalisme. Kalau dia (bekas) mahasiswa, dapat menyebut kelas yang saya ampu manakala dia pernah menjadi peserta. Atau di antara sekian banyak pelatihan atau diskusi yang telah saya hadiri, dan dia ada di dalamnya. Percakapan dapat dimulai dari persoalan yang pernah dibahas disitu. Atau dia mempertalikan dengan seseorang yang saya kenal baik, yang pernah berurusan dengan dia. Kalau memang perlu basa-basi profesional, percakapan semacam itu yang saya perlukan.

Mungkin reporter muda ini tidak pernah mendapat pelatihan wawancara di kantornya. Bukankah selalu ditekankan perlunya ’ice-breaking’ dalam suatu interaksi? Dan pemecah kebekuan yang efektif adalah percakapan dengan topik yang mempertalikan diri si pewawancara dengan terwawancara.

***

Perjuangan awal seorang reporter muda adalah menghadirkan diri dalam interaksi, dan dalam perjalanan panjang akan memiliki hubungan dengan berbagai kalangan, orang-orang yang punya peran dalam kehidupan publik. Karenanya nilai diri seorang jurnalis adalah goodwill, berupa daftar panjang relasi yang mengenal dan mempercayainya, sekaligus bersedia menjadi narasumber,

Bagaimana jika deretan ”daftar nama” relasi belum panjang? Saur Hutabarat, lulusan jurusan Ilmu Komunikasi UGM, belakangan sebagai jurnalis handal, pernah bercerita dalam salah satu program pelatihan calon wartawan di LP3Y. Saat dia baru meninggalkan kampus dan masih dalam status reporter pemula, oleh redakturnya ditugasi mewawancarai Prof Oemar Senoadji. Bayangkan, seorang wartawan greenhorn, harus menemui seorang mahaguru hukum sekaligus Ketua Mahkamah Agung.

Setelah diterima di ruang kerja Prof Oemar, Saur membuka percakapan: ”Boleh dibilang, saya ini cucu murid atau bahkan mungkin cicit murid bapak.”

Prof Oemar melengak.

”Iya pak, saya tidak beruntung langsung menjadi mahasiswa bapak, tapi diktat kuliah bapak sewaktu mengajar Hukum Pers di Gadjah Mada, diwariskan dari generasi ke generasi, sebagai pegangan kami,” lanjut Saur.

Prof Oemar terkuak nostalgianya manakala mengajar di Pagelaran Kraton Yogyakarta, tempat kuliah mahasiswa Fakultas Sosial dan Politik dan Fakultas Hukum saat Universitas Gadjah Mada belum punya gedung. Percakapan bermula tertang pengajaran hukum. Maka terbuhul pertalian. Di sini Prof Oemar sebagai guru Ilmu Hukum. Setelah bercakap-cakap beberapa menit, kemudian dia menyediakan diri, sebagai narasumber untuk isu yang akan diangkat media tempat Saur bekerja. Maka Ketua Mahkamah Agung berbicara pada si reporter pemula.

Dapat dipahami bahwa terwawancara yakin bahwa reporter muda pewawancara dihadapannya, memiliki pengetahuan memadai yang diperlukan dalam wawancara tentang masalah hukum. Karenanya dapat dimaklumi manakala kemudian wawancara sesuai isu yang akan ditulis, berlangsung dalam diskusi yang intensif. Dan Prof Oemar Senoadji menyediakan waktu melebihi yang ditentukan semula oleh stafnya.

***

Wawancara jurnalisme bukan tanya jawab dengan kuesioner. Wawancara merupakan dialog, yaitu interaksi antara pewawancara dengan terwawancara. Walaupun menggunakan piranti perekam, mungkin berupa tanya-jawab, tetapi sebagai suatu dialog yang bertolak dari upaya merekonstruksikan suatu fakta atau wacana.

Pekerjaaan jurnalisme pada hakikatnya diwujudkan dengan wawancara. Jurnalis tidak pernah menciptakan berita, sebab berita selamanya berasal dari fakta. Fakta berada dalam ruang dan waktu tertentu, biasa disebut berada di lapangan (field). Setiap fakta lapangan, melibatkan orang atau person yang mengalami atau menyaksikan (bersifat empiris), atau person yang berpendapat atas suatu fakta. Dengan begitu suatu berita akan bertumpu pada pengalaman empiris atau pun pendapat seseorang. Untuk mendapatkan pengalaman dan pendapat ini setiap jurnalis harus menggunakan teknik wawancara. Dalam kerjanya seorang jurnalis dapat juga menggunakan teknik observasi, tetapi harus disadari bahwa hanya fakta fisik yang sedang berlangsung dapat diobservasi. Jaranglah seorang jurnalis berhadapan dengan fakta semacam itu. Fakta fisik yang dipertunjukkan sehingga tersedia untuk diobservasi hanyalah dalam upacara, olahraga, acara seni atau kegiatan teragenda lainnya. Sedang fakta selamanya sudah berlalu saat jurnalis berada di lapangan.

Ya, fakta lapangan umumnya sudah berlalu, karenanya harus direkonstruksi dari keterangan narasumber. Begitupun suatu pendapat, hanya dapat ’dikeluarkan’ dari alam pikiran seseorang dengan wawancara, kecuali dia menceramahkannya. Kerja jurnalisme pada hakikatnya upaya merekonstruksikan pengalaman empiris narasumber dalam suatu deskripsi faktual, atau merekonstruksikan pendapat narasumber sebagai suatu wacana.

Perlu disadari bahwa dalam suatu wawancara untuk mendapatkan pendapat, terwawancara pada dasarnya perlu meyakini bahwa reporter pewawancara punya pengetahuan yang memadai untuk interaksi dialog itu (Disini berpengetahuan harus dibedakan dengan sok tahu. Berpengetahuan bersumber dari kualitas diri, sok tahu hanya dari pencitraan). Mengapa? Sebab ”mengeluarkan” pendapat dari alam pikiran seseorang untuk kemudian merekonstruksinya sebagai wacana diperlukan pengetahuan untuk mendukung proses dialog.

***

Nah, kembali ke reporter muda yang mau mewancarai saya. Sebelumnya saya sudah mengetahui ada kasus yang dialami oleh satu media pers berhadapan dengan aparatur kekuasaan negara. Jelas saya bukan penguasa ataupun pengelola media dalam kasus itu, karenanya tentulah dia tidak bermaksud merekonstruksi fakta dari saya. Dugaan saya, dia ingin mendapatkan komentar atau pendapat saya tentang kejadian yang menimpa media tersebut.

Kendati tidak mendapat petunjuk apapun yang dapat membuka interaksi, saya menyediakan diri untuk diwawancarai. Untuk itu saya berkata:

”Wawancara tentang apa?”

”Dari kantor sudah ada daftar pertanyaannya,” katanya.

”Apa pertanyaannya?”

Dia menyodorkan kertas faks. Sederet pertanyaan. Saya baca dengan cepat. Redaktur yang membuat assignment wawancara itu telah menyusun dengan sistematis. Saya dapat menangkap tesa yang digunakan oleh si redaktur mengenai kasus yang akan ditulisnya. Daftar pertanyaan itu akan menjadi ”batang tubuh” beritanya. Saya juga membayangkan kebiasaan redaktur majalah itu, sebenarnya tidak memerlukan pendapat saya sebagai wacana utuh.  Yang diperlukannya hanya sebaris duabaris kalimat yang dapat dicupliknya dari jawaban saya untuk mengisi teks yang sudah memiliki tesa dan ”batang tubuh” itu. Daftar pertanyaan itu saya kembalikan.

”Dapat kita mulai pak?”

”OK,” jawab saya.

Repoter muda meng’on’ perekamnya. Lalu membacakan pertanyaan pertama.

Saya jawab. Jawaban saya panjang lebar, kelihatan si reporter muda bingung. Saya menyediakan beberapa jeda dalam rentang waktu tertentu, menunggu interupsinya. Tapi dia tidak bereaksi. Sekitar sepuluh menit saya mengoceh. Selesai.

Begitu saya berhenti bicara, reporter muda membacakan pertanyaan kedua.

”Lho, itu ’kan sudah saya jawab tadi,” kata saya.

Reporter muda bingung. Dia membacakan pertanyaan butir ketiga:

”Itu juga sudah saya jawab tadi. Begini deh, karena kamu tidak mendengar yang saya omongkan, kamu dengar saja rekamannya. Semua pertanyaan dalam assignment kamu itu sudah terdapat dalam jawaban saya. Kalau kamu ragu, transkripsikan keterangan saya tadi. Setiap pertanyaan bisa kamu temukan jawabannya kalau kamu breakdown keterangan saya tadi.”

Reporter muda itu terdiam, kemudian pamit. Bagi si wartawan muda, mungkin saya dianggap ”ngerjain”.

Ah, itu belum seberapa. Dalam latihan calon waertawan, entah berapa ratus halaman tugas-tugas yang dibuang ke keranjang sampah, dan yang berlatih harus mengetik ulang tugasnya. Latihan spartan sebelum memasuki profesi untuk penajaman penalaran, pengetahuan konseptual, kemampuan observasi dan wawancara, penguasaan diksi, dimaksudkan menjadikan seorang wartawan siap melihat, siap mendengar, siap berpikir, siap merekonstruksi, siap menuliskan. Tempaan mental dalam teknik wawancara hanya salah satu di antara sekian banyak latihan lainnya.

***

Apa sebenarnya yang terjadi dalam interaksi dengan si wartawan muda? Dia malas mendengar. Bahkan malas berpikir. Saya prihatin, bagaimana mungkin seorang jurnalis malas mendengar dan berpikir? Dia mengandalkan daftar pertanyaan yang dibuat redakturnya, dan pita kaset rekorder. Dia ingin setiap pertanyaan diikuti jawabannya sesuai urutan, dan nanti dia tinggal mentranskripsikan untuk dikirim ke redakturnya.

Jika dia menyukai profesi jurnalisme, tentulah saat menerima assignment itu, dia akan membaca masalah yang berkaitan dengan latar dari isu yang akan diangkat majalahnya. Disini diperlukan pengetahuan. Sebagaimana Saur Hutabarat, membongkar tumpukan buku eks kampus, mencari warisan diktat Hukum Pers sebelum menemui Prof Oemar.

Untuk mendapatkan pendapat seorang ekonom tentang suatu isu moneter, misalnya, pada tahap pertama tentunya jurnalis harus kenal bahwa ekonom itu seorang pakar di bidang moneter. Di balik itu, si jurnalis tentunya perlu memahami (setidaknya konsep elementer) ekonomi moneter. Dengan begitu wawancara berjalan secara kritis. Jurnalis bukan gentong yang menampung keterangan, tetapi seorang profesional yang menghadapi fakta dan pendapat, untuk menjadikannya informasi jurnalisme.

Seorang jurnalis profesional bukan hanya mengandalkan teknik jurnalistik 5W-1H, tetapi bermodalkan pengetahuan yang memadai dalam menghadapi isu-isu dalam kehidupan publik, ditambah dengan metode kerja (termasuk wawancara) dalam memeroses fakta publik dan pendapat narasumber  menjadi informasi.

***

Untuk Peminat Penulisan

Dalam berbagai kesempatan saya mengisi kegiatan pelatihan/workshop penulisan fiksi dan non-fiksi. Bahan-bahan yang digunakan dalam pelatihan itu saya tempatkan di blog ini. Uraian untuk penulisan non-fiksi boleh dikatakan bersifat teknis, sebagai pegangan sederhana.
Sedang untuk penulisan fiksi, saya sadari tentu tidak hanya berkaitan dengan masalah teknikalitas, sebab menuntut pengembangan daya imajinasi. Sering dibilang, masalah imajinasi merupakan proses kreatif “berdarah-darah”, dalam arti menuntut upaya kerja yang sangat personal dan otentik. Karenanya dalam workshop untuk fiksi, bahan-bahan tersebut hanya sebagai pegangan, sekadar pengantar untuk proses pengembangan kreativitas imajinatif.
Dengan memperkongsikan bahan penulisan disini, berarti saya menyediakan diri sebagai partner diskusi bagi yang berminat dalam pengembangan kemampuan penulisan. Jangan sungkan.
Bahan ditempatkan di laman Untuk Penulisan, dalam berkas-berkas:
01-PELUANG PENULISAN
02-PENULISAN LAPORAN ILMIAH
03-PENULISAN ARGUMENTATIF
04-KARANGAN FIKSI
05-PENULISAN SKENARIO

Zulkifly Lubis, Kawan Saya….

Satu per satu sahabat berlalu. Terakhir Zulkifly Lubis, kawan galang-gulung bersama saat muda di Yogya, perkawanan yang berlanjut sampai tua, dia di Jakarta saya tetap di Yogya. Saat saya menerima kabar dia tidak dapat bertahan lagi pada hari Minggu 11 September 2011, ada rasa sesal yang menyesak, sebab sejak dia sakit dalam terpaan kanker paru-paru sampai perginya, saya selalu menunda membezuknya. Saya bertanya-tanya, ada apa dengan diri saya, sehingga tidak bersegera menemui kawan yang sakit? Saya berusaha membongkar diri saya, sampai pada kesimpulan: saya selalu berharap dapat bertemu dalam kondisi seperti yang biasa kami jalani. Kumpul-kumpul, guyon-guyon, percandaan yang sering menimbulkan keheranan bagi orang lebih muda, yang tidak mengetahui latarbelakang pergaulan di antara kami (Zulkifly Lubis, Daniel Dhakidae, Masmimar Mangiang, saya, kalau ditambah dengan yang duluan pergi: Ciil/Syahrir, Aini Chalid, Bram Zakir. Anak-anak yang lebih muda, bagaimana bisa membayangkan, cara bergaul dari masa muda bisa bertahan, sedikitpun tidak berubah, sampai lansia? Mungkin karena satu pun tidak ada yang menjabat sebagai birokrat, sehingga tidak pernah ‘dirusak’ formalisme dunia kantor pemerintahan).

Sepanjang sakitnya Zul, berkali-kali, saat usai meeting dengan Daniel Dhakidae di Jakarta atau Yogya, selamanya kami sampai pada kesepakatan: “nantilah, tunggu waktu yang tepat saat Zul sudah dapat duduk, dan keluar dari RS biar kita kongkow seperti biasa.”

Rupanya Daniel juga punya masalah psikhis yang sama, tidak rela teman pergi, karenanya tetap mempertahankan bawah sadar bahwa seorang kawan harus tetap seperti sebelumnya. Tetapi belakangan saya mendapat sms dari Daniel bahwa dia baru mengunjungi Zul di RS, menyampaikan rencana kami untuk kongkow makan bakmi ala jawa di Santika (tempat saya biasa nginap di Jakarta). Kondisi Zul membuat dia sudah tidak dapat bicara, tetapi air matanya mengalir, kata Daniel. Dan tanggal 11 September 2011, Zul pergi mendului kawan-kawannya.

***

Saya selalu berharap Zul berbahagia dalam profesinya, mulai dari reporter Majalah Tempo sampai pensiun sebagai salah satu Direktur di korporasi Tempo. Sebab dari perjalanannya bermula dari Yogya, saya tidak tahu, apakah terjun sepenuhnya ke dunia jurnalisme memang pilihannya, atau karena pusaran arus yang menariknya.

Saya mengenalnya mulai dari saat bersama dalam gerakan anti korupsi di Yogya akhir ’60-an atau awal ’70-an. Belakangan saya baru tahu dia juga kuliah di Fakultas yang sama, Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada, dia di jurusan Pemerintahan atau Administrasi Negara (saya kurang pasti) dan saya sendiri di jurusan Publisistik. Saat itu kami kuliah di Sitihinggil/Pagelaran bagian Kraton Yogyakarta. Sejak awal saya masuk ke jurusan itu karena memang kepingin jadi wartawan, mengira dari situ jalannya. Sedang Zul, saya tidak tahu cita-citanya.

Kemudian kami sangat akrab, bersama kawan-kawan lain yang juga aktivis anti korupsi seperti Imam Yudhotomo, Umbu Landu Paranggi, Fauzi Ridjal, akhirnya pergaulan di luar kampus lebih banyak kami jalani. Seingat saya, tidak pernah ketemu atau janjian dengan Zul di fakultas, bertemu selamanya di rumah kosnya di Beji atau salah satu warung di Malioboro.

Zulkifly Lubis memasuki dunia jurnalisme sebagai lanjutan dari aktivisme. Saat itu dia masih mahasiswa tetapi waktunya lebih banyak sebagai aktivis. Karenanya pers yang digiatinya bukan media profesional, melainkan pers aktivis. Lahirlah Mingguan Sendi tahun 1971, di situ Zul sebagai Pemimpin Umum, dan saya sebagai Pemimpin Redaksi.

Mingguan Sendi dibiayai Pater Depoortére, seorang pastur. Ada kisah tentang pendonor ini: beliau mendapat warisan dana yang lumayan dari ibunya. Hal yang tidak saya ketahui sebagai Muslim, bahwa ternyata seorang pastur tidak boleh memiliki kekayaan/pemilikan pribadi. Jadi pilihannya, dana harus diserahkan pada gereja atau organisasi Katolik, atau digunakan untuk keperluan sosial. Beliau memutuskan mendukung aktivitas kemahasiswaan, dengan menyediakan modal untuk penerbitan pers mahasiswa (Dari sini mata saya terbuka untuk bergaul intens dengan kalangan Katolik, kemudian tercermin dalam beberapa novel saya).

Istilah pers mahasiswa saat itu tidak berbeda dengan koran umum, seperti halnya Harian Kami di Jakarta, atau Mahasiswa Indonesia di Bandung. Karenanya jenis koran yang sama diharapkan dapat terbit di Yogya. Mingguan Sendi punya Surat Ijin Terbit (SIT) berkat Zul yang susah payah mengurusnya ke Departemen Penerangan di Jakarta, mulai terbit pada November 1971.

Karenanya dapat saya pahami betapa terpukulnya dia saat mingguan Sendi hanya sempat terbit 13 edisi, untuk kemudian dibredel. Dalam surat resmi Deppen disebutkan “penerbitan dihentikan sementara”. Bagi saya, itu sama pelarangan terbit, dengan pencabutan SIT. Tetapi Zulkifly masih punya harapan. Dengan berdesakan di kereta api, dia ke Jakarta, mencari dukungan dari sejumlah wartawan senior dan eks aktivis yang duduk di DPR dan pemerintahan agar pembredelan sementara itu dicabut. Dia pulang seraya membawa umpatan, terutama ditujukannya pada seorang seorang wartawan senior yang berkomentar negatif, menganggap wajar mingguan Sendi dibredel. Tetapi Harian Kami membuat tajuk rencana memerotes pembredelan itu.

Saya menghibur hati panas Zul, dengan mengatakan bahwa anggapan “wajar” itu boleh diartikan “masuk akal dibredel” mengingat keterkaitan isi mingguan Sendi dengan gerakan aktivis saat itu. Gerakan anti Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang diprakarsai Nyonya Tien Suharto merebak di Jakarta, Bandung, Yogya dan berbagai kota besar lainnya. Kritik langsung bahkan ada yang dengan bahasa kasar terhadap Nyonya Tien, bagi Suharto tentunya dipandang kebangetan. Jadi, terimalah keadaan. Kita hanya perlu bersiap, setelah pembredelan, apa yang menyusul?

Saya menerima pembredalan itu, tetapi rasa sesal dan prihatin yang terberat adalah ketika mengetahui bahwa Pater Depoortére diintimidasi Kodam Diponegoro, berkali-kali diinterogasi intel tentara. Hanya karena dia sudah lama sebagai WNI, ancaman untuk diusir dari Indonesia tidak dapat dilaksanakan.

Rasa sesal itu melahirkan semacam rasa penebusan bagi saya, tatkala kemudian saya diadili sebagai Pemred/Penanggungjawab Mingguan Sendi. Saat itu Zulkifly sibuk mencari dukungan, antara lain dari Adnan Buyung Nasution yang saat itu memimpin Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Bang Buyung bersedia menjadi pembela, tetapi karena handikap waktu dan jarak, dia membuat surat meminta agar LBH Yogya sebagai pembela. Zul dan saya menemui ketua LBH Yogya. Begitu mendengar permasalahan yang dihadapi, sang ketua LBH berdalih dengan ucapan berbelit-belit, kesimpulannya tidak dapat menjadi pembela. Agaknya dia ngeri, mengingat dalam berbagai kesempatan, Panglima Kodam Diponegoro menyatakan bahwa Mingguan Sendi telah menghina negara dan Pancasila, karenanya akan dilakukan tindakan tegas. Kami hanya tertawa, yang disindir Nyonya Tien, yang terhina kok negara dan Pancasila?

Tetapi begitulah, sang pengacara ketakutan. Saya lupa apa yang diucapkan sang ketua LBH (sebab saya tidak suka mengingat kalimat yang tidak menyenangkan). Yang jelas, sambil boncengan di sepeda motor, Zulkifly mengumpat-umpat. Umpatan tak kunjung selesai, sampai kami duduk ngopi di warung. Dengan muka yang tegang, sampai urat-urat di jidatnya menonjol, Zul melampiaskan kemarahan. Baginya sangat memuakkan sekaligus menyedihkan bahwa LBH ditangani pengacara yang takut menghadapi perkara politik. (Mudahnya Zul muntap, seolah kemarahan sampai merasuk ke hati, sering saya lihat, dan karenanya selalu, saya ingin meredakan “tensi” tingginya).

Kemudian kami ke Solo, menemui ketua LBH setempat, Mr Sumarno. Disini barulah kami mendapat penawar yang menyejukkan hati. Mr Sumarno bersedia menjadi pembela, sepenuhnya pro-deo. Dengan mobil sendiri, Mr Sumarno Solo-Yogya pp, setiap kali menghadiri persidangan.

Kalau ketua LBH Yogya saat itu mengetahui hasil persidangan, tentunya dia tidak perlu takut. Persidangan bersifat obyektif, kendati jaksa menggunakan haatzaai artikelen (pasal-pasal kebencian) dengan ancaman hukuman berat, pengadilan menyatakan bahwa saya bersalah menghina kepala negara, tetapi hanya menjatuhkan hukuman 3 (tiga) bulan dengan 6 (enam) bulan masa percobaan. Artinya saya tidak menjalani hukuman penjara. Tahun 1972 kekuasaan Suharto belum merasuk ke dalam lembaga peradilan. Bandingkan dengan hukuman yang dijatuhkan pengadilan terhadap aktivis tahun 1974, terlebih hukuman aktivis tahun 1978.

***

Tahun 1972, boleh dikata tidak ada kegiatan radikal. Gerakan mahasiswa mereda, aktivis masuk ke wilayah intelektual. Kelompok kami (eks Sendi dan beberapa aktivis lain) tetap terpelihara, dengan lebih banyak mengadakan diskusi-diskusi akademik. Saya masih mengajar di jurusan Publisistik, kawan-kawan yang sudah di tingkat akhir fakultas, kembali menekuni sekolahnya. Karenanya kelompok ini rajin menyelenggarakan diskusi, dengan “membajak” (menghadirkan narasumber tanpa honorarium) setiap peneliti yang sedang berada di Yogya untuk penulisan thesis atau disertasi. Tema-tema yang dibahas dalam diskusi itu bak rangkaian simposium universitas, andai ada piranti perekam seperti sekarang dan hasilnya ditranskrip, entah berapa banyak buku yang bisa lahir.

Teman-teman menyukai intelectual exercise yang berharga itu. Seingat saya Zul juga menikmati diskusi-diskusi itu. Tetapi saya kira, dia tidak terdorong untuk kajian akademik seperti yang dibahas para narasumber itu. Saya sendiri menikmati kegiatan diskusi, tetapi saya belum dan tidak yakin bakal diangkat sebagai dosen tetap pegawai negeri. Sebenarnya saya ingin kembali ke cita-cita awal, menjadi wartawan sepenuhnya, tetapi mengingat kasus yang saya alami, saya juga gamang memasuki dunia jurnalisme. Karenanya pada periode serba ‘nanggung’ itu, saya berniat menulis novel.

Sebelumnya saya sudah banyak menulis cerpen, dimuat di majalah dan koran mingguan di Jakarta dan Bandung. Di samping itu saya biasa mengirim artikel opini (kolom) ke suratkabar nasional seperti Kompas dan Sinar Harapan. Setelah kasus Mingguan Sendi, saya berhenti menulis opini, dan memutuskan untuk mulai menulis novel.

Nah, selama pengembangan gagasan itu, saya biasa keluyuran dengan sepeda motor mengunjungi tempat sepi, hanya untuk ngelamun. Pada beberapa kesempatan, Zul mau menemani saya. Saya kerap singgah di tempat kosnya, lalu kami berboncengan. Sangat enak membonceng Zul, sebab badannya ikut bersama belokan. (Ilustrasi: Berbeda dengan Aini Chalid, setiap duduk di sadel, dia seperti melawan gravitasi bumi, sehingga belokan terganggu. Karenanya sewaktu perjalanan ke Kaliurang, saya bilang: “Aini, kita bisa jatuh kalau badanmu melawan arah belokan. Aku kurus, paling banter terbanting, kau bulat …, nanti kau menggelinding ke bawah sana!” Entah bagaimana sejak itu oleh kawan-kawan, Aini di’parabi’ si gelinding).

Pada hemat saya, Zulkifly seorang manusia bergerak (“man of action”), karenanya tanpa kegiatan fisik, sementara kawan-kawan asyik dalam diskusi akademik, tentulah dia kesepian. Selain itu ada persamaan kami lainnya, yaitu sebagai perokok berat. (Di antara kelompok Sendi, mungkin hanya kami berdua sebagai perokok “sungguhan”, lainnya hanya ikut-ikutan menghabiskan rokok yang ada. Saya mutlak berhenti merokok sejak 25 tahun yang lalu, sedang Zul sangat sulit menghentikannya).

Saya mabuk dalam dunia novel tahun 1972 di antaranya menulis Cintaku di Kampus Biru. Dalam pengembangan gagasan, saya memerlukan semacam ‘pengembaraan”, yaitu dengan hanya berdiam diri, atau kalaupun percakapan tentang dunia sehari-hari, bukan diskusi akademik yang menggelisahkan untuk mencari buku teks penunjang, Pengembaraan semacam ini adalah masuk ke dunia fiksi yang mengalir, bukan teori yang analitik. Disini perlu saya mencatat betapa banyak melibatkan Zul sepanjang ‘pengembaraan’ saya. Percakapan dengannya mengingat-ingat situasi di Medan, atau kelakuan “anak-anak” Medan yang umumnya “bergaya” di Yogya, berbeda dengan anak-anak BTL, yaitu sebutan untuk “Batak Tembak Langsung,” yang tidak mengalami hidup di Medan atau Siantar langsung ke Jawa. Zul besar di Medan, sedang saya kelahiran Siantar.

***

Pergaulan Zulkifly dalam konteks kesenian menguntungkan saya. Sebelum saya mengenalnya, dia sudah sering bergaul dengan kalangan seni, akrab dengan pelukis Rusli, WS Rendra, dan seniman lainnya. Keakrabannya dengan Rendra di antaranya dengan mendukung pementasan Rendra, dan Zulkifly Lubis menjadi salah seorang inisiator diselenggarakan Perkemahan Kaum Urakan di pantai Parangtritis tahun 1971.

Saya tidak ingat bagian mana dari proses kreatif saya yang ditunggui oleh Zulkifly. Tetapi yang jelas, di antara kawan saya, hanya dia yang dapat saya ajak ngeluyur malam, sebab dia tidak pernah mengeluh mau kuliah besok. Dia menemani saya nongkrong di warung-warung desa, bahkan tiduran di makam-makam yang dikeramatkan orang Jawa (Belakangan baru saya tahu dia sangat takut pada hantu dan sejenisnya, dan setelah dia terbebas dari phobia itu, baru dia cerita. Masya Allah, sekian malam ternyata saya asyik dengan lamunan sendiri, sementara kawan saya sebenarnya sedang ketakutan). Saya berusaha mengingat-ingat apa tujuan bermalam di makam-makam tua, tokh saya tidak berniat mencari dan tidak percaya adanya berkah dari makam. Mungkin hanya menikmati hening dan remang-remang di pemakaman itu. Tetapi yang jelas bagi saya adalah kerelaan Zul mengikuti kegendengan saya.

Persahabatan dengan Zulkifly berlanjut saat dia ke Jakarta mulai sebagai reporter Majalah Tempo. Saya tidak kehilangan, sebab masih sering kontak, saya bahkan pernah menjadi koresponden daerah majalah itu. Setiap ke Jakarta, saya tidak lagi nginap di Wisma Seni di TIM, tapi nebeng tidur di tempat kosnya. Satu novel saya, Terminal Cinta Terakhir saya selesaikan di tempat kos itu, pada saat saya sangat bosan di Yogya. Begitu dijilid, langsung saya antar naik helicak (sejenis becak bermesin) dari Utan Kayu lewat Senayan, ke Harian Kompas di kantor yang sederhana, diterima redaktur budaya mas Alfons Taryadi. Hebatnya, Kompas saat itu belum dirasuki manajemen yang rumit, mas Alfons langsung mengurus honor novel, sekaligus honor artikel saya yang belum sempat diweselkan tatausaha. Beberapa hari kemudian kami menikmati hidup sebagai orang kaya.

Kendati ingin tahu, saya tidak pernah menanyakan, apakah Zul menikmati kerja sebagai reporter itu, sebab seingat saya, dia lebih sesuai sebagai “pengatur”. Ketika di Sendi, meskipun setiap personel terkena kewajiban menulis berita, Zul lebih banyak berkutatan dalam hubungan dengan pendana, percetakan, negosiasi pembelian kertas, dan sejenisnya.

Tetapi kemudian saya membaca laporan yang ditulisnya di Tempo, termasuk perjalanan ke Hongkong sangat mengesankan saya. Belakangan, ketika saya mulai aktif menggerakkan Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogya (LP3Y) setiap kali mengadakan seminar atau simposium untuk pendidikan jurnalisme di Yogyakarta, Zulkifly Lubis pasti hadir memberikan masukan yang penting. Pengalaman praktisnya sangat berguna melengkapi rencana-rencana konseptual untuk pendidikan wartawan. Disitu saya menangkap kesan atas antusiasmenya dalam dunia jurnalisme. Karenanya saya menyimpulkan dia bahagia menjalani profesinya, sekaligus sangat terpukul ketika Tempo beberapa kali dibredel.

Pada bredel tahun 1994 dengan pencabutan Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), atas permintaan Zul, saya sempat menjadi saksi ahli dalam gugatan Tempo di Pengadilan Tata Usaha Negara. Kendati gugatanTempo dimenangkan, tetapi SIUPP Tempo tidak dipulihkan. Deppen memberikan SIUPP untuk majalah baru seolah pengganti Tempo. Untuk itu saya menunjukkan penolakan terhadap majalah itu, dengan ikut tanda tangan pernyataan tidak akan mendukung majalah itu. Kemudian menulis kolom berulangkali di majalah DR yang menampung sejumlah personel Tempo.

Berikutnya beberapa kali saya mengunjunginya, dan pertemuan lebih intensif saat Zul bersama Gunawan Muhamad mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI). Disitu Zul sebagai Bendahara Yayasan, sedang saya sebagai salah satu Dewan Pengawas. Belakangan saya mengetahui, Gunawan Muhamad dan Zulkifly Lubis mendirikan dan mengelola Pusat Kebudayaan Komunitas Salihara. Berkali-kali janjian dengan Zul, untuk ketemuan di sana, tidak pernah kesampaian. Beberapa kali saya nonton pertunjukan di Salihara, tetapi tidak mengontak Zul. Aneh? Saya menikmati tontonan sebagai konsumen umum, begitu pun memandangi bangunan di kompleks Salihara itu, sembari membayangkan Zulkifly Lubis, sang pengatur.

Di luar itu kami selalu bertemu. Karenanya saya tidak pernah merasa berpisah, meskipun dia tinggal di Jakarta. Dan sekarang, dia telah pergi mendului teman-temannya, sekaligus bertemu teman-teman lain. Bertemu, pergi, dan bertemu lagi, apa bedanya … ?

TENTANG NOVEL

Sejumlah mahasiswa yang membuat karya tulis tentang novel-novel karya saya mengontak saya untuk wawancara (umumnya lewat imel). Saya menyadari bahwa jawaban saya sangat tidak memadai, sebab jarak saya dengan novel-novel itu sudah kelewat jauh. Saya tidak punya kebiasaan membaca ulang karya saya, apalagi perhatian saya belasan tahun ini hanyalah pada bidang jurnalisme dan studi media. Sehingga banyak hal yang tidak saya ingat dari novel maupun proses penulisannya. Saya mohon maaf sebab jawaban saya untuk wawancara-wawancara itu lebih banyak bersifat pengabaian.

Setiap kali mengklik ‘send’ untuk imel jawaban, ada perasaan bersalah, mengingat orang-orang muda yang berniat menulis ulasan itu tentu berharap banyak dari saya. Karena ‘kepikiran’ terus, saya berusaha mencari resensi atau ulasan tentang novel-novel dan proses penulisannya. Saya berharap, biarlah resensi-resensi sejumlah pemerhati itu sebagai pembanding bagi kajian yang sedang dilakukan, agar tidak ‘menuntut’ saya menjelaskan karya-karya yang sudah menjadi masa lalu bagi saya.

Saat ini saya memang penuh ‘nafsu’ untuk menyelesaikan novel yang terbengkalai sekian tahun ini. Karenanya mohon dimaklumi, saya sangat ingin menjauh dari novel-novel saya sebelumnya.

Beruntung di kantor saya terselip sejumlah kliping koran dan majalah. Dan beruntungnya pula, ada software yang bagus untuk scan dan convert kliping tua, meskipun, apa boleh buat, ada juga yang tidak ‘terbaca’ oleh scanner. Maka saya tampilkan di blog ini hasilnya, berupa resensi dan ulasan berkaitan dengan novel-novel karya saya. Saya berharap ada di antara rekan yang mengetahui keberadaan resensi dan ulasan lainnya yang tidak tercantum di sini, berkenan mengabari.

Selain itu, diluar resensi dan ulasan novel, saya menemukan kliping ceramah saya di Taman Ismail Marzuki berkaitan dengan dorongan dan proses penulisan novel saya yang kemudian dimuat di Majalah Budaya Jaya.

Senarai naskah yang di-pdf-kan di bawah ini, saya tempatkan pada laman TENTANG-NOVEL.

David T. Hill, ALIENATION AND OPPOSITION TO AUTHORITARIANISM IN THE NOVELS OF ASHADI SIREGAR – Scan & convert dari: REVIEW OF INDONESIAN AND MALAYAN AFFAIRS (RIMA),  Department of Indonesian and Malayan Studies, University of Sydney, Vol. 13, No. 1, June 1979, pp. 25 – 43.

David T. Hill, “WARISAN SANG JAGOAN”: Mencari Kebenaran – Scan & convert dari: SKH KOMPAS, 21 JULI 1978David T. Hill, Seks Dan Politik: Pembahasan “JENTERA LEPAS” – Scan & convert dari: Majalah HORISON, no 3-4 /1982

Alfons Taryadi, Berharga meski porak-poranda – Ashadi Siregar, JENTERA LEPAS (Jakarta: Cypress 1979) 281 halaman – Scan & convert dari: SKH KOMPAS, 2 Maret 1980

Bakri Siregar, Kisah Budiman dan Mbakyu Sinto – JENTERA LEPAS, Karya novel: Ashadi Siregar, Tebal: 281 halaman, Penerbit: Cypress, Jakarta, 1980 – Scan & convert dari: Majalah Berita Mingguan TEMPO, no 14 th X, 31 Mei 1980

Tombak Matahari, Sunyi Nirmala, Sunyi Orang Kota – SUNYI NIRMALA, oleh Ashadi Siregar, penerbit Karya Unipress, Jakarta, 1982 -  Scan & convert dari: Dwi Mingguan MUTIARA, no 277, 15-28 September 1982

Ashadi Siregar, Untuk Siapa Saya Menulis (Melihat Novel sebagai Medium Komunikasi Sosial) – Scan & convert dari: Majalah BUDAYA JAYA, no 117 th 11-Februari 1978 hal 99 – 107

Ashadi Siregar, Bagaimana seorang pengarang “Jatuh hati” pada tokohnya? – Scan & convert dari: Majalah ZAMAN, no 15/th I – Minggu II – Januari 1980

DARI KAMERAD

TESTIMONI

Oleh Ashadi Siregar

Ponsel saya berbunyi, panggilan masuk, tanpa nomor, tampilan private. Dari luar negeri atau menyembunyikan identitas? Seorang menyapa saya. Dari suaranya yang serak-serak kering, saya menyimpulkan dia selansia saya. Dan benar, sebab dia langsung menyebut nama saya tanpa embel-embel yang lazim: bang.

“Adi, sudah kubaca buku yang ditulis tentang kau, Penjaga Akal Sehat itu. Seingatku dulu otak kau méréng, bagaimana bisa menjaga akal sehat orang?” dia terbahak-bahak, lalu terbatuk-batuk.

Méréng? Menilik gaya bicaranya, orang dari seberang, Sumut, dan pastilah kenalan pada masa lalu saya. Buku yang dimaksudnya adalah Ashadi Siregar: Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru, terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Saya berusaha memeras ingatan, siapa orang ini? Karena saya masih diam, dia menukas:

“Halo, tak kau kenal aku?” katanya mendesak, seolah saya telmi (telat mikir).

Sinting atau sok akrab? Apakah saya sering ketemu dia, tapi dimana, dan dalam konteks apa?

“Aku ‘anu’…” (menyebut nama).

Saya tetap berusaha memeras ingatan. Tetapi nama itu tidak ada dalam benak saya. Kalaupun dia pakai videophone, belum tentu saya mengenalinya. Dari suaranya saja saya sudah bayangkan bahwa wajah tuanya pasti sulit saya kenali. Cuma simpul saya, karena dia sudah membaca buku yang belum beredar luas di pasar, tentunya dia ada Jakarta dan punya akses pada orang-orang yang mengurus penerbitan buku itu. Siapa kau pak tua? Saya penasaran.

“Kita satu angkatan, tahun 64 dulu di Pagelaran. Kau sospol aku hukum. Tapi kita kerap ketemu waktu belajar malam hari di Sitihinggil,” ujarnya.

Ya, saya ingat Sitihinggil, yaitu balai paseban kraton Yogyakarta yang dipinjam-pakaikan Sultan HB IX pada UGM. Dalam suasana keterbatasan daya listrik yang hanya 112 volt di Yogyakarta, mahasiswa yang di tempat kosnya remang-remang biasanya belajar ke Sitihinggil. Di tempat itu lampu listrik terang benderang. Kebanyakan anak luar Jawa, selain membaca, juga berdebat (lebih tepat bertengkar) dengan suara keras, membuat mahasiswa yang tekun membaca terganggu. Banyak kenalan saya, hampir semua mahasiswa dari seberang belajar di Sitihinggil.

“Kau tak ingat aku, tak apalah. Aku cuma kuliah satu tahun di situ. Tahun 66 aku diciduk.”

Ah, saya menarik napas dalam.

“Tahun 80-an aku baca novel kau Jentera Lepas. Aaah…, cerita kau ‘tu belum apa-apanya dibandingkan yang kami alami,” lanjutnya.

“Ya, ya, ya,” jawab saya. “Sebatas itulah imajinasiku. Tapi apa subyektivitasku itu cukup bernilai menurut kau?” kata saya meniru gaya bicaranya.

“Yaaa, lumayanlah. Calak-calak ganti asah…,” katanya dalam gaya Melayu Deli, “sebagai cerita yang dibuat orang yang tidak mengalami sendiri. Kau ‘kan beda sama Pram.”  Nadanya melecehkan.

“Terimakasihlah kalau begitu,” kata saya.

Tentu saja saya bukan padanan Pramudya Ananta Toer, seorang pengarang dan wartawan yang mengalami langsung seluruh bentuk penindasan kekuasaan negara, dari penjajah sampai pemerintahan sendiri. Saya tidak mengalami apapun, kecuali dunia sekolahan dan bacaan. Saya teringat teman-teman yang sering berkumpul malam hari di Sitihinggil. Belakangan, di antaranya saya tahu ada yang CGMI, organisasi mahasiswa yang diangggap sebagai onderbouw PKI. Gaya melecehkan seperti itu sering saya hadapi, yang memancing debat tarik urat leher. Tapi sekarang saya tidak berselera debat lagi. Capek.

“Tapi bukan soal novel  yang mau kubicarakan. Soal buku tentang kau itu. Dari tulisan-tulisan yang kubaca, tidak jelas bagiku, bagaimana sesungguhnya kau jadi penjaga akal sehat itu. Apa para penulis yang diminta menyumbang tulisan, memang membayangkan kau berguna sebagai penjaga akal sehat? Cuma judul saja barangkali? Tapi sudahlah. Karena ditujukan pada kau, tentunya testimoni. Sebagai testimoni, tentulah harus ada  subyektivitas yang bernilai disitu!”

“Maksud kau?” tanya saya.

“Testimoni adalah subyektivitas penulis tentang sesuatu, yaitu kau. Untuk itu si penulis harus punya imajinasi tentang sosok kau, dan dengan subyektivitasnya itulah kau direkanya jadi tulisan.”

“Kupikir seperti itu tulisan-tulisan di buku itu,” kata saya.

“Kau sendiri, sudah baca?” sergahnya.

“Eh, beberapa sudah, tapi baru baca cepat.“

Dia nyerocos. Ujarannya yang menggebu-gebu, sangat tidak teratur (maaf kamerad!). Jadi harus  saya susun ulang, begini:

Buku itu menggolongkan tulisan-tulisan dalam 2 kelompok: “Kawan, Kolega, dan Guru yang Sinis namun Humoris” dan “Aktivis, Novelis, dan Kritikus Jurnalisme yang Konsisten”.  Jadi buku ingin menyampaikan sosok ‘orang yang sinis namun humoris’ dan ‘orang yang konsisten’. Padahal apakah sosok kau sekadar 2 dimensi itu? Di buku setebal 374 halaman itu tak ada kulihat deskripsi bagaimana sinis atau humorisnya kau. Kalau hanya lewat ketawa atau senyum dibilang sinis, belum bisa menggambarkan kau sebagai homo-sinicum. Begitu juga soal kau humoris?  Humor kau cuma ada secuplik dalam tulisan Masmimar Mangiang, Ignatius Haryanto, atau pun Butet Kartarejasa. Lainnya komentar saja. Kalau kau memang humoris, pastilah banyak kumpulan anekdot yang bisa dicatat, meskipun tidak akan menyamai Gus Dur. Begitu pula soal konsistensinya kau, sebagai aktivis dan kritikus jurnalisme, mungkin bolehlah, walaupun masih terbuka untuk diperdebatkan seperti apa konsistensinya kau. Lalu macam mana pula konsistennya kau sebagai novelis? Bah, puja-puji kosong itu.

Tulisan-tulisan itu seharusnya terbagi 4, yaitu satu yang bertolak dari passion pribadi, kedua bersifat otentik, dan ketiga deskriptif, dan keempat dialektika dengan gagasan kau.

Seperti tulisan Jakob Utama, masuk kelompok satu, kulihat dia menggambarkan kau dengan subyektivitasnya, bertolak dari keprihatinannya mengenai dunia obyektif pers di Indonesia. Atau tulisan Daniel Dhakidae, saat membayangkan kau, dia menghidupkan subyektivitas dalam ruang ingatannya tentang gerakan mahasiswa di Yogyakarta tahun 70an. Subyektivitasnya bisa berinteraksi dengan obyektivitas. Banyak tulisan yang bagus, yang ditulis dengan passion. Subyektivitas bernilai kalau didorong oleh passion dalam menghadapi dunia obyektif.

Selanjutnya tulisan subyektivitas yang bagus pada kelompok kedua, seperti tulisan Saur Hutabarat, Rizal Mallarangeng, Hotman Siahaan, Budiman Tanuredjo dan beberapa yang lain. Orang-orang ini menanggalkan semua beban diri dan statusnya sekarang, kembali ke dunianya yang dulu sebagai mahasiswa. Menjadi otentik. Otentisitas itu diwujudkan dengan menulis dalam kejujuran. Jujur dengan dirinya lebih dulu, baru kemudian memotret kau, dalam arti menggambarkan keberadaan kau terhadap dirinya. Untuk itu harus rela menjadi tidak siapa-siapa, mengenangkan saat-saat membiarkan dirinya berproses bersama kau.

Tulisan kelompok satu dan dua itu, berupa testimoni bersifat subyektif-intelektual dan subyektif-otentik. Yang satu, subyektivitas dalam bingkai intelektualitas atau rasio menghadapi dunia obyektif untuk dijadikan ruang bagi kau sebagai sosok yang ditulis, mewacanakan bahwa kau punya impak secara obyektif. Dan yang kedua subyektivitas dalam bingkai kejujuran dalam perasaan atau hati saat menulis tentang kau, berupa impak kau terhadap pribadi si penulis secara subyektif.

Kemudian kelompok ketiga, menggambarkan kau sejauh yang diketahuinya. Tidak dengan passion atau otentisitas, tetapi mendeskripsikan sosok kau. Kebanyakan tulisan yang ada kumasukkan kesini, seperti tulisan duo Lubis Zulkifly dan Amarzan, atau Mohtar Masoed, Imam Yudotomo, Garin Nugroho, Bakdi Sumanto, dan lainnya, yaitu para sahabat atau teman kerja atau teman pergaulan di lingkup kampus, jurnalistik, lembaga swadaya masyarakat, dan seni, sesuai kiprah kau. Kelompok ini campuran orang-orang yang mengenal kau sejak muda, dan yang mengenal kau setelah tua bangkotan. Kau dilihat sesuai versi masing-masing, dengan deskripsi obyektif para penulis itu, mosaik kau bisa direkonstruksikan.

Tulisan jenis ketiga ini harus diwaspadai dari kecenderungan mitologisasi, atau pun dorongan voyerisme. Mitologisasi sebagai pemujaan dan voyerisme sebagai hasil pengintipan, ini sama buruknya sebab tidak memerikan realitas empiris, hanya berdasarkan dugaan, persangkaan, atau dengar-dengar dari kiri-kanan, sehingga kau semacam legenda, atau parahnya semacam obyek gosip.

Yang keempat, seperti tulisan Gunawan Mohamad, dia melihat gagasan kau tentang informasi, terus mengolah gagasannya sendiri. Begitu juga Veven SP Wardhana, menempatkan tema-tema dari novel kau di dalam gagasannya. Atau J Anto yang menggunakan gagasan kau soal media watch dalam praksis kegiatannya. Jadi mereka berdialektika sama gagasan kau.

Nah, barangkali konsep buku ini tidak secara jelas diberi tahu pada calon penulisnya. Apakah buku ini sebagai testimoni dan deskripsi tentang keberadaan kau dalam interaksi sosial yang melibatkan si penulis, ataukah plus mengupas gagasan atau wacana teks yang kau hasilkan.

Kalau mau dilengkapi dengan kupasan tentang dunia gagasan yang kau lontarkan dalam masyarakat, seharusnya banyak orang yang bisa diminta untuk tulisan semacam itu. Gagasan-gagasan kau tentang jurnalisme dan media umumnya dalam konteks politik, ekonomi dan kebudayaan tentunya dapat menggugah pemikiran. Begitu juga kau selama ini berinteraksi dengan kalangan seniman.

Artinya kau juga punya passion yang selama ini telah kau aktualisasikan dalam berbagai kesempatan. Bukan hanya soal pers dan jurnalisme, juga pernah kubaca tulisan kau tentang televisi, disitu ada passion. Kedengar kau masuk dalam lingkungan seni-rupa sehingga ada pelukis besar yang minta kau memberi pengantar pamerannya. Atau soal film, teater, dan kebudayaan lainnya. Ah, macam-macamlah yang kudengar. Banyak orang yang pernah bersentuhan dengan kau dalam berbagai bidang itu. Maksudku gagasan kau seharus dapat memancing orang untuk mengembangkan pemikirannya sesuai dengan wacana yang kau lontarkan. Gagasan akan bernilai jika dapat menggugah untuk munculnya ketidak-sepakatan atau pemikiran dan perspektif lain. Itu akan memperkaya wacana dalam ranah intelektual kita.

Tetapi kalau mau kembali sebagai testimoni dan despripsi obyektif saja, itu juga tidak sederhana. Sulitnya bikin tulisan semacam ini, tidak setiap orang punya subyektivitas dalam kerangka intelektualitas dan kejujuran, dan mengenali kau luar dalam. Kalau tidak ada sikap dengan passion dan otentik serta obyektivitas, seperti kubilang tadi, tulisan cuma puja-puji atau basa-basi, atau berdasarkan “yang disangka”nya, atau lebih parah kalau kau hanya dijadikan kapstok untuk memajang dirinya yang ‘berjasa’ besar.

Ada kutemukan jenis tulisan yang terakhir ini. Mungkin editor buku itu mengira, dikarenakan seseorang pernah bersama kau dimasa lalu, dapat menuliskan pengalaman itu. Masa kekiniannya dengan ambisi-ambisinya, mungkin telah merusak kejujurannya dalam membayangkan kau. Dia menulis bukan dari interaksi sebelum dia menjadi seperti sekarang. Dia menulis masa lalu dengan kecenderungan dirinya sekarang. Padahal sekarang dia sudah tidak punya pertalian lagi dengan kau. Artinya dia tidak surut ke belakang pada saat masih bergaul dekat. Dia menulis dengan kepentingannya dan latar dirinya sekarang, dalam melihat kedirian kau. Begitulah, untuk deskripsi secara obyektif, diperlukan kejujuran. Berikutnya, menuliskan apa yang terjadi dalam interaksi, bukan dengan kalimat penyimpul yang tidak dideskripsikan secara empiris!

“Baiklah, nanti kubaca ulang untuk menikmati tulisan kawan-kawanku itu,” kata saya.

“Tapi di luar itu, kalau orang lain bisa menulis tentang diri kau, kau ‘kan penulis, mengapa kau sendiri tidak menulis tentang kau?” katanya.

“Aku ‘kan bukan mantan menteri atau jenderal yang layak bikin biografi,” jawab saya.

“Biografi itu soal subyektivitas yang di-intelektualisasi-kan, dan kejujuran yang di-aktualisasi-kan. Mantan menteri atau jenderal belum tentu punya itu, mereka hanya punya rekening gemuk di bank,” katanya ketus.

“Awak ‘ni apalah. Apa pula jalannya berani-berani mau menulis tentang diri sendiri.”

“Setidaknya subyektivitas kau tentang diri kau, sama berhak dengan subyektivitas orang lain. Yang penting adalah mengungkapkan diri dalam konteks intelektualitas dan dorongan kejujuran.”

“Ah, terlalu berat untukku.”

“Paling tidak biar bisa dibaca bekas mahasiswa kau atau wartawan yang pernah kau didik.”

Saya diam.

“Paling tidak biar dibaca anak-anak kau,” katanya.

“Baik kupikirkan,” kata saya supaya pembicaraan diputus, sebab ponsel sudah panas di telinga saya.

“Okelah kalau begitu,” katanya meniru pelawak di tv.

“Eh, omong-omong, dimana kau selama ini?”

“Ah, itu tak penting,” katanya. “Bahwa aku bisa tahu nomor kau ini, menunjukkan aku punya akses kemana-mana.”

Bah, pembual tua dari mana pula ini? Tetapi dengan tantangannya, apakah saya harus mengatakan: mengapa tidak?

Dari kolega

Suratkabar Harian Surabaya Post, 4 Juli 1995

KANO KECIL ASHADI SIREGAR

Oleh Masmimar Mangiang

Kemarin, 3 Juli, Drs Ashadi Siregar, genap 50 tahun. Tokoh pendidik jurnalistik dan pengamat pers yang kritis, sekaligus dikenal sebagai novelis Cintaku di Kampus Biru ini, di hari ulang tahunnya justru “menghilang” mengikuti seminar sehari di salah satu universitas di Yogyakarta. Ia memang tak pernah menganggap hari ulang tahunnya sebagai sesuatu yang istimewa. Berikut ini sosok Ashadi Siregar digambarkan oleh Masmimar Mangiang – wartawan yang kini Pemimpin Redaksi Harian Ekonomi Neraca, juga staf pengajar F1SIP UI. (Redaksi)

TAKHAYUL atau bukan, percaya atau tidak itu, bukanlah soal. Yang terjadi, angka 13 pernah membawa sial bagi Ashadi Siregar. Mingguan Sendi yang dia terbitkan bersama beberapa aktivis pers mahasiswa di Yogyakarta pada 1971 silam, ditutup penguasa setelah 13 kali terbit. Edisi nomor 13 itu membawa Bung Ashadi, Pemimpin Redaksi Sendi, ke Pengadil-an Negeri Yogyakarta.

Adalah editorial tentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang menjadi pencetus perka­ra ini. Di sidang pengadilan diperta­nyakan, siapa penulis tajuk tersebut, Ashadi dengan rambut gondrong sepundak pada masa itu, mempergunakan haknya untuk tidak menjawab dan mengatakan, itu menjadi tanggungjawab dia sebagai pemimpin redaksi. Manakala pemeriksaan selesai, semuanya berlalu dan ia tinggal sebagai catatan sejarah. Selain dari pelarangan terbit untuk Sendi, vonis bagi Ashadi adalah hukum-an percoban satu tahun penjara.

Vonis ini memang tak pernah membawa Ashadi ke bui. Tapi kasus Sendi tcrcatat sebagai kasus pembredelan pers yang pertama yang dilakukan Orde Baru. Ironisnya, ia terjadi pada masa angin kebebasan pers mulai a­gak berembus setelah mengalami ma­sa sulit pada masa Orla. Sendi mati sekitar tiga tahun setelah beberapa surat kabar yang diberangus Orla rnendapatban hak hidupnya kembali.

Mingguan ini dibredel di masa pers Indonesia baru mulai sedikit agak leluasa berbicara tentang restrukturi­sasi politik dan penyelenggaraan pe­milihan umum, korupsi serta penyalahgunaan kekuasaan. Hanya saja pa­da masa seperti itu pula pembelaan terhadap Sendi yang dimatikan ini, sedikit sekali diperdengarkan.

Proses Degradasi

Entah karena kasus Sendi atau bukan, entah karena pengadilan itu atau tidak – itu bukanlah soal – berbagai aspek dalam peri-kehidupan pers dan profesi kewartawanan bagi Ashadi masuk di tempat yang paling banyak diperhatikan dalam pemikirannya dan menjadi aktivitas yang cukup banyak dia kerjakan dalam mengisi ha­ri-harinya kemudian.

Kasus Sendi adalah kasus yang timbul hampir seperempat abad yang silam. Kasus ini adalah kasus penca­butan hak hidup institusi pers. Untuk hal mendapatkan hak hidup atau ke­hilangan hak hidup, dalam rentang waktu dari kasus Sendi hingga hari ini, pers Indonesia tidak pernah men­catat adanya kemajuan.

Walau ada surprise yang agak “menghibur” yang diberikan PTUN Jakarta dengan memenangkan guga­tan karyawan majalah Tempo terha­dap Menteri Penerangan – atas pembatalan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) Tempo – soal ini belum membuahkan kegembiraan. Ia belum selesai, karena masih harus menunggu proses peradilan selanjutnya.

Riwayat macam apakah riwayat kebebasan pers di Indonesia? Jawab­annya sudah sangat jelas bagi banyak orang. Para wartawan sangat paham dan punya pengalaman yang tak sedikit tentang imbauan langsung dan imbauan via telepon untuk berita (kenyataan sosial) yang tak boleh diberitakan. Para penerbit tentu punya pula catatan, berapa penerbitan pers yang mati karena bangkrut, dan berapa lagi yang lenyap karena dilarang terbit. Para pembaca pun tak keku­rangan pengalaman dalam hal kehilangan media yang disukainya sewak­tu-waktu.

Ashadi pernah menulis, “Dari tahun ke tahun sebenarnya terjadi pro­ses degradasi institusi pers. Jika pada masa awal republik, kemitraan pers dengan birokrasi dimulai dari hubungan antar individu sesamanya, ma­kin lama hubungan yang berlangsung semata-mata bersifat institusional. Berbagai macam regulasi dan ’treat­ment’ atas institusi pers menjadikan kemitraan bersifat tidak seimbang”.

Pers Indonesia mungkin memang ditakdirkan untuk selalu menghadapi berbagai masalah yang tak dapat di­katakan ringan. Belum setahun pembatalan SIUPP Tempo, DeTik, dan E­ditor berlalu sebagai persoalan yang mewakili masalah kebebasan pers, tiba-tiba suplai dan harga kertas menjadi masalah yang cukup serius bagi bisnis penerbitan. Ia membuat daftar persoalan kian panjang.

Makin panjang daftar persoalan ini, makin panjang pula catatan yang menggugat pemikiran orang seperti Asha­di. Kepeduliannya un­tuk persoal­an pers dan kewartawa­nan senan­tiasa hidup dan muncul sebagai tema berbagai tulisannya dan topik dalam ber­bagai cera­mah yang dia berikan.

Dia mengin­gatkan orang ketika menyaksi-kan nilai-­nilai mana­jemen dalam bisnis pers industri mu­lai menjadi dominan di atas nilai-nilai jurnalisme. Dia terganggu melihat warta-wan yang kemampuan teknis jurnalismenya sangat ala kadarnya dalam memeriksa persoal-an dan melayani masyarakatnya dengan infor-masi yang bernilai. Dia risau ketika menyaksi-kan mulai terganggunya moral profesi wartawan.

Hanya sedikit orang, baik sarjana ilmu komunikasi maupun wartawan itu sendiri, yang memberikan kepedu­lian pada masalah ini sampai pada taraf seperti itu. Di antara yang sedikit ini, ada sedikit lagi yang terikat pada persoalan itu begitu kuat, gelisah dan memper-soalkannya karena melihat perkem-bangannya dari waktu ke waktu. Ashadi Siregar adalah salah satunya. Obsesinya itu seakan men­dapat tempat di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerbitan Yogyakar­ta (LP3Y) yang kini dipimpin dan dikembangkannya bersama bebe-rapa kawannya yang sepemikiran.

LP3Y adalah lembaga yang menyeleng-garakan pendidikan jurnalisme, tak sebatas meningkatkan kemampuan teknis penghimpun-an bahan lapor­an dan penulisan, tapi mencoba me­mulai pelatihan itu pada penyadaran akan fungsi pers dan wartawan. Ba­rangkali LP3Y sendiri akan menam­pik jika dikatakan sudah mencoba ba­nyak berbuat untuk itu. Namun ada­lah kenyataan, lembaga ini mencoba memi-kirkan dan berbuat untuk investasi sumber daya manusia dalam dunia pers. Jika dikatakan tidak banyak yang mencoba melakukan hal yang sama – yang tidak pernah men­janjikan keuntungan material ini – a­gaknya tidaklah pula berkelebihan.

Kenapa upaya ini bisa hidup di lembaga tersebut, agaknya karena ia memang berangkat dari ide seperti itu sejak didirikan pada 1978 lalu. Tapi kenapa ide itu dapat terpelihara, itu adalah karena Ashadi.

Wartawan adalah sejarawan yang beraksi setiap saat. Dia bekerja menyingkap realitas masyara­katnya, untuk diketahui dan dihayati dengan pemikiran serta tindakan oleh masyara-katnya dalam mengisi peradaban.

Kalimat ini terlalu gagah dan agak som­bong di telinga orang yang melihat profesi jur­nalistik se­bagai pekerjaan yang hanya ”bertanya, mendengar, melihat, mencatat, dan menuliskan”.

Tapi bagi Ashadi itu bukanlah se­suatu yang sombong, karena hakikat kehadiran jurnalisme dan wartawan memang harus demikian. Jurnalisrne – setelah terlalu sering terpental-pental oleh kepentingan politik dan kepentingan bisnis – agaknya me­mang harus dikembalikan ke tempat semula. Ikhtiar yang dilakukan Ashadi dalam mengingatkan orang dan mencoba menegakkan martabat pers serta profesi kewartawanan itu terkadang bagaikan kano kecil yang dikayuh melawan arus. Tapi jika kano itu tidak ada, kita mungkin telah hanyut terlalu jauh.

Ashadi Siregar lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Dia tamat dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UGM, kemudian jadi pegawai negeri, mengajar di sana. Dia sudah menjadi “orang Yogya”. Bersama istri­nya, Helga Korda – lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia – dia punya dua anak laki-laki, Banua (13) dan Mesa (9). Keluarga ini tinggal di perumahan Minomartani, Yogyakarta bagian utara.

Di luar keluarganya, Ashadi sebe­narnya punya beberapa dunia. Du­nianya yang pertama (penomoran ini tidak menunjukkan urutan prioritas) adalah kampus. Sebagai doktorandus ilmu komunasi tidak pernah terde­ngar ada niat dia untuk menempuh pendidikan S2 atau keinginan untuk menjadi doktor. Dunianya yang kedua adalah jurnalisme. Dunia berikutnya adalah sastra. Novelnya, yang membuat namanya dikenal lebih luas ada­Iah Cintaku di Kampus Biru, Kuga­pai Cintamu, Terminal Cinta Terakhir, Frustrasi Puncak Gunung dan Jentera Lepas.

Rambutnya kini tak lagi gondrong seperti ketika dia bersama para seniman Yogya bergentayangan di Ma­lioboro. Rokok pun sudah ditinggal­kan. Bir? Sekali-kali, ala kadarnya. Perawakannya biasa saja. Tapi mung­kin lebih cocok kalau dia disebut kerempeng. Tubuhnya tak berlemak seperti orang yang berkelebihan menikmati berkat pembangunan. Cara berjalan-nya sama sekali tidak gagah. Kacamatanya tebal. Kalau berbicara aksen Siantarnya masih terdengar, tipis. Dia bisa kocak jika dia rasa enak untuk kocak, tapi bisa ketus, di mana perlu. Dia tidak pandai mengukur ni­lai kerja dirinya dengan duit. Mungkin anak pegawai negeri ini tidak barbakat dagang. Kalau itu kelemahan, itu mungkin takdir baginya. Jika itu kekuatan, sikap seperti itulah yang membuat, dia tak pernah menjual diri.

Kemarin, 3 Juli 1995, usia Bung Ashadi 50 tahun. Banyak orang, konon, pada usia setengah abad itu mencoba melihat ke belakang ke jalan yang pernah dia lalui. Jika Bung Ashadi juga melakukan itu, dia akan melihat hampir separo dari usianya yang dia jalani sebagai orang yang amat peduli dengan kehidupan pers dan dunia profesi kewartawanan.

Besok mungkin dia masih berada di jalan itu, dan pers Indonesia yang besok itu, boleh jadi pers Indonesia yang masih merisaukan alam pemikirannya. ***

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 722 pengikut lainnya.